Judul di atas mungkin terkesan paradoks. Cinta adalah kasih sayang. Bagaimana mungkin cinta disandingkan dengan kekejaman? Tapi, begitulah kesan yang saya rasakan saat membaca novel La Porte Etroit, karya Andre Gide, peraih hadiah Nobel Sastra. Tentu saja yang saya baca adalah versi Inggris terjemahan Dorothy Bussy, dengan judul Strait is the Gate (1924).
Novel yang terbit tahun 1909 ini berkisah tentang hubungan asmara antara Jerome dengan Alissa, sepupunya. Alissa dua tahun lebih tua dari Jerome. Alissa terlahir sebagai anak tertua dari tiga bersaudara. Sebagai anak tertua, dia mengetahui rahasia terkelam keluarganya: perselingkuhan ibunya dengan laki-laki lain. Si ibu pada akhirnya lari bersama laki-laki itu, meninggalkan luka dan kesedihan. Alissa sendiri hampir tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya. Sebagai anak tertua, dia mengambil beban dari ketiadaan seorang ibu, memastikan ayah dan adik-adiknya hidup dalam kebahagiaan.
Di sisi lain, Jerome telah yatim sejak sebelum usia dua belas tahun. Kasih sayang ibunya membuatnya tumbuh menjadi remaja laki-laki dengan hati penuh cinta kasih. Rasa cinta Jerome kepada Alissa sudah mekar sejak mereka masih usia sekolah menengah pertama.
Tak ada halangan bagi mereka untuk mewujudkan cinta mereka ke dalam sebuah ikatan suami-istri. Semua keluarga mendukungnya. Tapi, cinta mereka tumbuh dalam pergulatan batin yang rumit. Alissa dan Jerome memaknai cinta mereka sebagai cara untuk menemukan jalan menuju Tuhan bersama-sama. Inilah doa yang selalu Joremoe panjatkan kepada Tuhan siang dan malam. Bersatu dengan Alissa, bagi Jerome, adalah sarana menuju Tuhan. Tapi, bagi Jerome, sarana tak bisa disubordinasi di bawah tujuan. Menemukan Tuhan adalah tujuan tertinggi yang ingin dicapainya, tapi itu harus bersama Alissa.
Dalam salah satu percakapan ketika Alissa bertanya kepadanya tentang makna Persekutuan dalam Tuhan, Jerome mengatakan,
“It means being rapturously united in the worship of the same thing. I think it is just because I want to be united to you, that I worship what I know you worship too.” (“Itu berarti bersatu dengan penuh sukacita dalam penyembahan hal yang sama. Kurasa justru karena aku ingin bersatu denganmu, aku menyembah apa yang juga kamu sembah.”)
Dia memungkasi pembicaraan itu dengan sangat tajam, “I shouldn’t care for Heaven if you were not there too.” (Aku tidak peduli dengan surga jika tidak berada di sana).
Pembicaraan sejoli remaja ini ternyata bukan pembicaraan yang sekedar iseng. Alissa, gadis remaja yang cerdas dengan keimanan yang sangat dalam dan reflektif, mengalami pergulatan batin yang sangat melelahkan antara cintanya kepada Jerome dan cintanya kepada Tuhan. Cinta Alissa kepada Jerome adalah cinta suci seorang gadis kepada seorang perjaka. Tapi, religiusitas Alissa menggiringnya pada sebuah pemahaman bahwa cinta kepada Tuhan hanya bisa diraih bila tidak ada cinta yang lebih besar dari itu. Sementara, cintanya kepada Jerome dan jerome kepadanya sebegitu besar sehingga bisa menjadi penghalang jalan menuju Tuhan.
Di dalam buku hariannya yang dikirim ke Jerome setelah kematiannya, Alissa menulis sebagai berikut:
Alas! I understand now only too well: between God and him there is no other obstacle but myself. If perhaps, as he says, his love for me at first inclined him to God, now that very love hinders him; he lingers with me, prefers me, and I am become the idol that keeps him back from making further progress in virtue. One of us two must needs attain to it; and as I despair of overcoming the love in my coward heart, grant me, my God, vouchsafe me strength to teach him to love me no longer, so that at the cost of my merits I may bring Thee his, which are so infinitely preferable . . . and if to-day my soul sobs with grief at losing him, do I not lose him to find him again hereafter in Thee?
Tell me, oh, my God! what soul ever deserved Thee more? Was he not born for something better than to love me? And should I love him so much if he were to stop short at myself?
(Ya! Sekarang aku mengerti dengan sangat baik: antara Tuhan dan dia tidak ada halangan lain selain diriku sendiri. Jika memang, sebagaimana yang dia katakan, cintanya kepadaku pada awalnya mendorongnya kepada Tuhan, sekarang cinta itu justru menghalanginya; dia berlama-lama denganku, lebih menyukaiku, maka aku telah menjadi berhala yang menghambatnya untuk maju lebih jauh dalam kebajikan. Salah satu dari kita berdua harus mencapainya. Karena aku tidak kuasa mengatasi cinta di hatiku, berilah aku, Tuhanku, berilah aku kekuatan untuk membuatnya agar tidak lagi mencintaiku, sehingga dengan mengorbankan jasa-jasaku, aku dapat mempersembahkan jasa-jasanya kepada-Mu, yang jauh lebih berharga... dan jika hari ini jiwaku menangis karena kehilangan dirinya, bukankah aku kehilangannya untuk menemukannya kembali di kemudian hari di dalam Engkau? Katakan padaku, ya Tuhanku! Jiwa mana yang lebih layak bagi-Mu? Bukankah dia dilahirkan untuk sesuatu yang lebih baik daripada mencintaiku? Dan haruskah aku mencintainya begitu besar jika dia berhenti pada diriku?)
Didorong oleh keyakinannya itu, ia mengorbankan kebahagiaannya sendiri—dan kebahagiaan Jerome—dengan melepaskan cinta duniawi demi kemurnian spiritual. Pergumulan batin Alissa mengungkapkan penyangkalan diri dan penderitaan cinta yang tak terjangkau, yang berpuncak pada perpisahan tragis yang mencerminkan sempitnya jalan menuju keselamatan.
Ketika Alissa meminta Jerome untuk tidak lagi mencintainya dan menikah dengan perempuan lain, dia seperti mengiris jantungnya sendiri. Tapi kepedihan itu harus ditanggungnya demi penyatuan dan kebahagiaan tertinggi. Kebahagiaan yang penuh air mata. Jika bisa memilih, Alissa ingin berjalan bersama Jerome dalam peziarahan cinta menuju Tuhan. Tapi gerbang keselamatan itu terlalu sempit untuk dimasuki berdua. Demi cintanya, dia harus berkorban untuk Jerome, sang kekasih.
Lord! that we might advance towards Thee, Jerome and I together, each beside the other, each helping the other; that we might walk along the way of life like two pilgrims, of whom one says at times to the other: “Lean on me, brother, if you are weary,” and to whom the other replies: “It is enough to feel you near me . . .” But no! The way Thou teachest, Lord, is a narrow way — so narrow that two cannot walk in it abreast.
(Tuhan! Semoga kami berdua dapat berjalan menuju-Mu, aku dan Jerome bersama-sama, masing-masing di samping yang lain, masing-masing saling membantu. Semoga kami dapat berjalan di jalan kehidupan seperti dua peziarah, yang salah satunya sesekali berkata kepada yang lain: "Bersandarlah padaku, saudaraku, jika kau lelah," dan yang lain menjawab: "Cukuplah merasakan kehadiranmu di dekatku..." Tetapi tidak! Jalan yang Engkau ajarkan, Tuhan, adalah jalan yang sempit—sangat sempit sehingga dua orang tidak dapat berjalan berdampingan di dalamnya.)
Di sisi lain, Jerome menjalani hidupnya tanpa arah. Dunianya gelap gulita. Tidak ada lagi cahaya. Alissa adalah satu-satunya alasan yang membuatnya sanggup melangkah. Bukan cahaya, bahkan Alissa adalah kehidupan itu sendiri.
Dua sejoli malang itu tak pernah sampai dalam penyatuan cinta. Jerome menjalani karirnya sebagai kepala sekolah. Sejak Alissa memintanya untuk meninggalkannya, tidak ada lagi pertemuan. Tidak ada lagi kabar dan curahan cinta lewat surat. Hingga suatu hari Jerome mendapatkan kabar bahwa Alissa meninggal di sebuah panti jompo. Sendiri menjempur maut. Sepi!
Ini adalah kalimat terakhir yang ditulis Alissa di jurnalnya sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya: “I should like to die now, quickly, before again realising that I am alone.” (Aku ingin mati sekarang, secepatnya, sebelum menyadari bahwa aku sendirian).
Setelah membaca novel ini, dada saya sesak oleh ribuan pertanyaan: Seberapa egois cinta Tuhan sehingga tidak mau berbagi dengan yang lain? Sebegitu cemburukah Tuhan dengan cinta tulus sepasang kekasih? Sekejam itukah cinta yang ditawarkan Tuhan kepada manusia? Sesempit itukah jalan keselamatan yang ditawarkan Tuhan sehingga dua orang yang saling mencintai dengan tulus tak bisa masuk ke dalamnya bersama-sama? Haruskah penyangkalan akan cinta sejati menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkan cinta Tuhan? Haruskah perpisahan menjadi satu-satunya cara masuk ke dalam gerbang keselamatan?
Saya membayangkan, andai saya bertemu Alissa, saya akan katakana padanya:
“Alissa, Tuhan tidak murka kepada hamba-Nya yang sedang jatuh cinta. Tak perlu menyangkal perasaan cinta kepada Jerome hanya karena khawatir akan menjadi penghalang bagi cinta Tuhan. Bahkan jika di antara cinta itu terselip percikan noda, percayalah, kasih-Nya melebihi amarah-Nya. Kamu tidak bisa hidup tanpanya, begitu juga dengan Jerome. Tak perlu merasa bersalah hanya karena kau mencintainya sebegitu dalam. Gerbang keselamatan tak sesempit yang kaubayangkan. Gerbang itu tidak hanya sanggup menampung cinta kalian berdua, tapi juga dosa-dosa para hamba-Nya. Rahmat Tuhan lebih luas dari murka-Nya.”
Ahmad Inung
Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Kemenag RI
Editor:


