Alkisah, titimangsa 1849, sastrawan Prancis Gustave Flaubert, pengarang Madame Bovary dan karya-karya klasik lainnya, bepergian ke sepanjang wilayah Mesir. Ia beranjak dari Alexandria ke selatan menuju Wadi Halfa di Sudan.
Dari semua tempat yang dilihat penulis berusia 29 tahun ini dalam pelayarannya ke Timur, Mesirlah yang membakar imajinasinya, sebagaimana kelak selama sisa hidupnya.
Seperti yang didedahkan dalam surat-suratnya kepada ibunya dan kepada Bouillet–kelak diterbitkan dalam buku berjudul Flaubert in Egypt: A Sensibility on Tour (1996)–pikirannya sekarang tertuju pada masa depan dan buku-buku yang dia ingin tulis. Di antara buku-buku yang dibayangkannya adalah novel berjudul Harel Bey, di dalamnya berkisah seorang Barat yang beradab dan Timur yang biadab, pelan-pelan menyerupai satu sama lain, dan akhirnya bertukar tempat.
Dari apa yang dia tulis untuk ibunya, terlukiskan jelas bahwa semua unsur yang kelak akan membentuk mitos Flaubert –penolakannya untuk menganggap serius apa pun selain seni, kebenciannya pada kehidupan borjuis, perkawinan, mencari nafkah dengan berdagang– sudah ada.
Selain reruntuhan kuno kota Luxor, Flaubert tidak begitu terkesan dengan monumen-monumen di sana. “Kuil-kuil Mesir sangat membosankan bagiku,” katanya dalam catatan buku harian pada Maret 1850. Dia juga tak begitu tertarik dengan misi resminya: mengepul informasi untuk Departemen Pertanian dan Perdagangan Prancis.
Bagi seorang pria yang berkecenderungan romantis dan berselera luas seperti Flaubert, pencarian fakta perdagangan merupakan pekerjaan yang tidak memuaskan. Yang benar-benar memikat penulis itu adalah orang-orang yang berada dalam kehidupan mereka yang paling intim dan mantiki. Mujur bagi Flaubert, Mesir memberinya “aneka warna yang mencukupi” untuk urusan ini. Namun, bagian lain dari catatannya yang terperinci itulah yang paling penting dalam penjelajahan itu (Frederick Brown 2007).
Baru turun dari kapal, Flaubert menghabiskan satu malam di rumah bordil bersama para pelacur Turki. “Kemaluan mereka yang dicukur menimbulkan efek yang ganjil –dagingnya sekeras perunggu, dan gadisku berpantat bahenol,” begitu dia tuliskan secara blak-blakan ke negara asalnya.
Meski harus bergulat dengan penyakit raja singa (sifilis) yang mengakibatkan rambutnya rontok begitu mendadak, bahkan kini dia mengeluh karena mengidap tujuh benjolan pada penisnya, Flaubert tetap melanjutkan petualangannya bercinta ke hulu Sungai Nil.
Dia menulis panjang lebar ihwal para pelacur di desa Esna di Selatan, dan terutama ihwal waktu yang dia habiskan bersama Kuchuk Hanem, “Makhluk jangkung dan cantik, warna kulitnya lebih terang dibanding kulit wanita Arab... kulitnya, terutama kulit tubuhnya, sedikit berwarna kopi. Ketika ia membungkuk, dagingnya beriak-riak laksana perbukitan perunggu. Matanya gelap dan besar... bahunya padat, payudaranya bulat penuh laiknya apel.”
Kunjungan Flaubert ke istana kenikmatan Hanem menampilkan musik dan tarian striptis (versi telanjang bulat dari tari tradisional Mesir yang disebut tari lebah) selain urusan bisnis yang ditanganinya: “Aku bercinta dengan Safia Zoughairah [salah satu rekan Hanem]. Ia begitu nakal, bergeliat-geliat, menggelinjang, penuh kenikmatan, seekor macan betina kecil. Aku menodai dipan. [Dan kemudian] ronde kedua bersama Kuchuk. Aku menggigit kalungnya di sela-sela gigiku, saat aku mencengkeram bahunya. Kemaluannya mencengkeramku seperti gulungan beludru. Aku merasa trengginas.”
Tatkala Flaubert tidak sedang bersanggama, dia melihat hubungan seks hampir di semua tempat. Kehidupan jalanan Kairo yang mesum memikat imajinasinya: lakon-lakon pendek perihal pelacur dan keledai kawin; anak-anak bermain, para gadis “membuat suara kentut tiruan dengan tangan mereka”; seorang anak menjadi germo bagi ibunya (“Jika kau bersedia memberiku lima para, aku akan membawakanmu ibuku untuk diajak bercinta. Aku doakan kau dikaruniai segala macam kemakmuran, terutama kemaluan yang panjang”).
Selain berkeliling masjid-masjid dan piramida yang sudah umum, Flaubert melakukan tamasya yang tidak biasa. Di Rumah Sakit Kasr al-Ainy, dia berkeliling di bangsal sifilis; sesuai aba-aba dari dokter, pasien laki-laki “berdiri di atas tempat tidur mereka, mencopot sabuk celana mereka (ini seperti latihan militer), dan membuka anus mereka dengan jemari untuk menunjukkan bisul mereka.”
Bukan berarti hal ihwal ini menghalangi Flaubert dari petualangan cinta sesama jenis. Karena dia menyurati seorang teman: “Di sini hal demikian cukup lumrah. Orang mengakui sodomi yang dilakukannya, dan hal itu dibicarakan pada perjamuan di hotel. Kadang-kadang kau melakukan sedikit penyangkalan, dan kemudian semua orang menggodamu dan akhirnya kau pun mengaku. Karena kami melakukan perjalanan demi tujuan pendidikan, dan dibebani suatu misi oleh pemerintah, kami menganggap sudah kewajiban kami untuk melibatkan diri dalam bentuk ejakulasi semacam ini. Sejauh ini kesempatan itu belum menampakkan diri. Akan tetapi, kami terus mencarinya.”
Menurut Geoffrey Wall dalam karyanya Flaubert: A Life (2002), penelitian Flaubert termasuk terlibat dalam pertunjukkan pelacur-penari pria Kairo (“menawan dalam kebejatan mereka, dalam lirikan-lirikan binal mereka, dan kefeminiman gerakan-gerakan mereka, berpakaian seperti wanita, mata mereka dipulas dengan antimon”) dan waktu yang menyenangkan di Hammam, di mana tukang pijat “mengangkat boules d’amour milikku untuk membersihkannya, kemudian sambil menggosok dadaku dengan tangan kirinya dia mulai menarik-narik kemaluanku dengan tangan kanannya, dan seraya menariknya ke atas dan ke bawah dengan cergas, dia bersandar di bahuku dan berkata ‘tip, tip’” sebuah kesempatan yang ditolak Flaubert karena pria tukang pijit itu sudah tidak cukup muda atau tak cukup tampan untuk seleranya. Flaubert dan orang-orang sezamannya menemukan banyak hal untuk mereka kagumi dalam kemudahan seksual yang nyata di Timur.
Kiwari, Flaubert dan dan komentator abad ke-19 ihwal budaya seksual Arab lainnya berada di urutan teratas dalam daftar penjahat Orientalis. Orientalisme, yang dulu merupakan istilah netral yang digunakan untuk melukiskan studi tentang kawasan Arab dan berbagai bagian yang lebih jauh ke timur, menjadi sejenis hinaan pasca Edward W. Said menerbitkan bukunya dengan judul Orientalism (1978).
Di dalamnya, Said mengkritik bergenerasi-generasi sarjana Barat karena telah memroyeksikan kawasan Arab melalui prisma prasangka rasial, agama, dan kepentingan politik mereka sendiri, membuat Orientalisme menjadi “sebuah gaya Barat untuk mendominasi, merestrukturisasi, dan memperoleh otoritas atas Timur.
Walhasil, menurut Said, adalah transformasi Timur menjadi suatu “tablo keanehan yang hidup”, termasuk pelbagai kebiasaan seksualnya, dan dengan demikian menegaskan superioritas Barat dan membenarkan hegemoni Barat atas kawasan itu, beserta masyarakatnya. Said sangat kritis terhadap para komentator Barat dan laporan-laporan mereka yang dierotiskan perihal kehidupan Arab, mengirimkan koloni demi mendapatkan kecabuhan yang tak bisa mereka dapatkan dalam iklim yang kaku di tanah air mereka.
Memang seks telah lama menjadi jurang pemisah antara dunia Arab dan Barat. Hari ini, yang pertama tampaknya sibuk menyangkal tubuh, sedangkan yang kedua tampaknya senang membiarkan semuanya nampak. Namun, yang sering kali terlewatkan dalam sikap saling tuduh ini adalah bahwa posisi demikian selalu berubah; pada masa lain dalam sejarah, Timur dan Barat bertukar tempat. Laiknya ujar Eka Kurniawan dalam cerita pendeknya Di Larang Kencing di Sini, “Penis lelaki memang merupakan masalah dunia...”.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor:


