Perjalanan spiritual bukanlah tentang mencapai sesuatu yang baru, tetapi tentang menyadari sesuatu yang telah ada sejak awal.
(KH. Ulil Abshar Abdalla)
Arina.id - Dalam lanjutan kajian Ngaji Jawahirul Qur’an oleh KH. Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil), pada Pasanan Edisi Ramadan 1446 H, membahas bagian kedua dari kategori ayat-ayat yang disebut Al-Usul atau As-Sawabiq. Jika pada bagian pertama tema utama ayat-ayat ini adalah mengenalkan Allah Ta’ala—baik dari segi zat, sifat, maupun perbuatan-Nya—maka bagian kedua berfokus pada bagaimana manusia dapat menempuh jalan menuju Allah, atau yang disebut dengan suluk ilallah [سلوك إلى الله تعالى].
Ayat-ayat dalam kategori ini memberikan bimbingan mengenai cara beribadah, mendekatkan diri, dan mengarahkan hati sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. “Bagian kedua dari tema ayat-ayat Al-Usul adalah pengenalan tentang jalan menuju Allah, atau suluk kepada-Nya. Inilah tema pokok kedua dalam Al-Qur’an, yang termasuk dalam kategori ayat-ayat As-Sawabiq wal Usul (ayat-ayat fondasional),” kata Gus Ulil dikutip dari kanal Youtube Ghazalia College, Rabu [13/3/2025].
Lebih lanjut, Gus Ulil menjelaskan suluk kepada Allah dilakukan melalui Tabattul, yakni kembali kepada Allah dan berjalan menuju-Nya dengan cara yang benar. Menurutnya, konsep tabattul yang dalam bahasa pesantren Jawa dikenal dengan jungkung, berarti melakukan sesuatu dengan penuh fokus tanpa teralihkan oleh hal-hal lain.
Konsep ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Muzzammil: 8:
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًاۗ ٨
Artinya: "Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati."
Menurut Imam Ghazali, sebagaimana dijelaskan Gus Ulil, maksud ayat adalah untuk mengingatkan agar umat Islam berfokus sepenuhnya kepada Allah dengan kesungguhan. Artinya, ini menegaskan bahwa dalam menjalani suluk, seseorang harus memiliki tekad dan perhatian penuh hanya kepada Allah, tanpa distraksi dari duniawi yang melalaikan.
“Jungkung-lah (hadapkanlah dirimu) kepada Allah dengan sungguh-sungguh! Seriuslah engkau dalam menghadap kepada-Nya dengan penuh fokus dan ketulusan!,” tambah Gus Ulil.
Lalu, bagaimana caranya agar kita totalitas menghadap Allah [tabattul]? Kata Imam Ghazali, hal ini dapat dicapai dengan sikap inqitha’—memutus diri dari selain Allah dan mengarahkan hati sepenuhnya kepada Allah SWT. Dalam penjelasan ini, tabattul berarti berfokus hanya kepada Allah dengan cara memutuskan diri dari segala sesuatu yang bukan Dia (inqit). Fokus ini terwujud dalam bentuk ibadah dan penghambaan yang sepenuhnya tertuju kepada Allah, tanpa tergoda oleh hal-hal lain.
Sikap ini tidak hanya berarti meninggalkan hal-hal duniawi dalam arti fisik, tetapi lebih kepada keadaan batin yang tidak terikat oleh selain Allah. Iqbal atau menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah adalah inti dari perjalanan suluk. Dalam konteks ini, seseorang tidak hanya sekadar beribadah secara ritual, tetapi juga menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam hidupnya.
Selanjutnya, di kitab Jawahirul Qur’an [Dar Ihya Ulum; Beirut], halaman 28, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa manifestasi nyata dari tabattul dan inqitha’ adalah dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Muzzammil ayat 9:
رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيْلًا ٩
Artinya: "(Allah) adalah Tuhan timur dan barat. Tidak ada Tuhan selain Dia. Maka, jadikanlah Dia sebagai pelindung."
Lebih jauh lagi, Imam Al-Ghazali, kata Gus Ulil menjelaskan bahwa jalan menuju Allah hanya terdiri dari dua perkara utama: al-mulāzamah dan al-mukhālafah. Al-mulāzamah berarti terus-menerus mengingat Allah, sedangkan al-mukhālafah berarti melawan hawa nafsu. Inilah kunci utama dalam perjalanan spiritual (sulūk) seorang hamba menuju Allah. Namun, meskipun konsep ini terdengar sederhana, praktiknya tidaklah mudah.
Suluk bukan sekadar konsep intelektual, melainkan komitmen nyata untuk senantiasa dalam komunikasi dengan Allah (mulāzamah) dan menghindari segala sesuatu yang menjauhkan diri dari-Nya (mukhālafah). Al-mulāzamah menuntut seseorang untuk selalu berdzikir dan mengingat Allah dalam setiap keadaan, sementara al-mukhālafah mengharuskan seseorang melawan godaan duniawi yang dapat mengalihkan fokusnya dari Allah.
Menurut Imam Al-Ghazali, kata Gus Ulil, perjalanan menuju Allah ini tidak melibatkan gerakan fisik seperti bepergian menggunakan kendaraan. Sebaliknya, perjalanan ini adalah silent journey, perjalanan diam, di mana tidak ada gerak fisik, melainkan gerakan spiritual dalam hati dan jiwa. Baik hamba maupun Allah tidak bergerak secara fisik menuju satu sama lain karena pada hakikatnya Allah sudah dekat dengan hamba-Nya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia lebih dekat kepada hamba-Nya dibandingkan urat lehernya. Ini menunjukkan bahwa perjalanan spiritual bukan tentang mendekati Allah dalam arti fisik, tetapi tentang menyadari kedekatan-Nya yang sudah ada sejak awal. Suluk bukanlah tentang menempuh jarak, melainkan tentang membersihkan diri agar bisa merasakan kehadiran-Nya dengan lebih jelas.
Seorang hamba diibaratkan sebagai cermin, sedangkan Allah adalah gambar yang seharusnya tampak jelas di dalamnya
Lebih lanjut, Imam Al-Ghazali memberikan analogi hubungan antara hamba dan Allah seperti cermin dan gambar di dalamnya. Seorang hamba diibaratkan sebagai cermin, sedangkan Allah adalah gambar yang seharusnya tampak jelas di dalamnya. Namun, jika cermin tersebut kotor atau berkarat, maka gambar tidak akan terlihat. Demikian pula, jika hati seorang hamba dipenuhi dengan dosa dan kelalaian, ia tidak akan mampu menyaksikan kehadiran Allah.
Untuk dapat melihat refleksi gambar dalam cermin, seseorang harus membersihkannya dari kotoran. Demikian pula, seorang hamba harus membersihkan hatinya dari segala noda duniawi agar cahaya Allah dapat tampak dalam dirinya. Allah tidak pernah menjauh atau bersembunyi dari manusia, tetapi manusia sendiri yang menutupi dirinya dari Allah dengan kotoran dosa dan kelalaian.
Analogi lainnya adalah hubungan antara mata dan cahaya. Cahaya selalu ada, tetapi seseorang tidak dapat melihatnya jika matanya tertutup oleh sesuatu atau jika matanya terlalu lemah untuk menahan pancaran cahaya yang terang. Begitu pula, manusia tidak dapat menyaksikan cahaya Allah karena hatinya tertutup oleh kotoran duniawi atau karena kelemahan spiritualnya yang tidak mampu menangkap kehadiran-Nya.
Dua hal yang menghalangi manusia dari melihat cahaya Allah adalah kotoran dalam hati dan kelemahan spiritual. Jika hati seseorang dipenuhi dengan noda dosa dan kemaksiatan, maka ia akan kesulitan merasakan kehadiran Allah. Selain itu, jika jiwanya lemah dan tidak memiliki kesiapan spiritual, maka ia juga tidak akan mampu menanggung cahaya ilahi yang begitu cemerlang.
Satu-satunya solusi bagi manusia agar dapat merasakan kehadiran Allah adalah dengan terus membersihkan hatinya dari kotoran dosa dan memperkuat spiritualitasnya. Dengan demikian, cahaya Allah akan semakin tampak dalam dirinya, seperti gambar yang semakin jelas terlihat dalam cermin yang telah dibersihkan.
Ketika seseorang telah membersihkan hatinya, ia akan mulai menyaksikan cahaya Allah dalam dirinya. Namun, hal ini bukan berarti Allah mendekat kepadanya, melainkan karena dirinya sendiri yang telah menghilangkan hijab yang selama ini menghalangi pandangannya terhadap kehadiran Allah.
Perjalanan spiritual ini bukanlah tentang mencapai sesuatu yang baru, tetapi tentang menyadari sesuatu yang telah ada sejak awal. Allah tidak pernah berjarak dengan hamba-Nya, tetapi manusia sering kali menutupi dirinya sendiri dari kesadaran akan kehadiran-Nya. Oleh karena itu, suluk adalah upaya untuk menghilangkan hijab tersebut agar hubungan dengan Allah menjadi lebih nyata.
Dengan memahami konsep mulāzamah dan mukhālafah, serta mengamalkan keduanya secara konsisten, seorang hamba dapat menempuh perjalanan spiritual yang sejati. Suluk bukanlah perjalanan menuju sesuatu yang jauh, tetapi perjalanan untuk menyadari bahwa Allah selalu dekat. Yang dibutuhkan hanyalah membersihkan diri agar bisa merasakan kehadiran Allah dengan lebih jelas. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor:


