Gus Dur dan Gus Mus terjalin dalam tulisan. Persahabatan mereka terbaca (lagi) jika kita membuka sekian buku. Dua tokoh rajin membuat tulisan. Gus Dur suka menulis esai atau kolom. Gus Mus biasa menulis esai meski keranjingan menggubah puisi. Di luar tulisan, dua sosok itu berkhotbah dan mengajak orang-orang tertawa. Kita tentu tak perlu membandingkan derajat humor Gus Dur dan Gus Mus.
Kini, kita mengenang Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Gus Mus bisa menjadi pengantar atau penghangat bagi kita ingin selalu mengenang Gus Dur. Gus Mus tak melulu menulis mengenai Gus Dur. Ia kadang menempatkan Gus Dur dalam beragam kejadian dan pergaulan bersama tokoh-tokoh lain, tak lupa menguak pemikiran dan sikap. Gus Mus saat menulis Gus Dur tak bermaksud sekadar memberi pujian dan doa-doa.
Kita membuka buku kecil berjudul Wekwekwek (1996) memuat puisi-puisi gubahan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus). Buku sederhana menandai keberanian bersuara sebelum kejatuhan rezim Orde Baru. Buku itu rawan “dimusuhi” penguasa atau orang-orang merasa mendapat sindiran dan kritik. Buku edisi “melawan” secara santun, lucu, lembut, dan akrab.
Di puisi berjudul Rasanya Baru Kemarin edisi kelima, Gus Mus tak bosan mengajak para pembaca mengartikan Indonesia memuat album tokoh. Puisi itu terus berubah atau bertambah. Puisi sering terbacakan memberi kesan-kesan pemuliaan Indonesia. Gus Mus menulis:
Kita menikmati larik-larik apik: Rasanya/ Baru kemarin/ Padahal sudah setengah abad kita/ Merdeka// Kiai Ali dan Gus Yusuf yang agamawan/ Sudah menjadi priyayi/ Danarto dan Umar Kayam yang seniman/ Sudah menjadi kiai. Kita membaca itu mirip gurauan merangsang renungan. Gus Mus mengenali dan bergaul bareng tokoh-tokoh, berhak memberi sebutan berdasarkan derajat dan “kebenaran”. Kita lanjutkan: Gus Dur dan Cak Nur yang pintar/ Sudah berkali-kali mengganti kacamata/ Rendra dan Emha yang nakal/ Sudah berkali-kali mengganti cerita. Sosok Gus Dur dihadirkan berkaitan kacamata. Kita terbujuk mengimajinasikan penampilan Gus Dur. Ia memang berkacamata (tebal). Konon, ia “serakah” membaca dan mendapat sakit berakibat “kewajiban” mengenakan kacamata.
Di majalah Matra edisi Maret 1992, kita membaca keterangan lagak pers: “Tindakan dan ucapannya dicap nyleneh. Mungkin karena itu bahkan ada yang menyebut pria berkacamata minus 15 ini ndablek.” Kita mengerti kebutuhan kacamata dalam beragam peristiwa dialami Gus Dur setiap hari.
Kini, kita berharap sekian kacamata pernah digunakan Gus Dur masih tersimpan. Benda itu bukan sekadar untuk membantu penglihatan. Kita menganggap kacamata melampaui “kebendaan”. Gus Dur tampil dengan kacamata tapi memberi orang-orang “kacamata” tak biasa dalam melihat beragam persoalan. Gus Dur membimbing publik melihat lewat “kacamata” berbeda agar terhindar dari klise, sesat, salah paham, bosan, kaku, dan formal. Gus Dur memberi “kacamata” dalam melihat politik, agama, pendidikan, seni, ekonomi, hiburan, sejarah, dan lain-lain. Kita berhak mendapat warisan “kacamata” meski ingin kelak melihat koleksi kacamata Gus Dur berada dalam museum.
Kita membaca puisi bertemu puluhan tokoh, tak cuma Gus Dur. Kehadiran Gus Dur mengartikan ia penting dalam arus sejarah dan pembentukan masa depan Indonesia. Kita tak boleh melewatkan sindiran Gus Mus meski berbeda dengan cara dan pembahasaan Gus Dur jika menggegerkan Indonesia saat setor indiran. Gus Mus memberi sindiran sengaja bernasihat: Banyak ulama sudah semakin dekat kepada pejabat/ Banyak pejabat sudah semakin erat dengan konglomerat/ Banyak wakil rakyat sudah semakin jauh dari umat/ Banyak nurani dan akalbudi sudah semakin sekarat. Puisi ditulis berlatar masa Orde Baru. Kita boleh membaca dan menaruh dalam rezim-rezim berbeda.
Para pembaca tulisan-tulisan Gus Dur bertokoh kiai bakal mengerti siasat dan kecakapan dalam mengerti agama, kekuasaan, pekerjaan, keluarga, dan lain-lain. Di buku berjudul Kiai Nyentrik Membela Pemerintah (1997), kita menemukan biografi para kiai dalam beragam dunia. Mereka tak cukup dengan berdakwah saja. Peran-peran berbeda dimiliki membuat para kiai berhubungan dengan pejabat, intelektual, seniman, pengusaha, dan lain-lain. Tanggung jawab terhadap umat dipenuhi tapi lakon-lakon terus bertumbuh saat terjalin merujuk pelbagai misi. Kita menemukan keutamaan para kiai tanpa harus terjebak dan terseret dalam pamrih-pamrih picik dan picisan. Gus Dur mengisahkan dan mengingatkan dengan esai, bukan mengajukan puisi seperti Gus Mus.
Pada suatu masa tanpa dijanjikan, Gus Dur malah menjadi presiden. Ia melampaui larik-larik puisi digubah Gus Mus. Gus Dur cuma sebentar menjadi presiden tapi mencipta sejarah ramai perdebatan. Gus Mus tetap saja menjadi sahabat. Gus Mus belum selesai memberi pujian dan doa untuk Gus Dur saat babak menjadi presiden telah berakhir.
Di buku berjudul Membaca Sejarah Nusantara (2010), kita menemukan keakraban Gus Mus dan Gus Dur. Buku memuat 25 esai Gus Dur bertema sejarah. Gus Mus berperan sebagai pengantar atau pemberi penjelasan awal bagi para pembaca.
Gus Mus menulis tentang Gus Dur bukan dalam bentuk puisi: “Maka, ketika mendapat kedudukan – tidak tanggung-tanggung – sebagai presiden, dia tidak tampak kegirangan (tidak seperti sementara orang yang diangkat menjadi menteri saja sudah mengadakan tasyakuran besar-besarn), dan ketika dipaksa lengser pun tidak tampak terguncang seperti yang mungkin diperkirakan orang sebelumnya. Dengan kemampuan, kelebihan, dan kepercayaan dirinya, tokoh paling kontroversial ini, meneruskan perjalanannya seperti biasa.”
Kita membaca itu pujian. Gus Mus mengagumi Gus Dur dalam arus kekuasaan, dakwah, dan keintelektualan. Gus Dur tak lagi menjadi presiden tapi terus “berjalan” demi kebaikan-kebaikan Indonesia dan mendakwahkan tema-tema memajukan umat Islam.
Kata pengantar dalam buku terbitan LKiS itu merujuk makna persahabatan. Gus Mus menerangkan: “Ketika saya diminta oleh Gus Dur sendiri untuk menulis pengantar bukunya ini, secara kelakar hati kecil saya nyletuk: ini trik apalagi? Soalnya, siapa atau apa yang harus saya antar? Apakah perlu Gus Dur diantar?” Dua tokoh itu selalu erat dalam kelakar dan keseriusan. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


