Sepak Bola dalam Puisi dan Novel

Sepak Bola dalam Puisi dan Novel

Malam itu sepak bola. Anak-anak di seantero Indonesia mungkin sempat belajar atau makan. Mereka pun berhak mengistimewakan malam dengan menonton pertandingan sepak bola di televisi, Selasa, 19 November 2024. Waktu pertandingan belum terlalu malam bagi anak-anak berada di depan televisi untuk berdoa, berteriak, dan bertepuk tangan.

Mereka ingin Indonesia menang atau mengalahkan Arab Saudi. Indonesia wajib menang! Anak-anak terpengaruh dengan omongan para pembaca berita dan komentator. Kemenangan itu dinantikan lama. Duduk di depan televisi, anak-anak mulai berusaha fasih mengucap nama-nama pemain dalam tim nasional (Indonesia). Nama-nama aneh. Sekian nama berhasil diucapkan dan diingat. Anak-anak mengetahui sosok-sosok itu berbeda atau istimewa. Para pemain itu menggalami hidup di negara-negara jauh (Eropa) sebelum menjadi warga negara Indonesia.

Kebingungan anak-anak bertambah saat mengetahui para pemain tak berbahasa Indonesia. Mereka omong menggunakan bahasa asing. Penjelasan diperlukan agar anak-anak memahami 'kedatangan' mereka untuk menjadikan Indonesia terhormat dalam sepak bola Asia atau dunia. Pada saat mendapat bingung-bingung, lakon menjadi anak-anak di Indonesia bermunculan. Kegemaran bermain sepak bola di jalan, kebun, atau pekarangan memberi hiburan bagi anak-anak meski tak wajib bermimpi kelak menjadi pemain dalam tim nasional. Sepa bola itu permainan dan hiburan, sebelum menjadi urusan serius melibatkan presiden, menteri, pengusaha, dan lain-lain.

Indonesia berhasil menang! Anak-anak bersukacita sebelum tidur. Esok hari, mereka bakal bertemu teman-teman di sekolah: berbagi cerita bertema sepak bola. Mereka ingin segera bermain sepak bola. Sekian anak memiliki kesaksian perubahan sepak bola di Indonesia. Mereka mungkin menginginkan cerita agar sepak bola selalu meriah sepanjang masa.

Pada masa lalu, ada anak sengaja mendokumentasi sepak bola dalam puisi. Anak itu bernama Chusnul Amita. Puisi Sepak Bola dimuat dalam majalah Zaman, 29 Agustus 1982. Puisi sederhana terbaca: Dengan nama Tuhan,/ kubuka lembaran-lembaran koran// Satu, dua, tiga!// Haa! Ini dia…/ “Kesebelasan ini berhasil menundukkan/ kesebelasan itu dua-satu// Horeee!// Terimakasih, Tuhan. Puisi itu tercatat sebagai bukti keakraban anak-anak dengan sepak bola. Mereka bisa menjadi pemain, penonton, atau pengisah. Puisi lama menjadikan kesusastraan Indonesia bertema sepak bola di sidang pembaca anak-anak.

Sepak bola pun terkandung dalam biografi AA Navis (1924-2003), pengarang kondang di Indonesia. Ia mengenang saat bocah: “Saya suka sepak bola sejak kecil. Bola yang dipakai, kalau tidak bola getah yang bola limau (jeruk Bali). Sering dalam permainan sepak bola, kaki atau tulang kering saya bengkak-bengkak, tetapi main sepakbola terus.” Navis (1994) suka sepak bola tapi tak menjanjikan diri bakal menjai pemain atau pengamat. Pada masa dewasa, ia malah rajin menggubah cerita pendek dan novel. Sepak bola bukan tema utama.

Kita menemukan sepak bola sebagai 'pokok' cerita terdapat dalam novel berjudul Radja Bola (1972) gubahan Min Resmana. Novel bisa dicetak ulang dan beredar di sekolah-sekolah. Anak-anak di seantero Indonesia bakal suka dengan cerita mengenai sepak bola masa silam berlatar desa.

Adegan menggembirakan tersaji saat pak guru mengumpulkan murid-murid kelas 5 dan 6 SD. Ia berkata: “Begini anak-anak. hari ini kamu sengadja ditempatkan dalam satu kelas sebab bapak akan mengumumkan sesuatu kepada kamu semua. Beberapa hari jang lalu bapak memarahi kamu semua krena telah berani bermain sepak bola di halaman jang sempit itu sehingga beberapa buah genting rumah Bu hadji petjah karenanja. Kalia tahu untuk beberapa hari lamanja, bola kepunjaan sekolah ditahan Bu Hadji karena marahnja. Baru setelah bapak datang kepadanja dan berdjandji tidak akan mengidjinkan kalian main sepak bola dihalaman sekolah, bola itu diberikan kembali.”

Permainan seru berdampak 'buruk'. Anak-anak tetap saja bermain sepak bola dengan memilih tempat-tempat berbeda. Gairah tak pernah pudar. Berlari dan menendang bola itu kemauan anak-anak. Keringat mengucur deras dan pakaiaj kotor bukan penghalang.

Guru mengumumkan bakal membentuk tim sepak bola. Pihak sekolah ingin turut dalam pertandingan diadakan di kecamata. Pertandingan untuk murid-murid SD. Guru menganjurkan murid-murid rajin berlatih dan belajar peraturan sepak bola. Di desa, pengetahuan mereka memang sedikit tapi guru perlahan memberi petunjuk-petunjuk. Sepak bola belum terlalu dipikirkan untuk pertandingan meraih piala. Semula, sepak bola itu permainan.

Anak-anak keranjingan bermain sepak bola, tak lupa belajar beragam mata pelajaran. Pada waktu longgar atau sepulang sekolah, hasrat bermain sepak bola terus membesar. Min Resmana mengisahkan peristiwa siang hari: "Setiba di sawah Pak Danu, mereka tidak membuang-buang waktu. Dodo memasang tiang gawang dari pagar. Di atasnja ditumpukkan badju kawan-kawannja. Beberapa orang mulai menendang bola kadang-kadang disertai teriak penuh kegembiraan.” Kita berimajinasi anak-anak itu tak bermasalah dengan sinar matahari. Mereka mengerti kondisi sawah. Bermain tak bisa ditunda atau dibatalkan.

Novel itu mengisahkan anak-anak di desa. Mereka memiliki masalah dalam pilihan tempat, jenis bola, dan sepatu. Sepak bola tetap menjadi kegemaran meski mengandung pertengkaran, tangisan, dan luka. Novel berakhir bahagia. Murid-murid itu meraih kemenangan. Kita mengerti rasa kemenangan di kecamatan. Mereka bukan bertanding untuk taraf Asia atau dunia.

Pada 2024, kesusastraan Indonesia bertambag ramai dengan penerbitan novel berjudul Bek gubaha Mahfud Ikhwan. Novel berjak dicetak dalam jumlah jutaan eksemplar oleh pemerintah bila menginginkan pesta imajinasi sepak bola dimiliki anak-anak di seantero Indonesia. Novel memang bukan diarahkan sebagai bacaan anak tapi ketokohan anak memberi 'panggilan' memajukan sepak bola di Indonesia dimulai dari desa.

Biografi bocah dibentuk sepak bola: lapangan dan pertandingan. Bocah di desa dengan pelbagai keterbatasan dan mimpi besar. Pengarang menguak kenangan tokoh: “Di pinggir lapangan, seorang bocah yang belum lagi masuk usia kelimanya, yang terlihat sedikit kalut karena hampir terinjak orang-orang keranjingan dan tengah dilupakan bapaknya yang ikut keranjingan, juga tengah membuat catatatnnya sendiri. Tentu dengan kepalanya yang kecil dan ingatannya yang masih lamat. Ingatan atas pertandingan itu meski dengan renik-renik yang kabur, yang mesti diperbarui, kadang ditambah-tambahi, selalu menjadi mula dari setiap kenangan bocah itu atas lapangan tersebut, juga atas sepak bola.” Pada tahun-tahun lanjutan, ia keranjingan bermain sepak bola. Ia mengerti sepak bola membentuk biografi sampai dewasa dan meninggalkan desa.

Kenangan beralamat di desa, menampilkan adegan permainan dan pertandingan. Novel itu mengajak pembaca menikmati pertandingan tak selalu berada di pinggir lapangan atau duduk di depan kotak televisi. Mahfud Ikhwan menarik pembaca mundur ke masa lalu: “Hal pertama yang bisa kuingat tentang sepak bola adalah saat aku, suatu sore, melihat bapak duduk khusyuk tak bergerak di kursi rotan di ruang tamu. Menyandar agak rendah di punggung kursi, pundak bapak disejajarkan dengan radio yang diletakkan di meja di sampingnya, dengan kuping yang dimiringkan…” Adegan mendengarkan siaran pandangan mata untuk pertandingan sepak bola. Dulu, para pendengar tergoda berimajinasi tempat, gerakan para pemain, dan situasi dalam “drama” sepak bola.

Kita masih bergembira dengan kemenangan Indonesia. Gembira bisa digenapi dengann perhatian atas suguhan teks-teks sastra mengenai sepak bola, dari masa ke masa. Satu puisi dan dua novel belum memadai bagi kita dalam selebrasi imajinasi sepak bola di Indonesia. Kita menanti bila ada lomba pengisahan sepak bola (puisi atau cerita pendek) untuk murid-murid (SD, SMP, SMA) di seantero Indonesia. Sepak bola itu (permainan) imajinasi dan kemuliaan Indonesia. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor:
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo