Psikologi di Balik Kecanduan Mendaki Gunung

Psikologi di Balik Kecanduan Mendaki Gunung

Arina.id-- Ingat gunung, ingat biografi tokoh sejarah Indonesia: Gie. Soe Hok Gie atau yang akrab dikenal Gie menghabiskan cukup banyak waktu hidupnya di gunung, selain di hadapan kertas dan mesin ketik. Intelektual sekaligus aktivis Tionghoa-Indonesia ini tercatat pernah menapakkan kaki di puncak gunung Gede, Slamet, Ciremai, Sindoro, dan Semeru. Nama gunung terakhir, menjadi tempat berpulang Gie dari kehidupan dunia (1969). 

Kecintaan Gie pada Gunung bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi sebagai cara untuk lebih mengenal Indonesia, memahami rakyat, dan mengkritisi realitas sosial politik yang ada. Gie melihat gunung sebagai tempat yang netral, ia bisa merenungkan sengkarut realitas sosial dan politik yang kompleks tanpa terpengaruh oleh kepentingan tertentu.

Gunung mungkin baginya sebagai olah tubuh sekaligus batin. Gie menggunakan pengalamannya di gunung untuk mengkritik kemunafikan, ketidakadilan, dan masalah-masalah lain yang ia saksikan dalam masyarakat.

Salah satu lagu yang mengingatkan pada gunung dan Gie bertajuk Di Jenjang Desember Mahameru. 

Di sudut bibirmu
Kureguk cintamu
Penghantar dan penghangat tubuhku
Burung-burung kan bernyanyi
Alam pun berseri
Ooo indahnya… Mahameru

 
Lagu ini menampilkan gunung tak sekadar alam dengan panoramanya yang indah tetapi juga makhluk yang mengerti situasi hati manusia dan mempersilahkannya untuk mereguk cinta dari setiap lekuk tubuhnya yang kokoh sekaligus lembut. 

Psikologi di Balik Kecanduan Mendaki Gunung
Ada yang mengatakan, mendaki gunung bukan soal mencapai puncak, tapi tentang mengenal diri sendiri. Banyak pendaki yang merasa “ketagihan” bukan karena ingin menaklukkan alam, tapi karena ada kepuasan psikologis yang sulit dijelaskan. Fenomena ini menyisakan sebuah pertanyaan: apa sebenarnya yang terjadi dalam diri seseorang saat ia menempuh jalur pendakian?

Sepertinya menjejakkan kaki di gunung memang bukan hanya soal ambisi untuk menaklukkan puncak, tetapi juga tentang menapaki sisi terdalam dari diri manusia. Banyak orang kembali mendaki dengan segala pertimbangan resiko karena merasa gunung tidak hanya memberikan efek pada fisik tetapi juga pikiran dan batin. Ungkapan itu ternyata bukan sekadar rentetan kalimat romantis, melainkan ada penjelasannya secara ilmiah. 

National Geographic (3/7/2024) menuliskan bahwa mendaki gunung bisa menjadi cara luar biasa untuk keluar dan menjelajah diri. Pendaki bisa terhubung kembali dengan perasaan takjub dan kagum. Selain itu, juga mendapatkan manfaat yang tak terhitung jumlahnya seperti penurunan kecemasan dan depresi, penurunan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, dan obesitas. Data itu diungkapkan oleh Alyson Chun, asisten direktur program Petualangan Olahraga dan Rekreasi Petualangan di Universitas Stanford.

Namun, di balik itu semua mendaki gunung yang dilakukan di atas batasa wajar juga bisa memicu masalah. Sebuah studi dari Medical University of Innsbruck yang dipublikasikan di European Archives of Psychiatry and Clinical Neuroscience juga menemukan data bahwa aktivitas mendaki gunung secara ekstrem dapat menunjukkan ciri-ciri kecanduan perilaku.

Dalam penelitian terhadap 335 pendaki, sebanyak 88 orang menunjukkan gejala kecanduan terhadap aktivitas mendaki, seperti dorongan kuat untuk terus mendaki meski kondisi fisik tidak memungkinkan, serta gejala “sakau” saat tidak bisa naik gunung.

Para peneliti mencatat bahwa kelompok pendaki yang menunjukkan gejala kecanduan memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dan lebih banyak mengalami gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, gangguan makan, serta penyalahgunaan alkohol dan narkoba. 

Mereka juga cenderung memiliki skor tinggi dalam skala Sensation-Seeking, Emotion Regulation, and Agency Scale (SEAS), yang menunjukkan bahwa mereka mencari pengalaman intens, memiliki kemampuan regulasi emosi yang tinggi, dan merasa memiliki kendali atas hidup mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mendaki gunung bisa menjadi bentuk pelarian dari tekanan hidup, sekaligus cara untuk mendapatkan kepuasan emosional dan eksistensial.

Psikiater dan neurolog Katharina Hüfner, yang memimpin studi tersebut, menyatakan bahwa “kecanduan gunung” bisa muncul ketika seseorang terus-menerus mengabaikan aspek lain dalam hidup demi mendaki, bahkan saat sadar akan risiko yang dihadapi. 

Menariknya, meski mendaki gunung dikenal sebagai aktivitas yang menyehatkan secara fisik dan mental, studi ini menunjukkan bahwa kecanduan terhadap aktivitas tersebut justru bisa berkaitan dengan gangguan psikologis, terutama jika dilakukan secara berlebihan dan tanpa kesadaran akan batas diri.

Namun, tidak semua pakar melihat fenomena ini sebagai hal negatif. Dalam ulasan oleh Current Issues in Sport Science, aktivitas mendaki gunung juga disebut memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas hidup, memperkuat kemampuan koping, dan memberikan efek positif terhadap suasana hati serta kesehatan mental secara umum. 

Beberapa pendekatan terapi bahkan mulai mempertimbangkan penggunaan olahraga ekstrim seperti mendaki gunung sebagai alternatif untuk mengelola kecanduan lain, karena aktivitas ini dapat memberikan sensasi “high” alami dan membantu regulasi emosi.

Jadi, di balik keindahan panorama dan tantangan fisik, mendaki gunung menyimpan kompleksitas psikologis yang menarik untuk ditelusuri. Ia bisa menjadi candu, bisa menjadi terapi, dan bisa menjadi cermin dari dinamika batin manusia. 
 


Editor:
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo