Beberapa waktu terakhir, publik menyaksikan dinamika internal Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN). Sebagai organisasi yang menaungi tarekat di bawah Nahdlatul Ulama (NU), JATMAN menjadi ruang persatuan spiritual. Namun, konflik internal kini mengemuka. Berbagai pihak terlibat dalam sengketa kepemimpinan, bahkan muncul rencana forum tandingan untuk menyelesaikan masalah.
Pada 21-22 Desember 2024, JATMAN menggelar Kongres XIII di Asrama Haji Donohudan, Solo, yang diinisiasi oleh PBNU. Dalam kongres tersebut, KH Achmad Chalwani Nawawi terpilih sebagai Rais, dan Prof KH Ali Masykur Musa sebagai Mudir 'Aali JATMAN periode 2024-2029.
Pemilihan ini menunjukkan upaya memberikan arah baru organisasi di tengah dinamika internal.
Namun, perbedaan pandangan terus berlanjut. Pihak yang mendukung Habib Luthfi bin Yahya telah mengumumkan rencana Muktamar XIII JATMAN pada 29-31 Desember 2024 di Pekalongan.
Sebagai perjalanan organisasi perpecahan ini tidak ideal. Namun, jika direnungkan lebih dalam, ada banyak hikmah yang bisa dipetik. Di balik setiap konflik, selalu ada ruang pembelajaran yang mendalam, terutama dalam hal spiritualitas.
Konflik Lembaga
Saat sesuatu dilembagakan, termasuk tasawuf, konflik hampir tak terhindarkan. Lembaga menjadi wadah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kepentingan, ambisi, bahkan ego sering kali muncul di ruang yang mestinya didedikasikan untuk tujuan mulia.
Sejarah menunjukkan agama sering berubah menjadi alat politik ketika dilembagakan. Perebutan kuasa atas legitimasi keagamaan terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di komunitas tasawuf. Konflik dalam JATMAN ini mengingatkan kita bahwa lembaga, sebaik apapun niat awalnya bisa menjadi ruang persaingan, bukan lagi murni ibadah.
Namun, hikmahnya jelas. Konflik ini mengingatkan kita untuk berhati-hati, menjaga rohani tetap murni. Tasawuf bukan soal pengaruh atau kepemimpinan tetapi jalan ke Allah, sebuah perjalanan pribadi yang tidak memerlukan pengakuan duniawi.
Ujian Tasawuf
Konflik ini ujian besar bagi para ahli tarekat, pelaku tasawuf yang tujuan utamanya kebersihan hati demi membangun hubungan yang jernih dengan Allah. Ketika konflik seperti ini muncul, semua yang terlibat diuji. Apakah mereka tetap teguh menjaga niat, atau justru larut dalam perebutan pengaruh?
Peristiwa ini menunjukkan betapa sulitnya menjaga esensi spiritual ketika sudah dilembagakan. Para pelaku tarekat, yang sejatinya adalah pembimbing rohani, dihadapkan pada tantangan besar. Mereka tidak hanya dituntut menyelesaikan konflik, tetapi juga menunjukkan kepada umat bahwa inti tasawuf adalah kerendahan hati, bukan persaingan.
Sufi besar seperti Rumi, Al-Ghazali, atau Ibn 'Arabi, menyatakan, “Jalan ke Allah dimulai dengan melepaskan diri dari dunia.” Maka, jalan ini menjadi momentum kembali mengingat hakikat tarekat. Bukan sekadar nama, posisi, atau organisasi, tetapi pembersihan hati dan pengabdian kepada Allah semata.
Tarekat: Jalan yang Beragam
Kata “tarekat” secara harfiah berarti jalan. Dalam konteks tasawuf, ia adalah jalan menuju Allah. Setiap manusia memiliki cara dan jalannya sendiri untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Inilah fitrah manusia.
Maka, jika hari ini JATMAN terpecah, kita bisa menyikapi dari sudut pandang berbeda. Perpecahan ini, meskipun tampak menyakitkan, bisa jadi bagian dari proses alami. Jalan menuju Allah tidak bisa diseragamkan. Setiap tarekat memiliki kekayaan spiritualnya sendiri. Justru, ketika sebuah jalan dipaksakan menjadi satu-satunya, ia kehilangan fitrahnya. Dengan demikian keberagaman jalan adalah bagian dari rahmat Allah. Sesuai firman-Nya: “Untuk tiap-tiap umat, Kami telah tetapkan syariat dan jalan yang terang. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Maidah: 48).
Ketika JATMAN terpecah ini pengingat bahwa jalan menuju Allah tidak bisa dimonopoli oleh satu organisasi. Keberagaman adalah sunnatullah. Semakin banyak jalan yang ada, semakin banyak pula manusia yang mungkin terbimbing.
Hikmah di Balik Perpecahan
Alih-alih melihat perpecahan ini sebagai akhir, kita bisa melihatnya sebagai awal yang baru. Ada beberapa hikmah besar yang bisa diambil.
1. Kembali ke Esensi Tasawuf
Peristiwa ini mengingatkan para pelaku tarekat untuk refleksi inti tasawuf, yakni kebersihan hati. Konflik ini bisa menjadi ruang muhasabah. Apakah selama ini perjalanan rohani benar-benar murni, ataukah telah terkontaminasi ambisi duniawi.
2. Menghargai Keberagaman
Pecahnya JATMAN menunjukkan bahwa jalan menuju Allah tidak harus satu. Ketika satu lembaga tidak lagi mampu menaungi semua, keberagaman justru menjadi solusi. Semakin banyak jalan yang ada, semakin kaya khazanah spiritual kita.
3. Menghindari Politisasi Agama
Konflik ini juga menjadi pengingat akan bahaya politisasi agama. Ketika spiritualitas berubah menjadi alat kekuasaan, ia kehilangan ruhnya. Peristiwa ini seharusnya mendorong kita untuk menjaga agama tetap murni, bebas dari kepentingan duniawi.
Perpecahan di tubuh JATMAN menjadi catatan penting perjalanan tarekat di Indonesia. Namun, bagaimana kita menyikapinya akan menentukan hasil akhirnya. Jika kita melihatnya sebagai akhir, maka perpecahan ini akan melahirkan luka yang dalam. Tetapi jika kita melihatnya sebagai proses menuju kedewasaan spiritual, maka konflik ini menjadi awal yang baik. Para pelaku tarekat ditantang menunjukkan kebesaran hati dan membuktikan diri bahwa inti tasawuf bukan organisasi, tetapi perjalanan menuju Allah.
Ke depan, mungkin kita akan melihat banyak jalan baru. Akan ada berbagai bentuk tarekat yang lahir dari perpecahan ini. Dan itu bukanlah hal buruk. Justru, semakin beragam jalan menuju Allah, semakin besar kemungkinan manusia menemukan jalan yang paling sesuai dengan dirinya.Sebagaimana cahaya yang memantul dalam berbagai warna, jalan menuju Allah tidak pernah tunggal. Perpecahan ini adalah bagian dari proses memperkaya warna-warna tersebut.
Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM.
Editor:


