"If the olive trees knew the hands that planted them,
Their oil would become tears."
—Mahmoud Darwish
Ketika Iran meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel pada pertengahan April 2024, dunia seakan kembali mengulang babak getir sejarah yang tak pernah selesai. Serangan ini adalah respons atas pengeboman Israel terhadap Konsulat Iran di Damaskus. Dalam sekejap, konflik yang sebelumnya laten kembali mendidih dan menciptakan ketakutan baru: apakah ini awal dari Perang Dunia ketiga di Timur Tengah?
Namun, sebagaimana yang sering terjadi dalam sejarah, yang pertama terbakar bukanlah jenderal atau diplomat, melainkan warga sipil. Perempuan, anak-anak, para tua, rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, dan masjid—semua menjadi korban dari ambisi politik yang meminjam nama agama dan nasionalisme. Dunia kembali gagal menjaga damai. Bahkan lebih buruk: dunia seolah membiarkan perang itu terus menyala.
Dalam kondisi seperti itu, puisi-puisi dari tanah yang terkoyak, terutama Palestina, kembali menggema. Di tengah berita-berita tentang serangan udara dan pertemuan darurat Dewan Keamanan, suara para penyair menjadi napas kemanusiaan yang nyaris padam. Dan di antara suara itu, nama Mahmoud Darwish kembali mengapung seperti pelampung di tengah badai sejarah yang mengombang-ambingkan bangsa-bangsa.
Darwish dan Air Mata yang Mencatat Sejarah
Mahmoud Darwish bukan hanya seorang penyair. Ia adalah suara bagi bangsa yang terusir, narasi bagi sejarah yang dipalsukan, dan nyala bagi kemanusiaan yang nyaris padam. Puisinya Identity Card, ditulis pada usia yang sangat muda, menyimpan luka dan kemarahan dengan jenaka yang getir:
“Aku orang Arab,
Nomorku lima puluh ribu,
Anakku delapan, dan yang kesembilan akan lahir
setelah musim panas.
Apakah itu membuatmu marah?”
Baris-baris ini bukan hanya pernyataan identitas, tetapi juga akta penolakan terhadap penindasan. Penyair tidak sekadar menulis tentang derita, ia menjadi saksi dan pelaku sejarah. Dalam puisi, Darwish membangun rumah ketika rumah-rumahnya dirubuhkan. Ia menulis dengan air mata, bukan hanya karena sedih, tetapi karena itulah tinta yang tersisa.
Ketika perang meletus, para pemimpin dunia menulis dengan senjata dan strategi. Sementara penyair menulis dengan luka dan doa. Maka, puisi Darwish menjadi semacam kontrak spiritual antara manusia dan nuraninya. Ia berbicara tentang hak untuk tetap hidup, untuk makan dari ladang sendiri, untuk tinggal di rumah sendiri, dan untuk tak merasa bersalah karena lahir di tanah yang diperebutkan.
Dunia yang Membiarkan Perang
Kini, dengan eskalasi konflik Iran-Israel yang turut mengoyak Gaza dan Lebanon, kita kembali menyaksikan dunia yang tampaknya sudah lelah memihak pada kemanusiaan. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengutuk, para pemimpin menyerukan “de-eskalasi”, tetapi senjata tetap dikirim, dukungan tetap diberikan, dan embargo tetap diberlakukan secara selektif. Dunia internasional seperti menjalani ritual tahunan: berduka sejenak, lalu kembali sibuk dengan agenda dalam negeri.
Ini bukan pertama kalinya dunia menutup mata. Sejak pendirian negara Israel pada 1948 dan terusirnya ratusan ribu warga Palestina, dunia telah berkali-kali absen dari keadilan. Bahkan ketika rumah sakit dibom dan anak-anak tewas, suara-suara negara besar lebih sibuk membahas “hak membela diri” daripada hak hidup rakyat sipil.
Mahmoud Darwish pernah menulis: "We suffer from an incurable malady: hope?" Harapan, dalam puisi Darwish, bukanlah optimisme kosong, tapi bentuk terakhir dari perlawanan. Ketika tak ada lagi diplomasi yang adil, dan ketika berita kehilangan akal sehat, puisi menjadi satu-satunya tempat yang tidak bisa diduduki. Di sinilah penyair menulis bukan untuk dipahami, tapi untuk didengar.
Menulis di Atas Puing-Puing
Puisi bukan hanya untuk mereka yang punya waktu luang. Di banyak negara yang dilanda perang, puisi justru menjadi satu-satunya bentuk keberanian. Di Gaza, di Teheran, di Damaskus, dan bahkan di desa-desa kecil yang tak masuk peta, penyair menulis dengan tangan gemetar—bukan karena takut, tapi karena tangannya belum sembuh dari luka kemarin.
Mereka menulis bukan untuk menciptakan keindahan, melainkan untuk mempertahankan martabat. Di tengah reruntuhan, puisi menjadi semacam tempat suci—tempat di mana bahasa tetap hidup meskipun tubuh tak lagi bernyawa. Dalam konteks ini, puisi adalah doa yang tidak perlu diterjemahkan, karena setiap orang yang memilikinya tahu betapa beratnya menuliskan air mata.
Air Mata sebagai Tinta, Doa sebagai Kata
Dalam Islam, air mata bukan hanya tanda kesedihan, tetapi juga bentuk paling jujur dari permohonan. Ketika Nabi Muhammad ﷺ berdoa hingga matanya basah, itu bukan karena kelemahan, tapi karena kekuatan cinta dan keadilan. Maka, menulis puisi dalam konteks perang adalah upaya spiritual yang sama: memelihara cinta pada hidup dan marah pada kezaliman.
Iran dan Israel mungkin berbicara dalam bahasa rudal, tapi rakyat bicara dengan bahasa kehilangan. Ketika rumah-rumah hancur, puisi bisa menjadi atap bagi nurani. Ketika nyawa tak dihitung, puisi bisa menjadi angka yang tak terhapus. Dan ketika Tuhan seolah diam, puisi bisa menjadi doa yang tak disangka-sangka.
Darwish, Iran, dan Bahasa yang Tak Mati
Konflik Iran-Israel hari ini bukan hanya pertarungan militer, tapi juga pertarungan narasi. Dan di tengah narasi-narasi resmi yang kering dan berpihak, puisi Darwish dan penyair-penyair lainnya menjadi pengingat bahwa ada sisi lain dari perang: sisi manusia. Di situlah kita belajar bahwa bahasa bisa lebih kuat dari senjata, dan bahwa puisi bisa lebih abadi dari peluru.
Sebab, ketika dunia membiarkan perang, hanya puisi yang tetap berdiri. Hanya penyair yang masih bersaksi. Dan hanya air mata yang tetap setia menjadi tinta bagi kebenaran yang tak diberi tempat.
Penutup: Jangan Bungkam Suara Kemanusiaan
Kini, tugas kita bukan hanya membaca puisi, tetapi mendengarkannya. Dunia tidak boleh hanya membaca statistik, tapi juga merasakan jeritan. Ketika penyair menulis dengan air mata, mereka tidak hanya menyampaikan kesedihan, tetapi memanggil kita untuk kembali menjadi manusia.
Karena di dunia yang semakin ramai oleh kebisingan kebencian, puisi tetap menjadi satu-satunya suara yang lahir dari keheningan hati. Dan selama puisi masih ditulis, kemanusiaan belum sepenuhnya mati.
Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Editor:


