Kita Lebih Cepat, tapi Apakah Lebih Bijak?

Kita Lebih Cepat, tapi Apakah Lebih Bijak?

"Ah, orang-orang anak zaman sekarang, sudah biasa memandang tanpa melihat,” keluh Pak Finniston. “Kau harus memperhatikan pintu itu! Harus kau rasakan! Perhatikan pengetuk besar yang tergantung di situ. Bayangkan orang-orang Norman, yang pada zaman dulu mengetuk pintu dengan alat itu."

Penggalan paragraf di atas diambil dari novel Lima Sekawan, Memperjuangkan Harta Finniston (GM, 2018). Buku ini pertama kali terbit tahun 1960. Mengisahkan petualangan empat orang anak: Julian, Dick, George, dan Anne, di Finniston Farm. Penjelajahan terasa seru karena melibatkan hewan, perseteruan orang Amerika dan Inggris, obrolan sejarah, hingga pembentukan keluarga.

Enid Blyton, sang penulis, mengkritik cara pandang generasi muda yang terburu-buru, tanpa pemaknaan, dan abai pada keadaan sekitar. Lewat suara Pak Finniston, Enid seolah mengajak pembaca untuk sejenak berhenti dari rutinitas mekanik yang sering berlalu tanpa proses pengamatan.

Pak Finniston memberitahukan pada anak-anak agar memandang sesuatu tak sekadar berhenti pada penglihatan (mata). Pelibatan rasa, imajinasi, dan pertanyaan, mesti ikut dihadirkan agar bisa merasakan arti dibaliknya. Proses ini diperlukan untuk menumbuhkan rasa memiliki, kebanggaan, dan terhubung dengan sejarah masa lalu.

Mungkin, jika Enid masih bisa menulis, tentu kritiknya akan lebih tajam. Situasi tahun 2025 saat ini berkali lipat lebih cepat dari 1960, tahun ketika novel itu dibuat. Masyarakat masa kini hidup dalam bayang-bayang revolusi teknologi yang menuntut kecepatan berlipat dari masa revolusi industri. Dampaknya sangat terasa pada cara berpikir, cara berinteraksi dengan orang sekitar, dan cara menjalani hidup.

Enid mesti tahu, saat ini sampai pada taraf memandang saja, tidak sampai memperhatikan, sudah bisa disebut keren. Perangkat teknologi menarik mata penggunanya untuk mempersempit penglihatan. Di sekitar mungkin ada beragam benda dan makhluk hidup lain, tapi pandangan manusia dikontrol untuk melihat hanya satu titik, yaitu pada layar gawai.

Teknologi memang menghadirkan banyak kemudahan, tapi juga setumpuk bahaya. Mungkin, Anda akan berpikir saya terlalu paranoid atau memuja masa lalu. Tidak. Seiring bertambahnya usia, melawan keyakinan yang terus merayap bahwa masa lalu lebih baik adalah keniscayaan.

Tapi mau tidak mau memang mesti diakui, beberapa bagian cara hidup orang-orang dulu memang lebih baik. Ada begitu banyak pelibatan gerak, perenungan, dan interaksi secara langsung yang menghuni masa itu. Hal yang kian hilang di era saat ini yang perlahan habis digerogoti dunia virtual.

Saya tidak berhak menentukan bagaimana seseorang seharusnya menghabiskan waktu atau bersikap pada suatu hal. Namun, sebagai bagian dari masyarakat global, saya ingin menuliskan keresahan tentang perubahan cara hidup masa kini yang terjadi karena imbas teknologi.

 

Salah satu dampak utama adalah tergerusnya interaksi sosial langsung akibat dominasi komunikasi digital. Ketergantungan manusia pada media sosial dan perangkat elektronik sukses mengurangi kualitas hubungan antar manusia. Tingkat isolasi sosial dan risiko gangguan kesehatan mental makin meningkat sepanjang waktu.

Otomatisasi dan AI juga mulai menggantikan banyak pekerjaan manusia. Kecanggihan ini menciptakan ketimpangan ekonomi antara kelompok yang memiliki akses teknologi dan yang tidak. Dari sisi lingkungan, produksi dan pembuangan perangkat teknologi berdampak pada polusi elektronik dan eksploitasi sumber daya alam.

Landasan dari analisis ini dapat ditemukan dalam teori teknologi kritis yang dikemukakan oleh Andrew Feenberg, yang menyoroti bahwa teknologi bukanlah netral, melainkan mencerminkan dan memperkuat struktur kekuasaan dalam masyarakat.

 

Kecepatan dan kemudahan yang mengelilingi hidup manusia juga memicu pola pikir instan yang mengurangi kesabaran dan ketekunan. Kemampuan berpikir mendalam dan reflektif kian sulit ditemukan. Fenomena brain road—penurunan fungsi kognitif akibat paparan internet berlebihan— juga terjadi. Akibatnya, konsentrasi melemah, daya ingat menurun, dan proses belajar menjadi dangkal.

Saya setuju dengan pendapat yang diajukan Tom Nichols dalam bukunya Matinya Kepakaran (KPG,2018). Teknologi tanpa diimbangi kesiapan individu dalam penggunaannya melahirkan banyak kekacauan dalam cara berpikir: “Pengguna internet telah menciptakan banyak hukum menarik untuk menggambarkan distraksi di dunia elektronik… Pandangan pengguna internet yang biasanya berakar kuat dan tidak dapat diubah adalah landasan Hukum Pommer, yaitu internet hanya dapat mengubah pikiran seseorang dari “tidak memiliki pendapat” menjadi “memiliki pendapat yang salah."

Pada akhirnya, beberapa cara hidup masa lalu justru terasa semakin relevan untuk diterapkan di era modern yang serba cepat, instan dan konsumtif ini. Misalnya, prinsip bertanam sendiri atau urban farming, gotong royong, menunda kepuasan—seperti menabung, membuat sendiri barang kebutuhan, atau menjalani proses belajar yang bertahap—bisa menjadi salah satu pilihan.  Kita akan belajar untuk bersabar, menunda, dan berinteraksi secara langsung.

Di ruang pendidikan, pendekatan belajar yang dulu menekankan pada proses, kesabaran, dan kedalaman juga menjadi metode yang sepertinya tepat untuk dilakukan saat ini. Nilai-nilai seperti kontemplasi, pengendalian diri, dan melestarikan pengetahuan, bisa menjadi pilihan di tengah dampak teknologi yang menggiring manusia menjadi seragam dan kian menuju kedangkalan. 
 


Editor:
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo