Dalam sejarah Piala Dunia, Kanada lebih sering menjadi penonton daripada pelaku utama. Negara ini pernah datang, pulang, lalu menghilang cukup lama dari panggung sepakbola dunia. Karena itu suasana di Toronto pada Sabtu (13/6/2026) dini hari WIB terasa berbeda dari biasanya.
Puluhan ribu orang memadati stadion untuk menyaksikan pertandingan Piala Dunia antara Kanada dan Bosnia-Herzegovina. Bagi banyak negara, pertandingan pembuka mungkin hanya bagian dari jadwal turnamen. Bagi Kanada, pertandingan tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pertandingan Piala Dunia digelar di tanah Kanada.
Sepakbola sesungguhnya bukan sesuatu yang baru di Toronto. Jauh sebelum FIFA memutuskan membawa Piala Dunia ke Kanada, olahraga ini telah hidup di Toronto selama lebih dari satu abad. Gelombang pendatang dari Eropa, Amerika Latin, Karibia, Timur Tengah, Afrika, dan Asia membawa serta kecintaan mereka terhadap sepakbola. Toronto tumbuh menjadi salah satu kota paling beragam di dunia, dan sepakbola perlahan menjadi bahasa yang dipahami oleh berbagai komunitas yang berbeda itu.
Di kota inilah seseorang dapat menemukan restoran Italia berdampingan dengan kawasan yang didominasi komunitas Asia, lalu berjalan beberapa blok menuju lingkungan yang dibentuk oleh keluarga-keluarga asal Balkan atau Karibia. Banyak penduduk Toronto memiliki akar keluarga di negara-negara yang menjadikan sepakbola sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Mereka mungkin memegang paspor Kanada, tetapi tumbuh dengan cerita tentang klub-klub Eropa, Copa America, Piala Afrika, atau Piala Dunia.
Tidak mengherankan jika Toronto akhirnya menjadi salah satu kota tuan rumah Piala Dunia 2026. Dalam banyak hal, kota ini mencerminkan watak turnamen itu sendiri. Piala Dunia selalu menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa, bahasa, dan identitas. Toronto telah menjalani pengalaman tersebut.
Namun sepakbola memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu bergerak secepat yang dibayangkan. Kanada tampil pertama kali di Piala Dunia pada 1986 di Meksiko. Setelah itu mereka harus menunggu hingga 2022 untuk kembali tampil di putaran final. Dalam enam pertandingan yang dijalani pada dua edisi tersebut, Kanada selalu kalah. Tidak ada kemenangan. Tidak ada satu poin pun yang berhasil dibawa pulang.
Pertandingan melawan Bosnia membawa dua penantian sekaligus. Penantian sebuah negara yang untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah Piala Dunia, dan penantian sebuah tim nasional yang berusaha mencatatkan namanya di turnamen terbesar dunia itu.
Bosnia sempat unggul lebih dahulu dan membuat suporter tuan rumah terdiam. Namun Cyle Larin kemudian mencetak gol yang menyamakan kedudukan. Pertandingan berakhir 1-1. Tidak ada pesta besar setelah peluit panjang dibunyikan. Meski begitu, hasil seri tersebut terasa seperti hadiah tersendiri bagi Kanada. Untuk pertama kalinya, mereka berhasil meraih poin di putaran final Piala Dunia.
Barangkali di situlah perbedaan setiap negara memandang turnamen ini. Brasil berusaha mengejar gelar keenam. Argentina datang sebagai juara bertahan. Negara-negara lain membawa beban sejarah dan harapan masing-masing. Kanada datang dengan cerita yang berbeda.
Turnamen ini masih akan menghadirkan pertandingan yang lebih besar, gol yang lebih indah, dan drama yang lebih menegangkan daripada hasil imbang antara Kanada dan Bosnia. Beberapa pekan dari sekarang perhatian dunia mungkin sudah beralih ke tim-tim unggulan dan fase gugur yang lebih menentukan.
Namun bagi Kanada, Piala Dunia 2026 sudah menghadirkan sejumlah pengalaman yang belum pernah dimiliki sebelumnya. Menjadi tuan rumah pertandingan Piala Dunia, memainkan laga putaran final di hadapan publik sendiri, dan meraih poin pertama dalam sejarah keikutsertaannya.
Untuk ukuran negara-negara besar sepakbola, pencapaian itu mungkin tampak sederhana. Bagi Kanada, semua itu terjadi pada hari yang sama. Dan mungkin hari pertama tersebut layak diingat.
Wibowo Prasetyo
Penulis adalah Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, penikmat sepak bola
Editor:


