Spirit Memuliakan Al-Qur'an dari Dusun Kecil di Jateng Menjangkau Jemaah di Pulau Seberang

Spirit Memuliakan Al-Qur'an dari Dusun Kecil di Jateng Menjangkau Jemaah di Pulau Seberang

Arina.id ~ Ada spirit terpercik dari Dusun Ndirun Desa Singamerta Kecamatan Sigaluh Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Kiai Nipan Abdul Halim, seorang tokoh agama bersama tokoh masyarakat setempat merintis jalan mulia dalam syiar Islam, khususnya memasyarakatkan bacaan Al-Qur'an. Mereka mendirikan Jamaatul Qurroul Quran Fil Bait (Jemaah Pembaca Al-Quran di Rumah) ‘Al Haibah’ yang kini anggotanya tersebar hingga luar Jawa, bahkan luar negeri. Seperti apa kegiatannya?

Di Dusun Ndirun yang kecil, Kiai Nipan dibantu warga dan tokoh masyarakat setempat mendirikan Pondok Pesantren ‘Asmoro Sufi’ pada 2021. Di pondok sederhana ini ia membimbing warga sekitar dalam mengaji Al-Qur'an. Dari anak-anak, remaja, hingga orang tua yang belum lancar membaca Al-Qur'an dibimbingnya dengan tekun. Tak hanya itu, untuk menjangkau jemaah yang lebih luas, didirikanlah Jamaatul  Qurroul Quran (JQQ) ‘Al Haibah’, yakni jemaah pembaca Al-Qur'an dari Rumah (Fil Bait), yang kini anggotanya mencapai 240 orang.

Gethok Tular
Menurut Kiai Nipan, JQQ ‘Al Haibah’ pada awal berdirinya hanya diikuti oleh warga dusun sekitar. Setelah lurah dan para perangkat desa ikut menjadi jemaah, warga pun ramai-ramai mengikutinya. 

"Begitu para tokoh mau menjadi anggota, warga yang lain mulai bergabung. Gemrubul kaya laron (berbondong-bondong seperti laron-red),” kenang pengasuh Pondok Pesantren ‘Asmoro Sufi’ ini.

JQQ ‘Al Haibah’ memanfaatkan aplikasi perpesanan melalui grup WhatsApp (WA). Sistemnya, peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 30 orang, tiap-tiap anggota bertanggung jawab membaca Al-Qur'an satu juz. Setiap Kamis malam Jumat, dilakukan recalling (absensi dan pelaporan) oleh pengurus grup yang disebut Khodim (pelayan). Jemaah yang sudah khalas tilawah (selesai) 2 (dua) kali atau 2 pekan harus melanjutkan ke juz berikutnya. Begitu seterusnya hingga setelah khatam 30 juz, kembali ke Juz 1 dan seterusnya berulang-ulang.

Melalui informasi gethok tular (informasi dari mulut ke mulut) kiprah dan keberadaan JQQ ‘Al Haibah’ terus menyebar. Kini bukan hanya warga desa yang jadi jemaah, melainkan warga luar daerah telah bergabung, seperti Sumedang, Bekasi, Kalimantan dan Jakarta. Bahkan ada juga jemaah di Malaysia dan Arab Saudi.

"Alhamdulillah kini sudah ada 6 grup yang dengan tekun menjalankan program baca Al-Qur'an dari rumah bergabung komunitas JQQ Al Haibah,” ungkap pensiunan Kemenag Banjarnegara yang sempat nyantri kepada Kiai Dayat, di Pondok Pesantren Al Makmur, Sokaraja Lor Banyumas 10 tahun lamanya.

Tukar Takir
Pada Minggu pagi 14 April 2024, para anggota Jamaatul Qurroul Quran Fil Bait 'Al Haibah' berkumpul di halaman Pesantren Asmoro Sufi dalam acara halal bi halal dan haflah untuk kali pertama. Jemaah JQQ dari berbagai penjuru hadir di Dusun Dirun. Jemaah laki-laki tampak bersarung dengan baju putih dan berpeci, sementara jemaah perempuan juga berbusana dan berkerudung putih. Acaranya meliputi: Khotmil Quran, silaturahmi dan halal bi halal, Ma'uidzoh Khasanah, doa, sholawatan, dan penampilan hadrah dari anak-anak santri TPQ Al-Hidayah.

Warga dan jemaah dengan khidmat mengikuti pengajian dan halal bil halal yang dilanjutkan dengan ‘tukar-takir’. Takir merupakan menu nasi dan lauk pauk sederhana yang dibawa warga sebagai bekal. Tukar-takir bertujuan untuk merasakan kebersamaan, merekatkan persatuan.

Salah seorang santri dewasa, Rahardjo, mengaku sangat terbantu dengan menjadi jemaah JQQ. Di usianya yang memasuki 50 tahun, ia masih semangat untuk belajar membaca Al-Qur’an. Awalnya, ia mengaku kesulitan untuk membaca huruf Hijaiyah lantaran sejak kecil tak rajin mengaji. 

“Waktu kecil saya lalai mengaji, setelah dewasa sibuk bekerja. Kini di usia yang tak lagi muda saya harus fokus mengaji, mumpung masih diberi waktu oleh Allah. Semoga belum terlambat untuk bertobat dan belajar sepanjang usia,” harapnya.

Sementara itu menurut ketua panitia, Eko Waluyo, JQQ terbuka bagi siapa saja: remaja, orang dewasa, orang tua, laki-laki dan perempuan. Ada yang sudah fasih, ada yang masih gratul-gratul (belum lancar). Para jemaah mendapat bimbingan bacaan yang baik dari pengasuh melalui fitur ‘chat audio’ pada aplikasi grup WA atau dengan japri kepada pengasuh.

"Di sini kita sama-sama belajar. Ada yang masih lupa panjang pendeknya, tapi terus membaca dan berusaha sebaik mungkin. Kuncinya konsisten dan mau belajar,” kata Eko.

Influencer Kebajikan
Ustadz Muhammad Al Akhyar, penceramah dari Banjarnegara mengemukakan, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan untuk tujuan yang bermanfaat. Dalam dunia digital, para tokoh masyarakat hendaknya menjadi ‘influencer kebajikan’ dalam menyebarkan spirit cinta Al-Qur'an, karena mereka memiliki pengaruh dan punya banyak pengikut (follower). Menurutnya, kiprah Jamaatul Qurroul Quran Fil Bait "Al Haibah" merangkul tokoh masyarakat adalah sangat tepat, karena mereka adalah teladan bagi warganya.

“Kehadiran tokoh masyarakat ini sangat penting dalam rangka menyebarkan syiar Islam utamanya gerakan membaca Al Qur’an secara gotong royong, sehingga jangkauannya semakin luas dan mudah diakses. Era digital mengharuskan dunia dakwah adaptif terhadap kemajuan teknologi, agar syiar Islam terus eksis. Seluruh Muslimin juga punya kewajiban untuk berdakwah sesuai dengan kapasitasnya masing-masing,” ujarnya.

Allah Swt berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS Ali Imran [3]: 110).

Pepatah mengatakan: ‘Belajar di waktu kecil laksana mengukir di atas batu, sedangkan belajar sesudah dewasa laksana melukis di atas air’. Kalimat bijak yang sering kita dengar. Namun tak semua orang memahami makna dan mengamalkan peribahasa ini. Sehingga sesal kemudian tak berguna, karena banyak yang menyia-nyiakan masa mudanya untuk belajar dan mengaji. Jika demikian, tak ada pilihan lain kecuali harus belajar lagi. Tak ada kata terlambat, meskipun bagai mengukir di atas air. Dari pada tidak mengukir kebajikan sama sekali.

Jamaatul Qurroul Qur'an Fil Bait 'Al Haibah' di Dusun Ndirun telah menggugah semangat siapa saja–terutama orang dewasa— untuk terus belajar membaca Al-Qur'an. Selagi nyawa masih dikandung badan, tak putus asa kita amalkan. Semoga ghirah untuk memuliakan Al-Qur'an dengan membaca, mengkaji dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, akan terus menggelora dalam setiap jiwa manusia, sebagai inspirasi untuk berbuat kebajikan.

Selamat membaca Al-Qur'an dari rumah. Semoga Allah Swt menjadikan hidup kita sukses, mulia dunia dan akhiratnya. Aamiin.
 


Editor:
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo