Syarat Niat dalam Sholat agar Sah sesuai Syariat

Syarat Niat dalam Sholat agar Sah sesuai Syariat

Arina.id - Sudah mafhum di kalangan umat Islam bahwa sholat merupakan ibadah ritual yang sangat penting untuk dilaksanakan, terutama sholat fardhu lima waktu. Selama seseorang masih memiliki akal, sholat adalah kewajiban yang tidak dapat ditawar. Tidak ada toleransi untuk meninggalkannya, sebab sholat merupakan amal ibadah yang kelak pertama kali akan dihisab di hadapan Allah Swt. 

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabari, Rasulullah SAW bersabda:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

Artinya: “Amal ibadah yang pertama kali akan dihisab oleh Allah pada hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka baiklah seluruh amalannya yang lain. Namun, jika sholatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalannya yang lain.” (HR. Thabari)

Sebagaimana pentingnya melaksanakan sholat, memastikan sholat tersebut sah di sisi Allah juga tak kalah penting. Salah satu kunci utamanya adalah niat. Sebab niat merupakan rukun yang menjadi bagian dasar sahnya ibadah sholat.

رُكْنُ الشَّيْءِ مَا كَانَ جُزْءًا أَسَاسِيًّا مِنْهُ، كَالْجِدَارِ مِنَ الْغُرْفَةِ، فَأَجْزَاءُ الصَّلَاةِ إِذَا أَرْكَانُهَا كَالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَنَحْوِهِمَا. وَلَا يَتَكَامَلُ وُجُودُ الصَّلَاةِ وَلَا تَتَوَفَّرُ صِحَّتُهَا إِلَّا بِأَنْ يَتَكَامَلَ فِيهَا جَمِيعُ أَجْزَائِهَا بِالشَّكْلِ وَالتَّرْتِيبِ الْوَارِدَيْنِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، عَنْ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ

Artinya: ”Rukun adalah bagian penting yang menjadi elemen utama, seperti dinding pada sebuah ruangan. Maka, bagian-bagian sholat adalah rukunnya, seperti rukuk, sujud, dan lain lain. sholat tidak akan sempurna wujudnya dan tidak akan dianggap sah kecuali jika seluruh bagian sholat tersebut terpenuhi secara lengkap, baik dari segi bentuk maupun urutannya, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yang didasarkan pada ajaran Malaikat Jibril AS." (Al Fiqh Al Manhaji [Damaskus: Dar Al Qalam, 1992] juz halaman 129)

Syarat-syarat Niat agar Sholat Sah

Dalam kitab Taqrir As-Sadidah dijelaskan secara gamblang syarat-syarat niat yang harus dipenuhi agar sholat dianggap sah sesuai tuntunan syariat.

Pertama, tempat melafalkan niat dalam sholat adalah di dalam hati. Oleh karena itu, melafalkan niat hanya dengan lisan saja tidak cukup. Sedangkan waktu pelaksanaan niat adalah bersamaan dengan takbiratul ihram. Jika seseorang bertakbir tanpa menghadirkan niat di dalam hati, dan baru berniat setelahnya, maka sholatnya dianggap tidak sah.

مَحَلُّهَا: الْقَلْبُ، وَالتَّلَفُّظُ بِهَا سُنَّةٌ وَوَقْتُهَا: أَثْنَاءَ التَّكْبِيرِ، فَلَوْ كَبَّرَ بِدُونِ أَنْ يَسْتَحْضِرَهَا، ثُمَّ بَعْدَ التَّكْبِيرِ نَوَى، فَلَا تَنْعَقِدُ صَلَاتُهُ

Artinya: ”Letak niat adalah di hati, sedangkan melafalkannya merupakan sunnah. Waktu niat adalah saat takbiratul ihram. Jika seseorang bertakbir tanpa menghadirkan niat, lalu berniat setelah takbir, maka sholatnya tidak sah.”

Kedua, menentukan jenis sholat. Jika sholat yang dilakukan adalah nafilah (sunah) yang terikat waktu seperti dhuha atau witir, atau sholat yang memiliki sebab seperti gerhana atau istisqa, maka niat harus mencakup qashdul fi‘il (niat untuk beribadah) dan at-ta‘yin (menentukan jenis sholat).

Penjelasan lengkap syarat-syaratnya sebagai berikut:

دَرَجَاتُ النِّيَّةِ فِي الصَّلَاةِ: ثَلَاثَةٌ إِذَا كَانَتِ الصَّلَاةُ فَرْضًا وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالتَّعْيِينِ وَالْفَرْضِيَّةِ. قَصْدُ الْفِعْلِ: أَنْ يَقْصِدَ فِعْلَ الصَّلَاةِ بِالتَّكْبِيرِ، وَذَٰلِكَ بِقَوْلِهِ: (أُصَلِّي). وَالتَّعْيِينُ: ذِكْرُ نَوْعِ الصَّلَاةِ. وَالْفَرْضِيَّةُ: اسْتِحْضَارُ كُونِهَا فَرْضًا، مِثْلُ: أُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ، أَوْ أُصَلِّي الْعَصْرَ فَرْضًا. إِذَا كَانَتِ الصَّلَاةُ نَافِلَةً مُؤَقَّتَةً: كَالضُّحَى وَالْوِتْرِ، أَوْ ذَاتِ سَبَبٍ: (كَسُنَّةِ الْخُسُوفِ وَالِاسْتِسْقَاءِ)، وُجِبَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالتَّعْيِينِ. إِذَا كَانَتِ الصَّلَاةُ نَافِلَةً مُطْلَقَةً، وُجِبَ قَصْدُ الْفِعْلِ فَقَطْ

Tingkat-tingkat niat dalam sholat ada tiga:

1. Jika sholatnya adalah fardhu, maka wajib niat dalam bentuk:

  • qashdul fi‘il (niat untuk melakukan ibadah sholat dengan takbir), yaitu dengan mengatakan: "Ushalli (Aku sholat)."
  • at-ta‘yin (niat menentukan jenis sholat), seperti "Ushalli fardhal ‘ashri (Aku sholat fardhu Ashar)."
  • al-fardhiyyah (niat bahwa sholat itu wajib), seperti "Aku sholat fardhu Ashar."

2. Jika sholat adalah nafilah yang terikat waktu, seperti sholat dhuha atau witir, atau sholat karena sebab, seperti sholat gerhana atau istisqa, maka wajib niat pada qashdul fi‘il dan at-ta‘yin.

3. Jika sholat adalah nafilah mutlak (sholat sunnah biasa), maka cukup niat qashdul fi‘il saja.

Sebagai contoh: Sebut saja Andi. Ia akan melakukan sholat fardhu Ashar, maka ia harus berniat dengan menghadirkan tiga hal, yakni: qashdul fi’li (niat untuk melaksanakan ibadah), ta’yin (penentuan jenis sholat), dan fardhiyyah (niat bahwa sholat tersebut wajib). Oleh karena itu, ia harus berniat dengan mengatakan:

أُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ 

Artinya: “Saya niat sholat fardhu Ashar”

Niat yang seringkali diajarkan adalah seperti menyebutkan lafadz “لِلَّهِ تَعَالَى” (hanya untuk Allah) dan menyebutkan jenis sholat, apakah sholat itu ada’ (sholat yang dilakukan pada waktunya) atau qadha (sholat yang diganti akibat ketinggalan). Selain itu juga menyebutkan jumlah rakaat sholat, seperti pada sholat fardhu Ashar yang biasanya terdiri dari 4 rakaat, semua itu hukumnya adalah sunnah. Dalam artian tanpa menyebutkan hal tersebut niat sholat tetap sah.

وَسُنَّ فِي النِّيَّةِ إِضَافَةُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى خُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهَا وَلِيَتَحَقَّقَ مَعْنَى الْإِخْلَاصِ وَتَعَرَّضَ لِأَدَاءِ أَوْ قَضَاءِ وَلَا يَجِبُ وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ فَائِتَةٌ مُمَاثِلَةٌ لِلْمُؤَدَّى خِلَافًا لِمَا اعْتَمَدَهُ الْأَذْرَعِيُّ وَالْأَصَحُّ صِحَّةُ الْأَدَاءِ بِنِيَّةِ الْقَضَاءِ، وَعَكْسُهُ إِنْ عُذِرَ بِنَحْوِ غَيْمٍ، وَإِلَّا فَتبَطُلَ قَطْعًا لِتَلَاعُبِهِ وَتَعَرَّضَ لِاسْتِقْبَالِ وَعَدَدِ رَكَعَاتٍ لِلْخُرُوجِ مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَ التَّعَرُّضَ لَهُمَا وَسُنَّ نُطْقٌ بِمَنُوٍّ قَبْلَ التَّكْبِيرِ لِيُسَاعِدَ الْلِّسَانَ الْقَلْبَ، وَخُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهُ

Artinya: ”Dan disunahkan dalam niat untuk menambahkan “إلى الله تعالى” (hanya untuk Allah) sebagai bentuk keluar dari perbedaan pendapat yang mewajibkannya, serta agar makna ikhlas benar-benar tercapai. Dan disunahkan untuk menyebutkan niat untuk melakukan sholat wajib atau menggantikannya, meskipun ia memiliki sholat yang tertinggal, meskipun ada perbedaan pendapat, seperti yang dinyatakan oleh al-Adzra’i. Pendapat yang benar adalah sahnya niat sholat wajib dengan niat qadha, dan sebaliknya, jika ada udzur seperti mendung. Jika tidak ada udzur, maka batal pasti karena permainan niat tersebut. Dan disunahkan untuk menyebutkan arah kiblat dan jumlah rakaat untuk menghindari perbedaan pendapat yang mewajibkan hal tersebut. Disunahkan juga untuk menyebutkan niat (niat sebelum takbir) dengan lisan, yang membantu hati dan keluar dari perbedaan pendapat yang mewajibkannya.” (Fathul Mu’in Syarah Qurratul ‘Ain, halaman 93)

Lebih lanjut, bila seseorang sholat dengan berjamaah baik menjadi makmum atau imam maka ia wajib memperhatikan hal berikut:

  • Niat Ma’mum. Seorang makmum (orang yang mengikuti imam) harus berniat mengikuti imam atau berjamaah. Jika dia tidak berniat dan hanya mengikuti imam tanpa niat, serta menunggu lama dalam suatu rukun, sholatnya dianggap batal. Selain itu niat menjadi makmum tak harus ketika takbiratul ihram, ia bisa dilakukan ditengah tengah sholat.
  • Niat Imam. Bagi imam, niat untuk memimpin sholat bersifat sunnah (disunnahkan), dalam artian bila seseorang berniat menjadi imam, ia mendapat fadilah berjamaah. Kendatipun niat menjadi imam disunnahkan dalam empat sholat tertentu, niat menjadi wajib (seperti sholat Jumat, sholat I’adah (mengulang sholat), sholat Nazar, dan sholat jama’ takdim sebab hujan). Jika tidak berniat dalam sholat-sholat ini, sholatnya tidak sah, kecuali pada sholat nazar.

إِذَا كَانَ الْمُصَلِّي مَأْمُومًا فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَنْوِيَ الْجَمَاعَةَ أَوِ الْإِقْتِدَاءَ أَوِ الْمَأْمُومِيَّةَ، فَإِذَا لَمْ يُنَوِّ وَتَابَعَ إِمَامَهُ بَعْدَ انْتِظَارِهِ فِي رُكْنٍ وَطَالَ ذَلِكَ الاِنْتِظَارُ، بَطُلَتْ صَلَاتُهُ، وَلَا تَجِبُ نِيَّتُهُ عِنْدَ الإِحْرَامِ هَذَا بِالنِّسْبَةِ لِلْمَأْمُومِ، أَمَّا بِيَالنِّسْبَةِ لِلإِمَامِ فِنِيَّتُهُ مَندُوبَةٌ لِيَحْصُلَ عَلَى فَضِيلَةِ الْجَمَاعَةِ، إِلَّا فِي أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فَتَجِبُ نِيَّةُ الإِمَامَةِ: الْجُمُعَةِ وَالْمَعَادَةِ، وَالْمُنْذُورَةِ جَمَاعَةً، وَالْمُتَقَدِّمَةِ فِي الْمَطَرِ، فَإِذَا لَمْ ينَوِ فِيهِنَّ لَمْ تَصِحْ صَلَاتُهُ، إِلَّا الْمُنْذُورَةَ فَتَصِحُّ مَعَ الإِثْمِ

Artinya: ”Jika seorang yang sholat menjadi makmum, maka ia wajib berniat berjamaah atau mengikuti imam. Jika ia tidak berniat dan hanya mengikuti imam setelah menunggu di salah satu rukun, lalu penantiannya terlalu lama, maka sholatnya batal. Tidak wajib baginya niat saat masuk dalam takbir (ihram). Ini berlaku untuk makmum. Adapun bagi imam, niatnya sunah agar ia memperoleh keutamaan berjamaah, kecuali dalam empat sholat, di mana niat menjadi imam wajib: sholat Jumat, sholat jenazah, sholat yang dinadzarkan berjamaah, dan sholat yang dilakukan saat hujan deras. Jika tidak berniat dalam sholat tersebut, maka sholatnya tidak sah, kecuali dalam sholat yang dinadzarkan, di mana sholat sah tetapi tetap berdosa.” (Taqrir As Sadidah, halaman 210). Wallahu a’lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo