Tina Rahimi, Cantik tapi Ganas

Tina Rahimi, Cantik tapi Ganas

Tina Rahima, salah satu kandidat bintang Olimpiade Paris kali ini. 

Wajahnya cantik. Tampil dengan hiasan yang rapi, berhijab, lengan panjang, dan celana ketat. Sungguh, dia tidak benar-benar seperti kebanyakan petinju.  "Awalnya saya juga tidak nyaman dengan sikap orang-orang yang seperti meragukanku," kata Tina Rahimi.

Namun di atas ring, pandangan orang-orang terhadapnya itu -- seperti juga lawan-lawannya, harus dihancurkan.  Rahimi pun senang ketika dia bisa mengalahkan lawannya. Lebih dari itu, "Mereka melihat bahwa saya benar-benar bisa bertarung, mereka menunjukkan rasa hormat,” lanjutnya. “Rasanya luar biasa.

Rahimi, petinju berusia 28 tahun asal Sydney Barat ini telah bertarung di atas selama lebih dari enam tahun. Kontradiktif perjalanannya. Semula dia adalah seorang penata rias yang sehari-hari bergaul dengan kuas, foundation, bedak, maskara, dan kosmetik lainnya. Tangannya terampil membuat orang menjadi cantik.

Namun, suatu ketika hidupnya berubah. Pada 2017, bersama rekannya, dia ingin mendapatkan tantangan yang lebih keras lagi dalam upaya mendapatkan kebugaran fisiknya. Pilihannya pada olahraga tinju. “Saya ingat saat meninju sansak pertama kalinya, rasanya sungguh luar biasa,” katanya. "Aku jatuh cinta."

Seperti karier tata riasnya yang melejit, begitu pula keterampilan dan hasratnya terhadap tinju. Setelah melakoni pertarungan pertamanya, ia merasakan sesuatu yang lebih besar daripada kebugaran. Dia pun makin terjerembap dalam kenikmatan olahraga baku pukul ini. Di ring, si cantik itu tampil ganas.

Hanya setahun setelah memulai, kemampuan Rahimi di atas ring berjalan sesuai dengan hasratnya. Dia pun memulai petualangan pertama di ring di kelas bulu (57kilogram). Gugup sudah pasti tapi kemenangan pertamanya membuatnya yakin tinju adalah panggilannya.

Tak bisa disangkal lagi bakatnya sebagai petarung itu turun dari ayahnya, Michael Rahimi. Sebelum pindah ke Australia, dia tinggal di Denmark dan menjalani profesi sebagai pegulat yang memenangi berbagai kejuaraan. Di negerinya yang baru dia tetap perkasa. Setelah menjadi juara pada 1991, sang ayah mewakili Australia pada Olimpiade Barcelona 1992. 

Sayang langkah Tina sempat terhambat. Seperti orang-orang di planet ini, ketika pandemi Covid-19 mencengkeram, dia banyak kehilangan kesempatan bertanding. Namun itu tak membuatnya kehilangan semangat. Hasilnya, dengan rekor main 15 kali, kalah dua kali, dia terpilih mewakili Australia untuk bertanding di Pesta Olahraga Negara-Negara Persemakmuran. Di sana, dia mendapatkan medali perunggu.

Kini, dia berada di Paris, Perancis, untuk membela Negeri Kanguru di Olimpiade.  “Sungguh perasaan yang luar biasa.”  Kesempatan hebat itu didapatkan setelah menaklukkan petinju putri asal Tonga,  Feofaaki Epenisa di  Pacific Games di Honiara, Pulau Solomon, November 2023. Kemenangan angka mutlak itu tak hanya membuatnya mendapatkan medali emas, tapi juga berangkat bersama 12 petinju lainnya.   

Tina yang keturunan Iran ini menjadi petinju wanita muslim pertama Australia yang lolos ke Olimpiade. Tidaklah mudah tentu saja. Saat bertarung di atas ring, dia menutupi seluruh tubuhnya dan mengenakan hijab. Setelah itu masih ada penutup kepala yang membuat siapa pun tentu tidak nyaman.  "Tentu saja, panas. Apalagi kalau bertanding di negeri yang panas," katanya.  

Toh begitu, Rahimi tetap berlatih dengan keras sejak awal tahun lalu bahkan saat Ramadhan -- ketika dia menjalani ibadah puasa. "Ini adalah bagian dari agama dan sangat penting buatku," tuturnya.

Semua jenis latihan habis dia lahap. Tidak hanya fisik juga mental. “Ketika keduanya kuat, saya bisa melakukan apa pun,” kenangnya. "Tak terkecuali medali emas.”

Emas, tentu saja, menjadi setiap impian atlet yang berlaga Olimpiade. Namun jauh sebelum itu, sejatinya Tina telah mendapatkan anugerah dari hasil jerih payahnya menggeluti olahraga ini. Tina menjadi role model bagi komunitas muslim di negerinya. Mereka membuat akun instagram dengan nama "Boxing With Tina" untuk menarik para remaja menggeluti olahraga.

Di kesempatan lain, tidak jarang perempuan muda mendekatinya dan menyebutnya sebagai panutan. Sungguh hal itu merupakan sesuatu yang tidak pernah dia duga saat bertarung dengan berhijab dan pelindung kepala. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor:
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo