Piala Dunia selalu menyimpan dua jenis sejarah. Yang pertama berdiri di podium, mengangkat trofi, mencium medali, lalu masuk ke daftar juara. Yang kedua berjalan lebih pelan. Ia pulang dengan wajah tertunduk, duduk lama di ruang ganti, mengingat satu peluang yang hilang, satu penalti yang melambung, satu keputusan pelatih yang terlambat, atau satu generasi emas yang tidak sempat menyentuh piala. Anehnya, sejarah kedua inilah yang sering tinggal lebih lama dalam ingatan.
Sepak bola memang punya cara yang ganjil dalam merawat masa lampau. Ia mencatat pemenang di buku statistik, tetapi menyimpan pihak yang kalah di ruang emosi publik. Kita tahu Brasil juara pada 1970, Jerman Barat pada 1974, Italia pada 1982, Brasil pada 1994, Jerman pada 2014, Prancis pada 2018, dan Argentina pada 2022. Namun dengan rasa yang berbeda, kita juga terus mengingat Belanda 1974, Brasil 1982, Roberto Baggio 1994, Brasil 2014, Kroasia 2018, Maroko 2022, dan Mbappé 2022. Mereka kalah, tetapi tidak benar-benar pergi.
Sejarawan Clemente A. Lisi, dalam The FIFA World Cup: A history of the planet’s biggest sporting event (Rowman & Littlefield), menulis sejarah Piala Dunia sebagai sejarah pertandingan, tokoh, politik, dan emosi. Ia memperlihatkan bahwa turnamen ini tidak pernah bergerak hanya sebagai daftar skor. Piala Dunia bekerja seperti mesin ingatan. Ia mengikat keluarga, kota, bangsa, pemain, dan penonton dalam pengalaman yang kembali setiap empat tahun.
Di turnamen sebesar ini, kemenangan memang memberi kuasa. Akan tetapi, kekalahan sering memberi arti. Kemenangan menutup cerita. Kekalahan justru membuka tafsir baru.
Maracanazo dan Luka yang Mengganti Warna Baju
Brasil sejak lama memahami bahwa kekalahan bisa berubah menjadi warisan nasional. Pada 1950, mereka hanya membutuhkan hasil imbang melawan Uruguay di Maracanã untuk menjadi juara dunia. Stadion besar itu menampung harapan satu negara. Pemerintah, media, dan publik sudah bersiap menyambut pesta. Uruguay datang sebagai tetangga kecil yang hampir tidak diberi tempat dalam naskah kemenangan itu.
Lalu Uruguay menang 2-1. Alcides Ghiggia mencetak gol yang membuat Maracanã membisu. Lisi mencatat bahwa warga Brasil menangis secara terbuka setelah pertandingan itu. Ia juga menulis bahwa Moacir Barbosa, kiper Brasil, menanggung beban kekalahan selama puluhan tahun. Setiap 16 Juli, Barbosa bahkan melepas sambungan telepon karena orang-orang masih menghubunginya untuk bertanya mengapa Brasil kalah (Lisi, 2022, hlm. 45-46).
Kekalahan itu kemudian mengubah tanda visual sepak bola Brasil. Tim nasional Brasil meninggalkan kaus putih yang mereka pakai pada 1950. Mereka beralih ke warna kuning yang kelak menjadi identitas paling terkenal dalam sepak bola dunia. Di sinilah kekalahan bekerja jauh melampaui hasil pertandingan. Ia masuk ke desain, warna, mitos, dan cara sebuah bangsa melihat dirinya sendiri.
Pelajaran dari Maracanazo terasa semenjana, tetapi berat. Sebuah bangsa bisa menang berkali-kali setelah satu kekalahan besar, tetapi kekalahan pertama yang menyentuh harga diri nasional silang selimpat benar-benar hilang. Brasil kemudian melahirkan Pelé, Garrincha, Romário, Ronaldo, Ronaldinho, dan Neymar. Mereka mengoleksi lima gelar dunia. Namun Maracanazo tetap hidup sebagai nama untuk trauma yang tidak selesai.
Kemenangan Uruguay masuk ke statistik. Kekalahan Brasil masuk ke psikologi nasional.
Hungaria 1954 dan Harga dari Terlalu Sempurna
Empat tahun setelah Maracanazo, Piala Dunia melahirkan luka lain. Hungaria datang ke Swiss sebagai tim terbaik dunia. Mereka memiliki Ferenc Puskás, Sándor Kocsis, Zoltán Czibor, dan sistem permainan yang membuat lawan tampak tertinggal zaman. Di fase grup, mereka mengalahkan Jerman Barat 8-3. Banyak orang mengira final hanya akan menjadi formalitas.
Final di Bern ternyata menolak naskah itu. Hungaria unggul 2-0 hanya dalam delapan menit. Jerman Barat kemudian bangkit dan menang 3-2. Pertandingan itu masyhur sebagai Miracle of Bern. Lisi mencatat bahwa dampaknya melampaui lapangan. Bagi Jerman Barat, kemenangan itu membantu masyarakat pascaperang mengekspresikan cinta tanah air tanpa kembali ke bayang-bayang Nazisme. Bagi Hungaria, kekalahan itu bertaut dengan kekecewaan sosial yang ikut membentuk suasana menjelang pemberontakan 1956 terhadap kontrol Soviet (Lisi, 2022, hlm. 55-56).
Di sini kekalahan bekerja sebagai ironi sejarah. Tim yang dianggap paling maju justru gagal meraih piala. Mereka mengubah cara orang memahami sepak bola, tetapi tidak membawa pulang trofi. Dunia tetap mengingat mereka sebagai Mighty Magyars. Julukan itu bukan milik juara. Ia milik tim yang gagal menutup revolusi taktik dengan kemenangan.
Hungaria 1954 mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan sepak bola modern. Keunggulan teknis tidak selalu cukup. Tim yang paling mahardika dapat kalah dari tim yang lebih tahan menghadapi tekanan. Piala Dunia tidak selalu memberi hadiah kepada gagasan terbaik. Ia memberi trofi kepada pihak yang menang pada hari itu.
Namun sejarah tidak sepenuhnya tunduk kepada trofi. Orang masih membicarakan Hungaria 1954 karena mereka mewakili kemungkinan. Mereka menunjukkan seperti apa sepak bola dapat dimainkan. Karena kemungkinan itu tidak selesai diangkat sebagai piala, ia justru terus dibicarakan.
Belanda 1974 dan Kemenangan yang Terlalu Praktis
Pada 1974, Belanda tiba di Jerman Barat dengan gagasan yang tampak lebih besar tinimbang turnamen. Mereka membawa Total Football. Rinus Michels membangun tim di sekitar Johan Cruyff. Ajax sebelumnya memenangkan tiga Piala Eropa beruntun dari 1971 sampai 1973 dengan gaya yang menuntut pertukaran posisi, gerak kolektif, dan keterlibatan semua pemain (Lisi, 2022, hlm. 122-123).
Belanda membuat sepak bola tampak seperti proyek intelektual. Bek dapat menyerang. Penyerang ikut bertahan. Pemain tidak dikunci di satu wilayah. Cruyff menjadi pusat gravitasi permainan. Dalam laga melawan Swedia, ia memperkenalkan gerak yang kemudian dikenal sebagai Cruyff turn. Satu gerakan kecil itu berubah menjadi warisan teknik yang masih hidup sampai hari ini (Lisi, 2022, hlm. 123).
Belanda melaju ke final melawan Jerman Barat. Mereka mencetak gol bahkan sebelum pemain Jerman menyentuh bola. Cruyff menusuk dari tengah, dilanggar Uli Hoeness, lalu Johan Neeskens mengubah penalti menjadi gol. Itulah penalti pertama dalam sejarah final Piala Dunia (Lisi, 2022, hlm. 128-129).
Walakin Jerman Barat tidak runtuh. Paul Breitner menyamakan skor melalui penalti. Gerd Müller mencetak gol kedua. Jerman Barat menang 2-1. Helmut Schön kemudian berkata bahwa pertandingan berlangsung 90 menit dan petarung yang lebih baik menang. Michels menerima kekalahan itu, tetapi menolak menyebut Total Football sebagai kegagalan (Lisi, 2022, hlm. 129-130).
Di titik inilah paradoks sejarah muncul. Jerman Barat mendapatkan trofi. Belanda mendapatkan imajinasi dunia. Beckenbauer dan Müller memang juara, tetapi Cruyff dan Michels memberi bahasa baru bagi sepak bola. Kekalahan Belanda membuat orang terus bertanya apakah sepak bola harus menang dengan indah, atau cukup menang dengan efisien.
Pertanyaan itu belum selesai. Setiap kali tim modern membicarakan pressing, rotasi posisi, ruang, dan fleksibilitas, bayangan Belanda 1974 kembali muncul. Mereka kalah dalam final. Walakin mereka menang dalam kamus taktik.
Brasil 1982 dan Keindahan yang Tidak Melindungi
Brasil 1982 sering masuk dalam daftar tim terbaik yang gagal menjadi juara dunia. Mereka datang ke Spanyol bersama pelatih Telê Santana, catatan 19 laga tanpa kalah, dan pemain seperti Zico, Sócrates, Falcão, serta Éder. Lisi mencatat bahwa Santana membangun tim menyerang yang menghidupkan kembali gagasan jogo bonito dan terinspirasi oleh Total Football (Lisi, 2022, hlm. 150).
Brasil bermain dengan formasi 4-2-2-2 yang mengirim banyak pemain ke depan. Bek sayap ikut naik. Gelandang mengatur irama. Zico dan Falcão memberi visi. Sócrates memberi kecerdasan dan ketenangan. Brasil mengalahkan Uni Soviet 2-1, Skotlandia 4-1, dan Selandia Baru 4-0. Mereka mencetak 10 gol dan hanya kebobolan dua kali di fase grup (Lisi, 2022, hlm. 155-156).
Babak berikutnya membawa Brasil ke kelompok maut bersama Italia dan Argentina. Italia datang dengan awal yang lata. Paolo Rossi belum mencetak gol pada awal turnamen. Kritik menekan pelatih Enzo Bearzot karena ia tetap percaya kepada Rossi. Namun sepak bola sering memberi panggung kepada pemain yang hampir disingkirkan.
Titimangsa 5 Juli 1982, Italia menghadapi Brasil di Stadion Sarrià, Barcelona. Rossi mencetak hattrick. Italia menang 3-2. Brasil dua kali menyamakan kedudukan, tetapi tidak menemukan jawaban setelah gol ketiga Rossi pada menit ke-74. Lisi menyebut tim Brasil itu masih dikenang sebagai tim terbaik yang tidak pernah memenangkan Piala Dunia (Lisi, 2022, hlm. 158).
Brasil 1982 memberi pelajaran yang tidak nyaman. Keindahan tidak kebal dari kesalahan. Tim menyerang dapat merebut imajinasi publik, tetapi satu celah bertahan dapat menghancurkan satu generasi. Santana memilih keyakinan. Bearzot memilih ketahanan. Sejarah resmi memberi gelar kepada Italia. Sejarah estetika memberi tempat khusus kepada Brasil.
Dari Brasil 1982, kita belajar bahwa publik sering mencintai tim yang berani bermain sesuai keyakinannya. Mereka kalah, tetapi tidak mengkhianati watak permainannya. Dalam dunia yang sering mengukur semuanya dari hasil akhir, kekalahan seperti itu menjadi kritik terhadap logika menang dengan cara apa pun.
Kamerun 1990 dan Harga dari Menjadi Perdana
Tidak semua kekalahan abadi lahir dari tim besar. Kamerun 1990 menunjukkan bahwa sejarah juga memberi tempat kepada pihak yang membuka pintu. Di Italia, Kamerun mengalahkan Argentina pada laga pembuka. Mereka melaju sampai perempat final. Di hadapan Inggris, mereka nyaris menjadi tim Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia.
Roger Milla menghidupkan serangan Kamerun. Mereka unggul 2-1 atas Inggris. Lalu Gary Lineker mencetak dua penalti, satu pada menit akhir waktu normal dan satu lagi pada perpanjangan waktu. Inggris menang 3-2. Lisi menulis bahwa pemain Kamerun tetap mendapat tepuk tangan dari penonton San Paolo dan pulang sebagai pahlawan. Milla kemudian mengaku masih menyimpan penyesalan karena ia yakin timnya bisa melangkah lebih jauh (Lisi, 2022, hlm. 200).
Kekalahan Kamerun bukan kegagalan biasa. Mereka memaksa dunia meninjau ulang peta sepak bola. Sebelum 1990, banyak orang melihat Afrika sebagai pinggiran Piala Dunia. Setelah 1990, pandangan itu tidak lagi mudah dipertahankan. Kamerun kalah dari Inggris, tetapi mereka membuat generasi baru percaya bahwa sepak bola Afrika dapat menantang pusat kekuasaan lama.
Kekalahan semacam ini memberi pelajaran yang berguna untuk membaca olahraga hari ini. Hasil akhir tidak selalu menjadi ukuran kemajuan. Kadang kemajuan tampak dari keberanian menembus batas. Kamerun tidak membawa trofi. Mereka membawa bukti.
Baggio 1994 dan Satu Tendangan yang Menelan Karier
Pada 1994, Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia. Final mempertemukan Brasil dan Italia di Rose Bowl, Pasadena. Dua negara itu sama-sama telah mengoleksi tiga gelar dunia. Pemenangnya akan menjadi negara pertama yang meraih gelar keempat.
Roberto Baggio datang ke final sebagai tokoh utama Italia. Ia mencetak dua gol melawan Bulgaria di semifinal, lalu keluar lapangan dalam keadaan cedera. Ia mengalami masalah hamstring dan sempat diragukan tampil di final. Dokter menyebut peluangnya bermain hanya 50 persen. Ia tetap tampil penuh (Lisi, 2022, hlm. 224).
Pertandingan bertahan 0-0 sampai perpanjangan waktu selesai. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, final Piala Dunia harus ditentukan melalui adu penalti. Franco Baresi gagal. Márcio Santos juga gagal. Setelah beberapa eksekutor mencetak gol, Dunga membawa Brasil unggul 3-2. Baggio harus mencetak gol agar Italia tetap hidup. Ia berlari. Bola melayang tinggi ke langit Pasadena. Brasil menjadi juara dunia untuk kali keempat (Lisi, 2022, hlm. 225-226).
Sejarah tidak selalu adil kepada Baggio. Ia membawa Italia sampai final. Ia mencetak gol penting di fase gugur. Ia bermain dalam keadaan cedera. Walakin satu tendangan membuat ingatan publik menyederhanakan kariernya. Foto Baggio yang berdiri diam setelah penalti gagal menjadi ikon kekalahan modern.
Kekalahan Baggio mengajarkan risiko menjadi pusat harapan. Seorang pemain dapat menyelamatkan bangsanya berkali-kali, lalu dihukum oleh satu momen. Sepak bola sering menuntut kesempurnaan dari tubuh yang letih. Publik jarang sabar membaca konteks.
Justru karena itu Baggio bertahan dalam ingatan. Ia tidak dikenang semata sebagai pemain yang gagal. Ia dikenang sebagai manusia. Ia memperlihatkan bahwa olahraga terbesar di dunia tetap ditentukan oleh lutut, napas, cedera, tekanan, dan beberapa langkah pendek menuju titik penalti.
Brasil 2014: Terlalu Cepat Kalah
Brasil kembali menjadi tuan rumah pada 2014. Harapannya jelas. Mereka ingin menebus 1950. Mereka ingin mengganti Maracanazo dengan pesta. Namun semifinal melawan Jerman di Belo Horizonte melahirkan trauma baru. Brasil kalah 7-1. Neymar cedera. Thiago Silva absen karena akumulasi kartu. Pertahanan Brasil berantakan.
Lisi mencatat bahwa Jerman mencetak lima gol pada babak pertama. Thomas Müller membuka skor pada menit ke-11. Miroslav Klose mencetak gol ke-16 di Piala Dunia dan melewati rekor Ronaldo. Toni Kroos mencetak dua gol dalam dua menit. Sami Khedira menambah gol kelima. André Schürrle mencetak dua gol pada babak kedua. Oscar hanya memperkecil skor menjadi 7-1 (Lisi, 2022, hlm. 327-328).
Kekalahan itu mendapat nama baru: Mineirazo. Scolari mengambil tanggung jawab. Ia menyebut hari itu sebagai momen terburuk dalam karier sepak bolanya. Ia mengakui timnya panik setelah kebobolan pertama dan kehilangan organisasi (Lisi, 2022, hlm. 328).
Brasil 2014 berbeda dari Brasil 1982. Tim 1982 kalah karena tetap memegang gagasan. Tim 2014 kalah karena kehilangan bentuk. Yang satu membuat orang merindukan keindahan. Yang lain memperlihatkan kerusakan sistem yang harus diperbaiki.
Pelajaran dari 7-1 sangat praktis. Tradisi besar tidak cukup. Jersey kuning tidak bisa bertahan sendiri. Sejarah panjang tidak menutup ruang kosong di lini belakang. Kebanggaan nasional tidak menggantikan organisasi permainan. Brasil memiliki simbol, tetapi Jerman memiliki struktur.
Kroasia 2018 dan Negara Kecil yang Menolak Menyerah
Rusia 2018 menambahkan bentuk baru kekalahan yang abadi. Kroasia tidak datang sebagai raksasa lama. Mereka datang sebagai negara kecil yang memanggul generasi emas: Luka Modrić, Ivan Rakitić, Mario Mandžukić, Ivan Perišić, Dejan Lovren, dan Danijel Subašić. Mereka mengalahkan Argentina 3-0 di fase grup, melewati Denmark dan Rusia melalui adu penalti, lalu menundukkan Inggris 2-1 lewat perpanjangan waktu di semifinal. Tiga laga gugur mereka berjalan 120 menit. Tubuh mereka letih, tetapi gagasan mereka semenjana: bertahan satu pertandingan lagi.
Final 15 Juli 2018 di Luzhniki Stadium, Moskwa, menjadi pertemuan antara efisiensi Prancis dan stamina Kroasia. Prancis menang 4-2. Mario Mandžukić mencetak gol bunuh diri dan kemudian mencetak gol untuk Kroasia. Ivan Perišić sempat menyamakan kedudukan, sedangkan Antoine Griezmann, Paul Pogba, dan Kylian Mbappé memastikan gelar kedua Prancis. FIFA mencatat final itu sebagai final dengan skor tertinggi pada waktu normal sejak 1958. Mbappé juga menjadi pemain termuda sejak Pelé pada 1958 yang mencetak gol di final Piala Dunia.
Kroasia pulang tanpa trofi, tetapi tidak pulang tanpa sejarah. Luka Modrić menerima adidas Golden Ball meskipun Kroasia kalah di final. FIFA menyebut penghargaan itu sebagai penghiburan emas bagi Modrić. Di sinilah kekalahan berubah menjadi martabat. Prancis memiliki bintang kedua di dada. Kroasia memiliki kisah tentang bangsa kecil yang memaksa dunia menyebut namanya dengan hormat.
Maroko 2022, Mbappé, dan Peta Dunia yang Bergeser
Qatar 2022 memperluas makna kekalahan sampai ke tepi lain peta sepak bola. Maroko menahan Kroasia 0-0, mengalahkan Belgia 2-0, menundukkan Kanada 2-1, menyingkirkan Spanyol lewat adu penalti, lalu mengalahkan Portugal 1-0 pada 10 Desember 2022. Kemenangan atas Portugal menjadikan Maroko tim nasional Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia. Catatan ini penting karena sebelumnya Kamerun 1990, Senegal 2002, dan Ghana 2010 berhenti di perempat final. Maroko menyeberangi batas yang selama puluhan tahun tampak laksana pagar tak terlihat.
Di semifinal, Prancis menang 2-0 di Al Bayt Stadium. Theo Hernández mencetak gol pada menit kelima, lalu Randal Kolo Muani menutup laga pada babak kedua. FIFA mencatat bahwa gol Hernández menjadi gol pertama dari pemain lawan yang melewati Yassine Bounou dalam enam pertandingan Maroko di Qatar. Namun kekalahan itu tidak menghapus apa yang sudah berubah. Jika Kamerun 1990 membuka pintu bagi Afrika, Maroko 2022 berjalan lebih jauh dan meninggalkan pintu itu tetap terbuka. Kekalahan mereka menjadi peta baru, bukan titik akhir.
Final 2022 juga menghadirkan kekalahan yang hampir mustahil diterima akal. Argentina dan Prancis bermain 3-3 sampai perpanjangan waktu. Argentina menang 4-2 melalui adu penalti. Lionel Messi mendapat piala yang selama ini hilang dari biografinya. Namun Kylian Mbappé, pihak yang kalah, mencetak hattrick, menjadi pemain kedua setelah Geoff Hurst pada 1966 yang mencetak tiga gol dalam final Piala Dunia, dan merebut adidas Golden Boot dengan delapan gol.
Kekalahan Prancis 2022 berbeda dari Baggio 1994. Baggio dikenang karena satu tendangan yang gagal. Mbappé dikenang karena hampir semua yang ia lakukan berhasil, tetapi tetap tidak cukup. Di Lusail, ia memperlihatkan ironi paling durkarsa dalam sepak bola: seorang pemain dapat mencetak tiga gol di final, memenangkan sepatu emas, menahan napas satu stadion, dan tetap pulang sebagai pihak yang kalah. Dalam arti itu, Qatar 2022 memberi dua warisan kekalahan sekaligus. Maroko mengubah geografi harapan. Mbappé mengubah cara kita memahami kepahlawanan tanpa trofi.
Kekalahan sebagai Guru yang Lebih Jujur
Piala Dunia sering menjual kemenangan sebagai puncak. Akan tetapi, kekalahan memberi pelajaran yang lebih jujur. Ia membuka kelemahan yang tertutup euforia. Ia memaksa federasi bertanya tentang pembinaan, pelatih, taktik, mental, dan manajemen. Ia membuat bangsa berhenti memakai nostalgia sebagai pengganti kerja.
Belanda 1974 mengajarkan pentingnya gagasan. Brasil 1982 mengajarkan risiko ketika keindahan tidak disertai perlindungan. Kamerun 1990 mengajarkan bahwa kekalahan dapat membuka jalan bagi benua. Baggio 1994 mengajarkan bahwa manusia tidak boleh kita perkecil menjadi satu kesalahan. Brasil 2014 mengajarkan bahwa tradisi tanpa struktur dapat runtuh dalam waktu yang sangat singkat. Kroasia 2018 mengajarkan bahwa negara kecil dapat kalah di final, tetapi tetap menang dalam kehormatan sejarah. Maroko 2022 mengajarkan bahwa kekalahan dapat memperluas peta harapan satu benua. Mbappé 2022 mengajarkan bahwa kepahlawanan tidak selalu membutuhkan trofi.
Oleh sebab itu, sejarah kekalahan sering terasa lebih abadi tinimbang kemenangan. Kemenangan memberi jawaban. Kekalahan memberi masalah. Jawaban dapat cepat usang. Masalah terus memanggil tafsir.
Piala Dunia datang setiap empat tahun. Senarai juara bertambah pelan. Daftar luka bertambah dengan cara yang lebih musykil. Setiap generasi memiliki kekalahannya sendiri. Ada yang lahir dari gol pada menit akhir. Ada yang lahir dari penalti. Ada yang lahir dari taktik yang salah. Ada pula yang lahir dari harapan yang terlalu besar.
Ingatan yang Tidak Mengangkat Trofi
Trofi Piala Dunia terbuat dari emas. Ingatan terbuat dari luka, gagasan, wajah, suara, dan satu detik yang gagal diperbaiki. Trofi berpindah dari satu negara ke negara lain. Ingatan menetap lebih lama.
Uruguay 1950 juara, tetapi dunia menyebut Maracanazo untuk mengingat luka Brasil. Jerman Barat 1954 juara, tetapi Mighty Magyars tetap menjadi nama besar dalam sejarah taktik. Jerman Barat 1974 juara, tetapi Belanda mengubah bahasa sepak bola. Italia 1982 juara, tetapi Brasil 1982 hidup sebagai lambang keindahan yang gugur. Brasil 1994 juara, tetapi Baggio berdiri sendirian dalam ingatan global. Jerman 2014 juara, tetapi angka 7-1 menjadi kode trauma Brasil modern. Prancis 2018 juara, tetapi Kroasia dan Modrić mengubah kekalahan menjadi penghormatan dunia. Argentina 2022 juara, tetapi Maroko dan Mbappé menambah dua gambar baru dalam museum kekalahan Piala Dunia: peta harapan Afrika dan hattrick yang tetap tidak cukup untuk mengangkat trofi.
Kekalahan yang abadi selalu memiliki satu ciri. Ia tidak berhenti sebagai skor. Ia mengubah cara orang memahami permainan. Ia mengguncang identitas. Ia memaksa orang menata ulang masa depan.
Piala Dunia mengajari kita bahwa sejarah tidak selalu memilih mereka yang berdiri paling tinggi di podium. Kadang sejarah memilih mereka yang jatuh dengan cara yang membuat dunia tidak bisa berhenti menoleh. Dalam sepak bola, seperti dalam kehidupan publik, kekalahan yang bermakna dapat bertahan lebih lama daripada kemenangan nan apik.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor:


