Dulu, Arswendo Atmowiloto terkenal dengan buku tipis dan laris: Mengarang Itu Gampang (1983). Ia tak menulis buku berjudul Mengejek Itu Gampang. Sejak awal kemunculan dalam kesusastraan Indonesia, ia biasa menampilkan kelucuan-kelucuan atau keberanian “mengejek” diri. Orang-orang mengingat Canting dan Keluarga Cemara.
Sekian hari setelah pamit dari dunia, orang-orang terkasih berhasil menemukan dan merawat tulisan-tulisan warisan Arswendo Atmowiloto. Sekian tulisan terbit menjadi buku berjudul Bersyukur Tanpa Libur (2020). Buku menguak biografi pengarang dengan segala suka dan duka.
Pembuka cerita justru anjing. Ia mengisahkan hubungan diri dan anjing. Di rumah, ada sekian anjing menimbulkan kerepotan dan kegirangan. Asrwendo Atmowiloto mengisahkan anjing-anjing dengan beragam sebutan. Ia berbagi cerita tentang anjing: "Ada yang nakal, saya beri nama Gebli. Gebli dari kata goblok banget, atau bahasa Jawanya geblek. Lalu, berubah menjadi Gebli. Sedemikian bodoh karena kegemarannya menggigit apa saja. Yang paling sering kain gorden, kursi, dan segala benda yang terjangkau giginya."
Pengarang itu kerepotan dan bingung mengurusi Gebli. Anjing tak dibuang, tetap dipelihara dengan kerumitan. Gebli mungkin gagal mengerti dunia: “Sayang, usianya tak panjang. Sehabis berlarian, tahu-tahu ia meninggal. Mungkin sakit jantung. Saya makamkan di belakang rumah, dasi saya pakaikan, sebagai tanda kehormatan.” Kita membaca mungkin tertawa. Arswendo Atmowiloto bukan bermaksud mencipta lelucon tapi penghormatan. Anjing itu pamit dari dunia dengan berdasi. Anjing meski “goblok” tetap terhormat.
Kita ingan sosok pengarang itu biasa omong ceplas-ceplos dan tertawa. Dulu, ia rajin menggubah cerita pendek dan novel meski memiliki kesibukan mengurusi beragam majalah dan tabloid. Pada suatu masa, ia masuk penjara. Di tempat hukuman, ia tetap keranjingan bercerita. Sosok tak lupa berdoa dan tertawa meski tak menggampangkan mengucap “goblok”. Ia mengingatkan kita mengenai siasat memberi kasih kepada anjing tapi menanggung kesusahan-kesusahan.
Kita beralih ke usaha memberantas kebodohan dan mengenali tikus. F Rahardi (1991) menggubah puisi berjudul Pelajaran Biologi. Judul mengesankan kegiatan belajar di kelas. Konon, pelajaran-pelajaran diberikan kepada murid-murid agar pintar. Usaha besar berpijak kurikulum dan nasib. Semua murid jarang terjanjikan pintar. Di kelas, ada murid bernasib “bodoh”. Di puisi, F Rahardi tak sedang membedakan murid pintar atau bodoh (goblok). Ia justru sedang memberi pelajaran kepada pembaca melalui biologi.
Tokoh guru bersuara dalam pengajaran: Anak-anak/ tikus termasuk hama/ yang sangat merugikan manusia/ baik di rumah/ di kantor/ di sawah maupun di ladang// hewan ini mau makan apa saja/ selain merugikan sebagai hama/ tikus juga dapat menularkan penyakit/ antara lain penyakit pes// Tikus dapat berkembangbiak/ dengan cepat sekali/ masa birahinya berlangsung sepanjang waktu. Murid-murid mengira tikus itu hewan “pintar”. Hewan mudah dan berani mendapat beragam makanan meski merugikan pihak-pihak lain.
Tikus belum dipastikan hewan “pintar” jika kita berlanjut ke bait-bait diberikan F Rahardi: bu guru akan bertanya/ apa beda tikus jantang dan tikus betina/ coba kamu Wawan// Tikus jantan bertitit/ tikus betina tidak, buk// Lo, itu jorok, Wawan/ coba kamu Budi// Tikus jantan tidak dapat melahirkan/ tikus betina dapat melahirkan, bu. Guru menanti jawaban-jawaban murid bukan untuk memastikan mereka pintar atau mengucap “bodoh”. Pembaca dapat berusaha mengerti dari kemampuan dua murid menjawab tentang tikus.
Kesulitan dialami murid bernama Lastri: sekarang coba jelaskan/ mengapa tikus suka mencuri/ coba sekarang kamu Lastri// Karena ditunggu lama sekali/ Lastri diam saja/ anak-anak serentak menjawab// Memang sudah diatur/ dari sononya, bu// Betul-betul/ sekarang coba sebutkan/ perbedaan tikus berdasi/ dan tikus yang tidak berdasi. Kita bertemu lagi masalah binatang berdasi. Arswendo Atmowiloto bercerita anjing berdasi tanpa berkaitan politik atau birokrasi. F Rahardi menantang murid-murid menjawab masalah tikus berdasi dalam pelajaran biologi dan pengalaman menjadi warga di Indonesia. Murid-murid berusaha menjawab agar tak dianggap bodoh.
Kini, kita masuk dalam pengakuan dan renungan dibuat Emha Ainun Nadjib dalam buku berjudul Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu (2000). Pengarang itu sambat kepada ibu: “Namun, anak-anakmu turut bertanggung jawab apabila orang mengatakan: ilmu pengetahuan semakin tinggi, manusia semakin pandai. Tapi itu tak harus berarti bahwa kehidupan semakin sehat dan permai. Aneh, Bu, kepandaian seolah-olah merupakan suatu dosa ketika dengan ke-makin-pandai-an itu manusia tidak dengan sendirinya mampu membengkeli kehidupan ini untuk menjadi kendaraan sejarah yang lebih nyaman bagi penumpang-penumpangnya. Satu-satunya yang bisa meringankan tanggung jawab ialah kenyataan bahwa anak-anakmu tak semakin ikut pandai, meskipun bisa dikemukakan bahwa sikap ilmu pengetahuan yang kini makin tinggi itu terlepas atau melepaskan diri dari kewenangan soal kesehatan kehidupan masyarakat, kepermaian, dan kebaikannya."
Para pembaca diajak agar tak tergesa menjadi pintar atau pandai. Peringatan diberikan Emha Ainun Nadjib tentang “pandai” bisa menjadi “dosa”. Ia pun tak menjelaskan “bodoh” bukan “dosa”. Di hadapan tulisan mengandung diksi “ilmu” dan “pandai”, kita malah mendapat gugatan dan keinsafan. Kepandaian belum menjamin kesanggupan mencipta bahagia bersama. Di Indonesia, orang-orang biasa menganggap “pandai” digunakan untuk “mengakali” dan “menghina” demi raihan kekuasaan atau keberlimpahan harta. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


