Dark
Light
Dark
Light

Memoar Puisi

Memoar Puisi

Pada masa kolonial, orang-orang di tanah jajahan sudah berpuisi. Mereka menulis larik-larik berbeda dari berita dan cerita. Dulu, sebutan belum puisi. Tulisan-tulisan itu tampil di pelbagai surat kabar. Hasrat berpuisi berbarengan dengan pikat pers. Nama-nama mereka tak lagi teringat meski kita bisa membuka buku berjudul Puisi Indonesia Sebelum Perang (2003) susunan Sapardi Djoko Damono.

Di situ, kita menemukan nama-nama penulis peranakan Tionghoa. Mereka berada di babak awal ketekunan menulis puisi. Di pelbagai tulisan sejarah sastra, kaum peranakan Tionghoa biasa terbaca dalam gubahan cerita atau novel. Mereka pun mempersembahkan puisi-puisi di pelbagai surat kabar. Kebiasaan menerbitkan buku puisi belum marak.

Di terbitaan majalah memuat cerita atau buku-buku kecil hiburan, puisi-puisi kaum peranakan Tionghoa turut mengisi halaman-halaman masih longgar atau kosong. Kita beranggapan puisi belum mendapat ruang terhormat. Puisi “membonceng” cerita-cerita atau berita-berita.

 

Di alur berbeda, puisi-puisi terbaca dalam Almanak Moehammadijah. Pada masa 1920-an dan 1930-an, terbitan rutin buku Almanak Moehammadijah dipastikan memuat puisi-puisi. Para pembaca menikmati puisi bertema religius atau “mengiklankan” kemajuan-kemajuan diadakan oleh organisasi bertokoh Ahmad Dahlan. Nama-nama mereka tak lagi teringat.

Pada masa setelah Perang Dunia II, orang-orang mengenal nama besar: Chairil Anwar. Tokoh dijadikan penentuan Hari Puisi di Indonesia setiap 28 April. Kemunculan tokoh besar berdampak “melupakan” nama-nama terdahulu. Di sekolah dan universitas, Chairil Anwar itu nama wajib bila berurusan puisi. Nama-nama lama awal abad XX mungkin “menghilang” atau tak sempat terajarkan.

Kita pun mengingat nama-nama setelah Chairil Anwar memang bermunculan dengan capaian-capaian penting, Mereka tetap saja “di belakang” Chairil Anwar. Puisi modern datang terlambat ke Indonesia. Konon, “puncak” lekas terbukti melalui puisi-puisi gubahan Chairil Anwar. “Puncak” mendapat tepuk tangan dan sesalan.

Chairil Anwar mati tapi pengaruh terus membesar sampai sekarang. Puisi-puisi persembahan Chairil Anwar tetap utama dan “pusat”. Pada masa setelah kenatian, nama-nama baru mendapatkan tempat melalui olah estetika dan pembentukan biografi. Kita mengetahui Toto Sudarto Bachtiar, Sitor Situmorang, Rendra, Ramadhan KH, Ajip Rosidi, dan lain-lain. Pada masa 1950-an, puisi di Indonesia ingin “berubah” agar tak terlalu merujuk warisan-warisan Chairil Anwar.

Goenawan Mohamad (1960) menerangkan: “Puisi tahun 1950-an memang memperlihatkan banyaknya lanskap, lukisan alam atau warna setempat, tema-tema dari dongeng rakyat, pastoral-pastoral yang tenteram. Sukarlah disangkal bahwa itu semua bukan identitas kesusastraan mutakhir kita juga pada akhirnya. Apakah sebabnya? Orang mengatakan bahwa zaman berbeda dari masa sekitar 1945, suasana telah berganti. Tapi meskipun kesusastraan adalah suatu kesaksian atas kondisi manusia dalam keadaan dan waktu tertentu, ia bukanlah replika yang lengkap dari sang zaman. Lagi pula perlu diingat bahwa ciri kesusastraan di suatu masa kadang-kadang dilahirkan oleh beberapa pribadi yang punya latar belakang pengalaman sendiri tanpa hubungannya secara langsung dengan keadaan sosial di masanya….” Pada saat gejolak-gejolak menguat pada masa 1950-an, Chairil Anwar tak lagi berjalan di “bumi puisi” Indonesia. Ia telah diziarahi tapi puisi-puisi tak ikut dikuburkan.

Pada abad XXI, puisi Indonesia masih bereferensi Chairil Anwar. Nama-nama setelah Chairil Anwar terus bertambah meski sulit setara atau melampaui. Kita bisa terjebak anggapan umum. Pengakuan ada tokoh-tokoh melampaui kebesaran Chairil Anwar masih bisa disajikan tanpa harus rikuh di depan segala protes dan ledekan kaum fanatik.

Sekian nama besar setelah Chairil Anwar perlahan menjadi “mitos” melalui penerbitan buku-buku sering cetak ulang. Sapardi Djoko Damono menjadi nama patut tercatat. Di puisi berjudul Panorama, ia menulis: “Aku mau menulis puisi!” teriakmu. Hanya kabut/ yang terkejut. Sementara ada yang dalam dirimu/ sibuk keluar masuk. Sementara kau bersitahan/ pada panorama: kebun teh,/ jalan setapak, bunga-bunga kecil yang mekar/ di pinggirnya, kerikil di bawah sepatu,/ dan udara dingin. Aku mau menulis puisi! Kita membaca puisi digubah pada abad XXI oleh sosok sudah menua. Ia tenar sejak masa 1970-an dan berlanjut sampai abad XXI mirip “penguasa baru” setelah Chairil Anwar.

Puisi di Indonesia tak mutlak atau selalu milik kaum lelaki. Sekian tahun kemarin, kita mendapat kenikmatan saat membaca puisi-puisi gubahan Cyntha Hariadi. Puisi tak harus menerima warisan-warisan pengaruh Chairil Anwar. Para pembaca menemukan “selera” menjauh dari “kegagahan” dalam arus puisi Indonesia. Pembaca pun terkesima seolah mendapat tokoh baru dan jalan berbeda.

Kita membaca puisi berjudul Pengumpul Kata. Puisi tersaji dalam situasi mutakhir. Kita menikmati tanpa wajib mengingat nama-nama besar terdahulu: Seberapa banyak kata yang kau pahami, lebahku?// Kusuapi kau kata demi kata demi hari/ sambil bersenandung dan bercerita tentang segala/ yang tersinari matahari dan rembulan yang tinggi hati/ bahasa merdu penghantar tidur ketika kau sedang termenung/ sementara jam menahan detaknya sampai setiap kata/ yang ingin ia dengarkan terucap dari mulutku/ dan aku harap kau simpan di rongga nuranimu. Puisi tak terlalu sulit dibaca dan ditafsir meski memberi pukau berbeda dari kebiasaan kita membaca puisi-puisi gubahan Toeti H, Isma Sawitri, Dorothea RH, dan Oka Rusmini. Puisi terbukti bukan melulu milik lelaki meneladani Chairil Anwar.

Kini, 28 April 2025, kita masih mengingat Chairil Anwar. Kita boleh berlanjut memikirkan nama-nama berbeda dan menikmati puisi-puisi baru. Hari Puisi bukan hari paling keramat. Kita sekadar membuat peringatan. Kita memang belum ingin mengeramatkan puisi dan membuat mitos tunggal Chairil Anwar. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo