Kalau Soal Palestina, Kita Semua Sama Seperti Gus Yahya

Kalau Soal Palestina, Kita Semua Sama Seperti Gus Yahya

Ngopi tengah malam di tepi kali Ciliwung. Saya rasan-rasan asyik sama kawan satu asbak, panggilan gaulnya Quro. Tiba-tiba saja kawan lama yang nyaris tidak pernah membahas agama ini, tiada angin tiada hujan mengajak omon-omon religi. Mengajak memahami arti kesabaran, makna hidup, sampai filosofi tentang jalan terjal menapaki hakikat keikhlasan. 

Contoh ikhlas itu, kata dia, bagaimana kita bisa merelakan uang yang dipinjam sama teman. Tidak usah ditagih, ikhlaskan. Saya mesem-mesem saja. Tapi namanya juga obrolan asal, tema jadi seperti kodok, loncat sana-sini sekata-kata dia. Lalu tiba momen ketika kawan ini menyinggung isu lumayan serius: kegaduhan di NU, soal pemakzulan Gus Yahya dari jabatan Ketum PBNU. 

Quro selalu menegaskan diri bukan orang NU. Ia mengklaim sebagai pemuda Persis. Terus ngapain orang Persis tanya-tanya soal NU? Jawabannya pendek: Gaduh. Surat Rais Aam PBNU yang meminta Gus Yahya mundur beredar ke mana-mana. Dan apa iya alasan utamanya gara-gara isu Palestina? Di media sosial analisisnya macam-macam. Saya ngeles saja, bukan maqom saya mengomentari masalah itu. 

Tapi yang terjadi setelahnya, dalam perjalanan pulang ngopi-motoran sendiri-menjelang pagi itu, pikiran saya melayang tidak keruan. Membayangkan kausalitas Pemakzulan Gus Yahya dengan isu Palestina. Seperti isi kepala si Quro, saya juga bertanya-tanya. Apa iya Gus Yahya diminta mundur gara-gara isu Palestina? 

Sampai di rumah tidak bisa tidur. Lekas saja saya buka-buka media sosial. Duh...,kok pening rasanya kepala. Banyak konten-konten analisis yang entah dari mana sumbernya berseliweran. Membaca komentar-komentarnya itu, mohon maaf, sungguhan tidak salah kalau warganet kita dibilang bar-bar nomor wahid; cacian, hujatan, ya ampun....,tapi ya sudah lah. 

Saya tentu punya pendapat sendiri melihat isu Palestina ini. Sepertinya kita semua sejatinya sama saja dengan Gus Yahya: sama-sama tidak mampu menyelesaikan perang di Gaza. Namun sebagai muslim, terutama Nahdliyin, setidaknya kita sama-sama sudah berupaya. Ada yang mengirim bantuan kemanusiaan, "jihad medsos" memerangi akun-akun propaganda Israel, melawan lewat tulisan, ada yang mampunya lewat qunut nazilah dan doa-doa saja. 

Namun pada akhirnya, tiada manusia manapun di bumi mampu menghukum kejahatan Israel di Gaza itu. Orang kuat seperti Donald Trump? Ah, "tai kucing", presiden Amerika itu malah jadi suporter Netanyahu. Vladimir Putin? King Salman? Xi Jinping? Erdogan? Atau sebut saja presiden kuat mana? Tidak ada yang bisa. Bahkan presiden kita, Prabowo Subianto, sama saja. 

Sampai sekarang ini, Netanyahu masih leluasa menebar teror perang dan melenggang bebas-bebas saja. Di PBB bahkan, ia bisa berpidato nyaman-nyaman saja di depan pemimpin dunia. Walaupun banyak yang menyerukan "stop perang", tapi hasilnya? Setiap hari terus saja ada kabar kematian dari Gaza; anak-anak, orang tua, ibu-ibu, kian merana nasibnya. 

Jadi sekali lagi intinya kita sama saja seperti Gus Yahya, sama-sama tidak berdaya menyetop agresi Israel. Gus Yahya, dalam banyak berita-silakan cek di mesin pencari-sering mengundang Dubes Palestina, mendiskusikan jalan damai perang Gaza. Statement-nya soal two state solution (solusi dua negara) juga sering disampaikan. Mengkritik Israel? Browsing saja, banyak artikelnya. 

Lalu dari mana tuduhan pro-Zionis itu? Kalau semata-mata karena mengundang Peter Berkowitz, akademisi pro-Israel, sepertinya kok jauh panggang dari api, tidak mungkin rasa-rasanya itu menjadikan Gus Yahya antek Israel. Apalagi dalam kasus Peter Berkowitz, Gus Yahya sebagai Ketum PBNU sudah meminta maaf dan mengaku khilaf. 

Atau, bisa jadi benar komentar analis-analis amatir di Medsos itu, jangan-jangan ada alasan lain yang tidak nampak, yang kalau diungkap bisa lebih impactfull mengguncang dunia per-kiaian dari sekadar isu Palestina? Intervensi politik, isu tambang, muktamar, atau kepentingan jabatan?

Sampai subuh saya tidak bisa tidur. Kok lama-lama pikiran ini seperti terpengaruh si Quro. Saya tepis sendiri, ini bukan maqom saya. Semoga kegaduhan mereda. Long Live NU...!


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Taufiq
Wakil Pemimpin Redaksi Arina.id


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo