Minggu lalu, saya menonton sinema yang menampilkan sosok lansia. Ia digambarkan masih energik, punya banyak sahabat, mengarungi petualangan seru, dan bertemu cinta sejati. Filmnya berakhir bahagia. Sebenarnya, sinema itu tidak benar-benar menceritakan soal kehidupan lansia, karena sesungguhnya ia gadis cantik yang diubah oleh penyihir jahat menjadi nenek tua. Film yang menarik meskipun jauh dari realitas.
Sinema itu bertajuk Howl's Moving Castle (2004), salah satu mahakarya Studio Ghibli yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki. Film tersebut diadaptasi dari novel karya Diana Wynne Jones dengan judul yang sama. Berlatar di dunia magis yang penuh keajaiban, Howl's Moving Castle menawarkan kisah tentang cinta, keberanian, dan penemuan jati diri dalam balutan sihir.
Selain melalui film, sosok lansia yang masih berjiwa muda dan tetap eksis dalam hidupnya juga saya temukan dalam novel Anne Of Avonlea (1909) gubahan Lucy M. Montgomery. Dalam salah salah satu cerita, penulis menukilkan gambaran lansia yang berbeda dari umumnya: “Tanpa sadar, mereka menduga akan melihat seorang perempuan tua yang biasa mereka kenal dari pengalaman. Seseorang yang gemuk, dengan rambut kelabu yang rapi, dan kacamata. Bayangan mereka tentang Miss Lavender sama sekali salah.”
Kutipan dilanjutkan: “Miss Lavender adalah seorang perempuan mungil dengan rambut seputih salju bergelombang indah dan tebal, dan dengan hati-hati diatur agar mengembang dan ikal. Di bawahnya tampak seraut wajah yang nyaris kekanak-kanakan, dengan pipi merona merah dan bibir yang manis, juga mata besar berwarna cokelat lembut dan lesung pipit.”
Cerita masih memuat keajaiban dalam hidup Miss Lavender, perempuan tua yang cantik itu, dikisahkan bertemu dengan kekasih idamannya pada usia senja. Pada series buku selanjutnya, dalam Anne of the Island (1915), penulis juga menggambarkan tokoh lansia lain dengan kehidupan yang bahagia, independen, dan berjiwa bebas.
Rasanya, beberapa deskripsi tentang lansia yang digambarkan melalui film Howl's Moving Castle (2004) dan dua buku karangan Lucy M. Montgomery tidak menemukan kesesuaian dengan apa yang selama ini saya tatap dalam realitas. Dulu, saya melihat kehidupan nenek saya seperti berakhir. Ia banyak menghabiskan waktu dengan tiduran, duduk, dan diam. Sesekali bicara dan tersenyum jika anak atau cucu-cucu terdekatnya menghampiri. Selebihnya tidak ada hal lain yang dilakukan.
Rumah yang berdiri tak jauh dari tempat tinggal saya juga menggambarkan demikian. Setiap pagi, seorang kakek menghabiskan waktunya untuk melamun, sesekali merawat tanaman di depan rumah. Tubuhnya bertarung dengan beragam penyakit. Pikiran dan hatinya seperti mulai digerogoti rasa sepi dan kekosongan yang gelap. Istrinya telah lebih dahulu meninggal dan anak-anaknya sering pergi karena urusan pekerjaan. Wajahnya sering menampilkan rasa sepi yang bertumpuk dari hari ke hari.
Barangkali, di antara banyaknya daftar kaum rentan, yang sesungguhnya paling rentan adalah suara lansia. Lansia kerap kali disisihkan bukan hanya dalam lingkup sosial, tetapi yang paling menyedihkan adalah dari lingkup keluarga. Suaranya kerap dipinggirkan bersama tubuh dan pikiran yang kerap dianggap lambat dan kuno.
Celakanya, kondisi itu kerap tidak terdengar. Setumpuk citra yang terlanjur melekat pada mereka membuat anak-anak muda merasa kaku dan ragu ketika ingin merajut komunikasi. Akhirnya, kehidupan sesungguhnya tentang lansia jarang bisa dimengerti dan dipahami dengan tepat.
Tapi, kita patut berbahagia, beberapa karya mampu mengangkat permasalahan tersebut dengan amat jernih. Penikmat bisa diajak untuk berpikir dan merasakan bahwa selain permasalahan kesehatan, persoalan diuwongkan atau ‘dimanusiakan’, juga menjadi poin amat penting dalam memandang kehidupan lansia.
Salah satu karya yang memiliki kekuatan demikian adalah film Lipstick Under My Burkha (2016) garapan Alankrita Shrivastava. Film tersebut menyoroti diskriminasi masyarakat dalam memandang hak lansia secara seksual. Seorang janda berusia 55 tahun yang dikenal sebagai "Buaji", dicitrakan sebagai wanita tua religious yang memiliki keinginan untuk mengeksplorasi gairah cinta melalui hubungan virtual.
Namun, sayangnya masyarakat tidak mau menerima kenyataan tersebut. Mereka dengan enteng melakukan diskriminasi dan teguh pada keyakinan bahwa lansia adalah usia yang tidak lagi boleh untuk mengekspresikan diri, apalagi yang menyangkut urusan seksualitas. Kehidupan lansia digambarkan berakhir secara sosial. Hak-hak mereka kerap dirampas tanpa pembelaan.
Karya selanjutnya yang juga amat apik adalah film bertajuk How to Make Millions Before Grandma Dies (2024) yang disutradarai oleh Pat Boonnitipat. Film ini mengangkat kisah M, seorang pemuda yang berhenti dari pekerjaan untuk merawat neneknya yang sakit kanker. Ia berupaya menjadi cucu yang berbakti dengan harapan mendapat warisan. Pamrih itu pada akhirnya tidak mempertemukannya pada setumpuk uang, melainkan ketulusan dan kepedulian yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.
Film ini tidak mengandung konflik yang meliuk-liuk atau terlalu dramatis. Kisah disampaikan dengan amat jujur dan sederhana. Dua hal tersebut yang justru membuat penonton merasa ikut terlibat di dalamnya. Siapa pun yang berupaya menghibahkan waktu dan matanya untuk film ini, harus pasrah menjadi kaum cengeng. Penonton seperti ditelanjangi dengan amat halus melalui adegan dan dialog yang sangat epik. Salah satu kutipan yang masih saya ingat adalah pertanyaan M kepada neneknya sebelum memutuskan untuk tinggal bersama: “Apakah Amah kesepian?”
Film How to Make Millions Before Grandma Dies (2024) telah mendapatkan pujian luas karena penggambaran realistisnya tentang dinamika kehidupan lansia dalam keluarga dan konflik yang sering terjadi terkait uang. Tidak mengherankan jika film ini telah menjadi fenomena box office di Asia Tenggara dan dipilih sebagai perwakilan resmi Thailand untuk kategori Film Internasional Terbaik di Academy Awards Ke-97 tahun 2025.
Menutup tahun dengan film bertema lansia adalah salah satu pilihan menarik untuk memikirkan kehidupan lewat jalan penerungan.
Editor:


