Seandainya Tak Ada Murur

Seandainya Tak Ada Murur

Oleh: Akh. Muzakki

Al-surur la yuzalu illa bi al-murur. Bahagia (surur) tak akan sirna kecuali dengan berlalu (murur). Itu pernyataan seorang petugas anggota tim monitoring dan evaluasi (monev) haji 1445 H/2024 M. Pernyataan di atas dibalas oleh petugas monev lainnya: La murura illa bi al-surur. Tak ada murur kecuali dilakukan dengan rasa senang. Yang lainnya lagi menyahut begini: La surura illa bi al- murur. Tak akan ada kebahagiaan kecuali dengan melakukan murur.

Eits.., hati-hati. Jangan salah paham. Tiga kalimat dalam Bahasa Arab di atas bukanlah kaidah fiqhiyah. Apalagi yang masuk kategori mapan. Juga, kalimat-kalimat di atas bukanlah kaidah ushuliyah. Apalagi yang masuk kategori mu’tabarah atau highly recognized. Ketiga kalimat di atas casing-ya serupa dengan kaidah-kaidah yang berlaku di bidang fiqhiyah atau ushuliyah. Dua bidang kajian metodologis yang berlaku dalam hukum Islam. Tapi isinya, tentu dipastikan bukan.   

Ketiga kalimat yang mirip kaidah di bidang fiqhiyah atau ushuliyah di atas adalah hasil percakapan berbalas oleh para petugas anggota tim monev haji tahun 1445 H/2024 M.  Terjadi dan berlangsung di media sosial perbincangan. Namanya WhatsApp (WA). Kebetulan memang ada WA Group yang secara sengaja dibuat sebagai media komunikasi para petugas haji di bidang monitoring dan evaluasi. Setiap isu dibahas. Setiap potensi masalah dimitigasi. Setiap tahapan dibincangkan. Termasuk juga solusi tuntasnya.

Kala itu, Rabu pagi (13/06/2024). Rapat khusus persiapan rangkaian ibadah Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) diselenggarakan di kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah. Rapat dihadiri langsung oleh Menteri Agama RI Gus Yaqut Cholil Qoumas dan seluruh pejabat utama dan petugas teknis pelaksanaan ibadah haji. Seluruh persiapan dicek langsung oleh Menteri yang akrab dipanggil Gus Men itu. Persoalan murur termasuk yang dibahas serius.

Di rapat itu, Gus Men memang meminta semua petugas haji untuk memberi perhatian besar pada seluruh rangkaian ibadah puncak Armuzna. “Ada sejumlah titik krusial yang harus dicarikan solusi. Salah satunya soal murur.” Begitu arahan Gus Men dalam rapat itu dengan meminta semua petugas untuk memberikan atensi khusus kepada kebijakan mengenai diberlakukannya murur dalam pelaksanaan ibadah di Armuzna.

Dibahaslah semua langkah mitigasi. Semua kemungkinan dihitung agar apa yang oleh Gus Men disebut dengan “titik krusial” mendapatkan antisipasi dan sekaligus solusi seefektif mungkin. Nah, untuk menindaklanjuti arahan Gus Men itu, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), Hilman Latif menerjemahkan kebijakan mengenai murur itu dengan mengembangkan kebijakan teknis turunan melalui skema Murur itu Relaksasi. Kepentingannya untuk mengurai kepadatan, penumpukan, dan ketegangan jemaah haji dalam jumlah besar untuk rangkaian kegiatan ibadah haji yang sama di tempat yang sama pula oleh semua jemaah.

Skema Murur itu Relaksasi oleh Dirjen PHU di atas lebih lanjut diterjemahkan secara lebih teknis oleh pejabat teknis di bawahnya. Arsyad Hidayat sebagai Direktur Bina Haji, sebagai misal, menjelaskan bahwa tak berlaku rumus semakin banyak jemaah yang ikut proses murur semakin baik untuk pengelolaan jemaah haji di Armuzna.

“Murur itu diperlukan untuk mengurangi kepadatan dan sekaligus menghindari potensi penumpukan jemaah dan bis transportasi di titik tertentu dalam rangkaian ibadah di Armuzna,” begitu jelas Direktur Bina Haji itu.

Bagaima dengan hasil pelaksanaan murur di lapangan? Pelaksanaan rangkaian ibadah di Armuzna tercapai dengan baik. Kepadatan jalanan terurai. Penumpukan jemaah hingga menimbulkan kepadatan dan kemacetan superparah tak terjadi. Transportasi pun terkelola dengan baik tanpa ada penumpukan di satu sisi dan kekosongan di sisi lain. Ketegangan jemaah haji pun juga terpecahkan. Semua persiapan berhasil maksimal di akhir perjalanan.

Karena itu, seandainya tak ada keputusan soal pemberlakuan murur, di sana pasti terjadi penumpukan jemaah haji yang cukup tinggi. Juga seandainya tak ada keputusan soal dibolehkannya murur dalam puncak ibadah haji di Armuzna, secara teknis di sana akan terjadi kelambatan dalam penunaian rangkaian ibadah haji. Ada dua masalah teknis ikutan yang pasti akan dihadapi oleh jemaah haji.

Pertama, para jemaah haji akan menghabiskan banyak waktu di satu titik ibadah. Tentu khususnya di muzdalifah. Mereka akan menghabiskan banyak waktu di area perbukitan muzdalifah yang berupa sahara itu. Bisa-bisa, mereka akan terlambat masuk ke rangkaian ibadah lainnya. Dan itu tentu sangat potensial untuk mengganggu terselenggaran seluruh rangkaian ibadah haji di Armuzna.

Kedua, para jemaah haji akan mengalami kondisi fisik yang semakin lama semakin melemah. Mereka akan mengalami kelelahan yang sangat tinggi. Penyebabnya, mereka berada di lapangan terbuka Muzdalifah dari malam hingga bisa saja sampai sore di hari berikutnya, seperti pengalaman tahun 2023 sebelummya. Belum lagi, dalam kondisi fisik yang kelelahan itu, mereka juga bisa berhadapan langsung dengan sengatan panas matahari yang kala itu mencapai hingga 54 derajat celcius.

Tentu, tingkat panasnya matahari itu di luar kemampuan rata-rata jemaah haji Indonesia untuk menghadapinya. Sebab, hawa panas dengan tingkat derajat celcius setinggi itu hampir tak pernah dialami di Indonesia. Lebih-lebih, kala itu di Armuzna ada ancaman heat stroke. Serangan hawa panas tinggi. Sebagai akibatnya, jemaah bisa mengalami dehidrasi parah yang bisa berujung pada ketidaksadaran diri secara medis atau bahkan kematian. 

Artinya, keputusan pemberlakuan murur dalam puncak ibadah haji di Armuzna oleh Menteri Agama RI Gus Yaqut adalah keputusan jitu. Hasil dari mitigasi risiko yang jempolan serta kerja keras pelaksanaannya yang membanggakan. Kebijakan murur yang diterapkan Menteri Agama itu terbukti telah menyelamatkan jemaah dari jebakan sekian masalah di puncak ibadah haji itu. Mulai dari problem penumpukan jamaah dalam jumlah yang supertinggi hingga serangan hawa panas.

Akhirnya, pelaksanaan haji tahun 1445 H/2024 M ini sukses besar. Jemaah pun bisa menunaikan ibadah hajinya dengan penuh tegar. Keberkahan pun bisa mereka rasakan semakin mekar. Bayangkan saja, sebagai contoh. Tahun lalu Muzdalifah baru bisa terurai bersih setelah jam 14:00. Tapi tahun ini, Muzdalifah sudah kosong dari jemaah asal Indonesia sejak pukul 07:30. Karena semua sudah terangkut dan bergeser ke Mina. Pelaksanaan haji tahun ini pun akhirnya dinilai lebih baik dari tahun-tahun sebelmnya.

Maka wajar saja, Menteri Agama RI Gus Yaqut tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Penyelenggaraan haji tahun 1445 H/2024 M yang bisa dibilang sukses besar menjadi latar belakangnya. Indikator penting di antaranya adalah penyelenggaraan rangkaian puncak ibadah haji di Armuzna berjalan dengan snagat baik. Layanan lainnya juga semakin menyempurnakan kesuksesan itu. Tentu semua itu membanggakan dan membahagiakan kita semua. Utamanya tentu Gus Men sebagai Amirul Hajj Indonesia 2024. 


Saking tingginya rasa bahagia itu, Gus Men pun akhirnya mengadakan malam sapa dan apresiasi kepada petugas haji Indonesia di Arab Saudi, Rabu (19/06/2024). Dia pun memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para petugas haji itu: “Penyelenggaraan haji tahun ini memang sukses besar. Tapi itu tidak istimewa. Yang istimewa itu justeru Bapak/Ibu para petugas haji semua. Sungguh luar biasa.” Lalu, ucapan terima kasih dan apresiasi yang tinggi pun meluncur dari lisan Gus Men untuk semua petugas haji. 

Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Haji 2024


$data['detail']->authorKontri->kontri

Prof. Akh Muzakki
Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo