Jakarta, Arina.id — Di era yang penuh godaan konsumerisme, filsafat minimalisme semakin relevan untuk dijadikan pegangan hidup.
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz mengatakan bahwa salah satu prinsip filsafat minimalisme adalah pengendalian keinginan. Untuk mencapai kebahagiaan, menurut aliran ini, manusia harus mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan.
"Ada quotes dari Diogenes, teman-teman mungkin hafal—filsufnya Hendrik. Kata dia, "Sifatnya dewa-dewa itu tidak butuh apa pun, karena dewa sudah mampu segalanya." Berarti apa? Kalau kamu ingin meningkat kualitasmu seperti dewa, kamu tidak usah menginginkan apa pun," kata Fahruddin Faiz dalam tayangan di akun Suara Filsuf.
Faiz mengutip istilah yang dipakai Diogenes God-like person atau manusia seperti dewa atau istilah lainnya adalah manusia setengah dewa. Manusia setengah dewa itu bukanlah manusia yang mampu segalanya. Diogenes menyebutnya: manusia yang mampu tidak menginginkan apa-apa, tapi mampu mengendalikan keinginannya.
"Kenapa setengah dewa? Karena manusia itu kecenderungannya tamak. Ingin memiliki apa-apa. Begitu dia mampu mengendalikan keinginan, tidak butuh apa-apa, itu levelnya tinggi. Ini kata Diogenes," kata Faiz.
Senada dengan itu, lanjut Faiz, ada quotes yang terkenal dari Arthur Schopenhauer: Pertama, “Akan lebih baik jika tidak ada apa-apa.”
Artinya, seseorang yang tidak punya apa-apa itu lebih baik, karena ada lebih banyak rasa sakit daripada kesenangan di bumi ini ketika manusia memiliki banyak hal. Alasannya setiap kepuasan hanyalah sementara, sebab manusia jika telah mencapai kepuasan tertentu, dia akan menciptakan keinginan baru dan kesusahan baru.
"Jadi kalau kita mencapai satu kepuasan tertentu—karena itu sifat manusia—itu sementara. Terus kita ingin lagi, ada keinginan baru. Kalau ada keinginan baru, ada kesusahan lagi yang baru. Ini filsafat kehendak atau filsafat keinginan dari Arthur Schopenhauer. Kata dia, hakikatnya hidup itu menderita, karena kita menjalani hidup dengan dasar keinginan," bebernya.
Faiz mengatakan bahwa orang ingin banyak hal, ingin ini, ingin itu—menandakan ada sesuatu yang belum terpenuhi dan itu menyakitkan. Ketika belum punya mobil ingin punya mobil. Belum memiliki kekasih ingin punya kekasih. Lalu para mahasiswa ingin cepat lulus. Ini menunjukkan adanya berbagai keinginan, berarti belum terpenuhi, diri kita merasa sakit, menderita, sampai keinginannya terpenuhi. Sementara ketika keinginan terpenuhi, manusia tidak selesai. Ada lagi keinginan yang baru. Menderita lagi.
"Sekarang teman-teman mati-matian mengejar agar cepat lulus. Begitu wisuda, selesai? Enggak. Pak, ingin segera dapat kerja. Pak, ingin segera ketemu jodoh. Pak, ingin segera menikah. Apakah selesai urusanmu? Masih panjang," Faiz menggambarkan..
Dengan demikian hidup adalah rentetan dari keinginan-keinginan, sementara keinginan itu menyakitkan. Hakikat hidup ini, versi Arthur Schopenhauer, adalah penderitaan..Bahkan di balik kesuksesan pun, ada penderitaan.
"Kalau kalian mengalami sukses tertentu, jangan lupa: ada sisi penderitaan di situ—baik penderitaan dalam proses menginginkannya, maupun penderitaan lain yang tersembunyi," kata Faiz.
Faiz mengungkapkan contoh yang diberikan Arthur Schopenhauer: “Penderitaan hewan yang dimakan selalu lebih besar daripada kesenangan hewan yang makan.”
Maksudnya adalah ketika kita menaklukkan sesuatu kita senang karena menang, tapi yang kalah rasa sakitnya lebih besar daripada senangnya kita yang menang.
“Saya mengejar lulus tercepat, terbaik. Nilai saya A semua. Tapi saya tidak pernah memperhatikan teman saya yang nilainya pontang-panting mengejar saya, dan dia terus kalah,” Faiz kembali memberikan analogi.
Penderitaan pihak yang kalah lebih besar daripada kesenangan yang menang juga karena kesenangan itu sebenarnya kecil saja, dan justru melahirkan keinginan baru. Lama-lama kesenangan itu jadi penderitaan baru.
Editor: Kendi Setiawan


