Buruh digital di media sosial menyerupai pekerjaan rumah tangga karena tidak berupah, terutama dilakukan pada waktu luang, tak memiliki perwakilan serikat pekerja, dan musykil untuk dianggap sebagai pekerjaan.
Seperti halnya pekerjaan rumah tangga, pekerjaan ini melibatkan eksternalisasi, atau eks-teritorialisasi biaya yang seharusnya ditanggung oleh kapitalis. Lema “urun daya” (crowdsourcing) mengungkapkan perihal ini dengan jitu: bahwa proses “alih daya” (outsourcing) yang membantu kapital untuk menghemat biaya tenaga kerja.
Seperti halnya pekerjaan rumah tangga, buruh digital adalah sumber eksploitasi yang tidak terkendali dan tak tepermanai.
Jika kita menelisik budaya perbudakan manusia, tidak ada upah dan eksploitasi tidak terbatas dalam arti bahwa seluruh hari kerja tidak dibayar. Waktu kerja yang diperlukan diminimalkan, waktu kerja yang menghasilkan nilai tambah dimaksimalkan. Buruh digital memiliki kesamaan dengan perbudakan klasik, yaitu pekerjaannya tidak dibayar dan sangat dieksploitasi.
Namun, ada perbedaan penting mengenai cara pemaksaan. Baik buruh digital maupun budak klasik bukanlah komoditas: mereka berdua tidak menjual tenaga kerja mereka sebagai komoditas di pasar tenaga kerja.
Perbedaan yang krusial adalah modus pemaksaan: budak adalah milik pribadi tuannya, sedangkan pekerja digital bukanlah milik pribadi.
Oleh karena itu, seperti halnya ibu rumah tangga, buruh digital menciptakan nilai dalam kondisi yang terlepas dari hubungan kepemilikan, sedangkan budak adalah bentuk kepemilikan pribadi itu sendiri. Pada keduanya (kerja budak dan pekerja digital), permainan dan kerja bertaut—karena waktu bermain keduanya adalah waktu kerja.
Perbedaannya adalah bahwa pekerjaan budak cenderung bersifat manual yang biut dan melelahkan secara fisik dan tidak terasa seolah-olah bermain, sedangkan buruh digital adalah pekerjaan informasi yang terasa hampir secara eksklusif atau sebagian besar laksana bermain.
Budak dipaksa secara biadab dengan tangan, cambuk, peluru—mereka disiksa, dipukuli, atau dibunuh andai mereka menolak untuk bekerja. Kekerasan yang dilakukan terhadap mereka ialah terutama bersifat fisik.
Pekerja rumah tangga juga sebagian dipaksa secara fisik dalam kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, mereka dihegemoni oleh perasaan cinta, komitmen, dan tanggung jawab yang membuat mereka bekerja demi keluarga. Pemaksaan utama dalam pekerjaan rumah tangga, patriarki dilakukan oleh perasaan afektif.
Menurut Nick Dyer-Witheford, dalam Cyber-Proletariat: Global Labour in the Digital Vortex (2015), dalam kasus buruh digital, pemaksaan terutama bersifat sosial: platform besar seperti facebook, misalnya, telah berhasil memonopoli pasokan layanan tertentu, seperti jejaring sosial daring, dan memiliki lebih dari satu miliar pengguna, yang memungkinkan mereka untuk melakukan bentuk pemaksaan yang lembut dan hampir tidak terlihat, di mana pengguna dirantai ke platform komersial karena semua teman dan kontak penting mereka ada di sana dan mereka tidak ingin kehilangan kontak-kontak ini, dan oleh karena itu kita menjadi terpenjara oleh media sosial.
Eksploitasi, Alienasi
Bagi Karl Marx (1818-1883), alienasi buruh berarti bahwa manusia harus membiarkan kapital mengendalikan aktivitas produktif mereka untuk sebagian waktu tertentu agar dapat bertahan hidup. Salah satu argumen yang lamat-lamat terdengar tentang buruh digital adalah bahwa pengguna media sosial tidak dieksploitasi karena tak ada yang memaksa mereka untuk menggunakan platform tersebut; mereka melakukannya secara sukarela dan bersenang-senang.
Agar bisa hidup, manusia tidak hanya harus makan, tetapi juga harus menjalin hubungan sosial, berkomunikasi dan persahabatan. Isolasi seseorang dari komunikasi dan jejaring sosial pada akhirnya akan mengakibatkan kematian atau eksistensi laksana binatang.
Wicara dan otak merupakan jantung dari kekuatan komunikasi manusia. Mereka hanya dapat digunakan dalam hubungan sosial, dalam hubungan dengan manusia lain. Dalam masyarakat informasi, media digital bagi banyak orang telah menjadi sarana interaksi penting yang digunakan manusia untuk memanfaatkan kekuatan komunikasi mereka.
Buruh oleh karena itu sebagian merupakan kekuatan komunikasi. Jika seseorang ingin menggunakan situs jejaring sosial (social networking site, SNS) untuk berkomunikasi dengan orang lain, maka media sosial adalah pilihan yang paling mungkin karena media sosial mengontrol sejumlah besar pengguna dan profil mereka, yang membuatnya sangat mungkin bahwa individu terlibat dalam sejumlah besar komunikasi yang bermakna jika mereka mengakses media sosial. Jikalau mereka tidak menggunakan media sosial, kehidupan mereka mungkin melibatkan lebih sedikit interaksi yang berarti.
Hal ihwal ini terutama berlaku untuk anak muda, yang merupakan pengguna media sosial paling aktif dan cenderung mengatur kegiatan sehari-hari (seperti pesta, kencan, obrolan ringan, hiburan, dll.) dengan bantuan media sosial.
Pemaksaan yang dilakukan oleh media sosial terhadap pengguna bukanlah pemaksaan yang membuat mereka mati secara fisik seperti pada kasus buruh konvensional, yang tak mendapatkan pekerjaan dan tidak mendapatkan tunjangan; ini lebih merupakan bentuk pemaksaan sosial yang mengancam pengguna dengan isolasi dan kerugian sosial. Media sosial tidak membayar untuk kerja mereka.
Instrumen utama kerja di media sosial adalah platform itu sendiri dan otak para penggunanya. Alienasi otak pengguna berarti ada upaya untuk menyebarkan ideologi yang menampilkan media sosial dan platform perusahaan lainnya sebagai sesuatu yang murni positif dan tidak memiliki dampak negatif.
Model akumulasi modal media sosial didasarkan pada iklan bertarget. Isi dari iklan-iklan ini terutama difokuskan pada promosi komoditas tertentu. Iklan-iklan di media sosial bertujuan untuk mengajak pengguna untuk membeli komoditas tertentu.
Iklan bersifat ideologis dalam arti bahwa iklan itu sering membuat klaim yang hiperbolis tentang komoditas, dan menampilkannya sebagai hal terbaik yang ada di dunia dan sebagai sesuatu yang harus dimiliki seseorang untuk kehidupan. Tujuannya adalah agar konsumen membeli komoditas itu dan membentuk kebutuhan dan keinginan mereka sedemikian rupa sehingga mereka merasa bahwa mereka harus memiliki barang-barang ini.
Instrumentalisasi otak, tangan, mulut, telinga, dan ucapan pengguna, internet dan platform untuk iklan merupakan bagian penting dari alienasi kerja dari para pengguna di Media sosial dan media sosial perusahaan lainnya. Keterasingan alat kerja juga berarti dalam konteks Media sosial, pengguna tidak memiliki dan mengontrol platform itu.
Di sisi liyan, media sosial dan media daring lainnya yang profesinya didasarkan pada iklan bertarget didasarkan pada eksploitasi buruh pengguna dan komodifikasi data pribadi. Desakan tentang media sosial dan budaya partisipatoris bersifat ideologis dan merayakan kapitalisme, serta bahwa realitas “media sosial” adalah bentuk anyar dari eksploitasi dan alienasi.
Kita bisa menafsirkannya dengan bantuan analisis Karl Marx perihal karakter ganda kerja sebagai kerja konkret yang menghasilkan nilai guna dan kerja abstrak yang menghasilkan nilai.
Dalam Karl Marx’s Realist Critique of Capitalism: Freedom, Alienation, and Socialism (2022), Paul Raekstad mendedahkan, bahwa menurut Karl Marx, komoditas merupakan objek dengan karakter ganda, memiliki nilai guna dan nilai tukar. Komoditas memenuhi kebutuhan manusia dan dipertukarkan dengan uang.
Dengan demikian, kepuasan kebutuhan manusia menjadi tergantung pada bentuk komoditas dan uang. Mengingat bahwa komoditas memiliki karakter ganda, kerja yang menciptakan komoditas juga memiliki karakter ganda: ia menghasilkan nilai guna (kerja) dan nilai (tenaga kerja).
Penciptaan nilai guna adalah praktik antropologis dari produksi ekonomi, sedangkan nilai dan nilai tukar adalah ciri-ciri historis. Marx berteori tentang hal yang esensial dan historis dari masyarakat dengan menunjukkan karakter dialektis dari kapitalisme, tenaga kerja, dan komoditas.
Mengingat bahwa “media sosial” menghasilkan akumulasi modal, mereka terhubung dengan bentuk komoditas dan oleh karena itu karakter ganda dari komoditas dan proses kerja juga harus diterapkan pada jenis media ini.
Karakter ganda dari komoditas dan proses kerja sering kali terabaikan jika klaim dibuat, bahwa media sosial adalah bentuk anyar dari kreativitas, sosialitas dan partisipasi, atau bentuk baru dari eksploitasi.
Klaim pertama berfokus pada bentuk nilai guna, klaim kedua pada bentuk nilai tukar media sosial. Tetapi komoditas memiliki keduanya bentuk nilai guna dan nilai tukar dan merupakan kristalisasi dari kerja konkret (kerja) dan kerja abstrak.
Jadi, dua klaim tentang media sosial secara inheren saling terkait-kelindan, dan pemikiran dialektis memungkinkan kita untuk meneroka hubungan ini: agar Facebook, Twitter, YouTube, dan platform blog perusahaan dapat eksis, pengguna harus cukup aktif, sosial, kreatif, dan berjejaring.
Pekerjaan daring (online) yang mereka lakukan di media sosial adalah pekerjaan informasi, pekerjaan afektif, pekerjaan kognitif, pekerjaan komunikatif, pekerjaan komunitas, dan pekerjaan kolaboratif. Kerja-kerja ini menciptakan profil, konten, data transaksi dan hubungan sosial. Nilai guna dari media sosial adalah bahwa ia memungkinkan penggunanya untuk menginformasikan diri mereka sendiri, berbagi, berkomunikasi dan berkolaborasi serta membangun dan memelihara komunitas.
Nilai guna media sosial ada pada fitur informasinya: media sosial adalah alat untuk kognisi, komunikasi, dan kerja sama. Namun, nilai guna ini berada di bawah nilai tukar media sosial yang membutuhkan dan didasarkan pada proses kerja konkret: aktivitas, hubungan sosial, dan kreatif yang menciptakan nilai guna media sosial juga membentuk nilai ekonomi.
Dan dengan demikian menciptakan komoditas data yang dijual kepada pengiklan yang ditargetkan, mencapai mencapai harga pasar dan membantu perusahaan media sosial untuk mencapai keuntungan.
Kreativitas, berbagi, dan aktivitas pengguna yang terhubung menghasilkan nilai guna dan nilai tukar ini adalah kerja konkret dan kerja abstrak. Nilai guna dari media sosial dimasukkan ke dalam nilai di bawah nilai tukar, tapi pada saat yang sama mewakili sosialisasi kerja yang mengarah dan memiliki potensi untuk melampaui bentuk komoditas—ini adalah salah satu “mikroorganisme parasit” dari ekonomi nilai guna.
Christian Fuchs dalam bukunya, Digital Labour and Karl Marx (2014), meneroka bahwa di media sosial, permainan dan kerja bertemu menjadi kerja bermain yang dieksploitasi untuk akumulasi kapital. Oleh karena itu, media sosial merupakan singkatan dari komodifikasi dan eksploitasi waktu secara keseluruhan—semua waktu manusia cenderung menjadi waktu penghasil nilai tambah yang dieksploitasi oleh kapital. Kerja berdiri dalam relasi dialektis dengan bermain: dalam bermain, manusia memiliki kebebasan untuk melakukan apa pun yang ingin dilakukan dengan objek permainannya.
Dalam masyarakat di mana kerja adalah kerja keras, bermain akan berhubungan secara dialektis dengan pekerjaan sedemikian rupa sehingga menjadi pelarian darinya. Bermain adalah pengalihan perhatian, relaksasi diri, pemulihan diri untuk tujuan konsentrasi baru, ketegangan, dlsb.
Dengan demikian, bermain dalam totalitasnya selalu terkait dengan yang liyan dari mana ia berasal dan di mana ia ditujukan, dan yang liyan ini sudah terbentuk sebelumnya sebagai tenaga kerja melalui karakteristik resimenasi, ketegangan, kerja keras, dll. Kerja adalah proses yang tahan lama dan permanen yang menghasilkan objek-objek di dunia yang memuaskan kebutuhan manusia.
Sebaliknya, bermain terjadi secara tidak teratur dan tidak melibatkan kebutuhan untuk menciptakan nilai guna yang memuaskan kebutuhan manusia: bermain memiliki kebebasan untuk melakukan apa pun yang disukai.
Hal ihwal ini dapat melibatkan penciptaan objek anyar, tetapi juga menghancurkan yang sudah ada atau terlibat dalam aktivitas yang tidak produktif yang merupakan kesenangan individu dan tidak menciptakan sesuatu yang anyar.
Kerja sambilan tidak teratur dalam artian terjadi pada waktu dan interval yang tidak teratur, tetapi bersifat permanen karena pengguna cenderung kembali dan memperbarui profil mereka danmengulangi aktivitas mereka.
Sedangkan kerja menciptakan objek baru yang memiliki keabadian di dunia dan memenuhi kebutuhan manusia dan bermain memiliki kebebasan untuk melakukan objek apa pun yang diinginkan, pengguna Media sosial memiliki kebebasan untuk mendesain profilnya sesuka hati (tapi diberi batasan yang ketat oleh Media sosial), seperti kolom input yang tersedia, jenis gambar, video, dan komentar apa yang boleh, tapi setiap perilaku dan aktivitas berselancar di Media sosial menjadi permanen dengan menjadi data yang disimpan, diproses, dianalisis, dan dikomodifikasi untuk kepentingan iklan bertarget.
Sedangkan bermain adalah relaksasi dan pengalihan perhatian dari ketidakbebasan dan kesulitan kerja dan pada saat yang sama rekreasi tenaga kerja.
Keterpisahan antara bermain dan bekerja: penggunaan media sosial adalah relaksasi, kegembiraan dan kesenangan, serta pada saat yang sama, seperti halnya tenaga kerja, ia menciptakan nilai ekonomi yang menghasilkan atau dapat menghasilkan keuntungan moneter. Rekreasi yang menghasilkan nilai, konsumsi nan produktif, dan bermain yang merupakan kerja. Demikian.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor:


