Perempuan itu bernama A’immatul Azizah, seorang penyuluh agama yang meyakini bahwa dakwah tak selalu dilakukan hanya dari atas mimbar. Dakwah bisa tumbuh dari langkah kecil, obrolan ringan di teras rumah, hingga gagasan sederhana yang dikerjakan dengan lapang dada.
A’im, begitu ia akrab disapa, tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi penyuluh agama, apalagi menjadi sosok yang dikenal karena inovasi dan pengabdiannya. Namun, seperti banyak hal dalam hidup, jalan menuju kesuksesan kerap kali terbuka melalui hal-hal yang tak disangka.
"Dulu saya tidak tahu apa itu penyuluh,” kenangnya sambil tertawa kecil. "Beberapa kali datang ke KUA, yang saya tahu hanya penghulu. Saya pikir, penyuluh itu tidak punya peran apa-apa," lanjutnya.
Dari ketidaktahuan itulah langkahnya bermula. Sejak 2017, A’im mengabadikan dirinya sebagai penyuluh non-PNS, tanpa tunjangan, tanpa kepastian. Namun baginya, itu bukan alasan untuk berhenti. Justru di sanalah ia belajar tentang makna kesabaran dan keikhlasan.
Tahun 2021 menjadi titik balik bagi A’im. Ketika dibuka rekrutmen formasi untuk penyuluh agama, ia memutuskan untuk mendaftar. Bukan melalui jalur honorer, tetapi melalui formasi umum, bersaing dengan lebih dari seribu pendaftar hanya untuk memperebutkan tujuh kuota.
Setelah melalui proses panjang, namanya muncul di deretan pertama. Maret 2022, ia resmi dilantik sebagai ASN.
Namun, status baru itu bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari langkah yang lebih luas. Dari situ, berbagai gagasan dan inisiatif lahir, membawa perubahan nyata di tengah masyarakat.
Pendamping Sertifikasi Halal
Salah satu langkah penting yang ditempuh A’im adalah mendampingi pelaku UMKM dalam proses sertifikasi halal. Kegiatan ini ia tekuni sejak 2020, ketika program tersebut masih berada di bawah naungan Bank Indonesia, lalu berlanjut di bawah koordinasi Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJH) dua tahun kemudian.
Strategi yang digunakan A’im sederhana namun kuat: kolaborasi. Ia menggandeng berbagai lembaga agar edukasi tentang pentingnya sertifikasi halal menjangkau lebih banyak pelaku usaha. Kolaborasi pertamanya dimulai bersama Dinas Perikanan, kemudian meluas ke dinas UMKM, Dinas Perindustrian, hingga Dinas Perdagangan. Sinergi itu memperluas dampak sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya sertifikasi halal di berbagai lini produksi.
Berbeda dari sebagian pendamping lain yang berfokus pada kuantitas, A’im memilih menekankan kualitas. Ia ingin memastikan para pelaku usaha tak sekadar mendapat sertifikat halal, tetapi juga memahami tanggung jawab moral di baliknya.
"Saya tidak terlalu mengejar angka. Yang penting, mereka benar-benar paham dan berkomitmen. Meski tidak tahu sejauh mana komitmen itu bertahan, setidaknya mereka merasakan manfaatnya.
Metode itu membuahkan hasil. Hingga kini, sekitar 800-900 pelaku usaha telah ia dampingi. Dari kerja panjang itu, A’im meraih sejumlah penghargaan bergengsi di antranya
- Pendamping Produk Halal Terbaik I Program SEHATI Tahap I Provinsi Lampung (2022)
- Satya Lencana Adithya Karya Mahatva Yodha Madya sebagai tokoh inspiratif pembinaan UMKM (2022)
- Pendamping Produk Halal Inspiratif tingkat nasional dari BPJH Kemenag RI (2023).
Kendati berbagai apresiasi menghampirinya, A’im tetap rendah hati. Ditanya tentang kesan atas penghargaannya sebagai penyuluh berprestasi, ia menjawab dengan nada santai, "Sebenarnya, untuk penyuluh berprestasi itu masih terlalu jauh dari saya. Saya merasa belum layak. Saya hanya berusaha agar penyuluh-penyuluh lain bisa melampaui apa yang saya lakukan.”
Badan Wakaf Wali Songo dan Kampung Zakat
Selain aktif mendampingi pelaku UMKM, A’im juga menggagas berdirinya Badan Wakaf Wali Songo (BWS) pada 2021. Lembaga kecil itu awalnya hanya menjadi wadah bagi niat baik masyarakat, tapi perlahan tumbuh menjadi gerakan sosial-keagamaan yang mengubah wajah kampungnya, Desa Sidodadi, Way Lima, Pesawaran, Lampung
A’im menuturkan, gagasan itu lahir dari kegelisahan sederhana: bagaimana agar wakaf tak terhenti sebagai wacana, tetapi hidup dalam tindakan nyata. Dalam perintisannya, A’im menjadi penggerak utama, sementara sang suami menjabat sebagai ketua lembaga.
Langkah awal mereka adalah mengedukasi masyarakat tentang perbedaan antara sedekah, infak, dan wakaf. Tapi siapa sangka, mengupayakan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kebanyakan warga lebih mudah terdorong untuk bersedekah—karena sifatnya langsung dan sukarela—ketimbang berwakaf.
Untuk memahami pola itu, A’im melakukan semacam eksperimen sosial. Ia menempatkan dua kotak donasi berdampingan. Satu bertuliskan infak, satunya lagi bertuliskan wakaf. Hasilnya mengejutkan. Dana infak terkumpul hampir tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dana wakaf.
Temuan itu semakin memacu semangatnya untuk melakukan edukasi yang lebih intensif. Melalui sosialisasi yang dilakukan secara konsisten, kesadaran masyarakat mulai berubah. "Setelah beberapa bulan, perbandingan antara wakaf dan infak sudah mulai seimbang. Tidak timpang seperti dulu,” ujarnya.
Kini, BWS tak hanya menjadi wadah pengumpul dana sosial, tetapi berkembang menjadi lembaga pemberdayaan ekonomi umat. Hasil dana wakaf digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan produktif, seperti santunan rutin, pembinaan usaha kecil, dan program sosial-keagamaan lain.
Dalam perjalanannya, BWS juga mendapat dukungan besar dari Kemenag setempat. Karena itu, BWS pun dinaungi secara resmi di bawah pembinaan Kemenag. Namun, setelah sang kepala Kemenag wafat, BWS kehilangan figur pendukung utama.
Ketiadaan dukungan itu mendorong A’im untuk menempuh arah baru. Ia bersama rekan-rekannya menjalin kolaborasi dengan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah (LAZIS), agar gerakan mereka memiliki jangkauan yang lebih luas. Dari sinilah muncul gagasan membentuk Kampung Zakat.
Perjuangan menuju pengesahan Kampung Zakat pun penuh rintangan. A’im mengaku harus melewati berbagai penolakan dan keterbatasan dukungan dari berbagai pihak. Tapi ketekunannya membuahkan hasil. Kampung Zakat yang dirintisnya kini menjadi satu-satunya di Provinsi Lampung.
“Kampung Zakat bukan sekadar proyek sosial, melainkan bentuk konkret dari cita-cita yang dulu diperjuangkan BWS—menjadikan wakaf dan zakat sebagai kekuatan ekonomi umat,” jelasnya. Program ini, lanjut A’im, memadukan tiga unsur: pengumpulan dana wakaf dan zakat, pemberdayaan ekonomi umat, serta pembangunan masyarakat.
Perhatian pun datang dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Agama hingga Kamar Dagang Industri (Kadin). Ia masih mengingat jelas momen ketika Menteri Agama, Nasaruddin Umar memberikan penghargaan simbolis bagi Kampung Zakat tersebut, disusul apresiasi dari Kepala Kadin.
“Dari situ saya yakin, kebaikan dan inovasi itu menular,” katanya lirih.
Keikhlasan itu Abadi
Bagi perempuan kelahiran Seputih Banyak, 21 Juli 1992 itu, makna penyuluh tak diukur dari banyaknya penghargaan, melainkan dari seberapa terang cahaya yang mampu dinyalakan di tengah masyarakat. Penyuluh, menurutnya, harus menjadi motor perubahan, sosok yang membangkitkan semangat, memberdayakan umat, dan menghadirkan solusi konkret bagi kehidupan bersama.
Ia kerap mengibaratkan penyuluh itu sebagai pisau cukur yang tajam.
"Sayang jika hanya dipakai untuk mengiris bawang, padahal bisa dipakai untuk mencukur rambut orang lain dan membuat orang itu percaya diri,” ujarnya bersahaja.
Dari prinsip itulah lahir berbagai inisiatif, dari pendampingan sertifikasi halal, pendirian Badan Wakaf Wali Songo, hingga terbentuknya Kampung Zakat, semuanya berpijak pada gagasan bahwa spiritualitas harus berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi. A’im percaya, ketika ekonomi umat kuat, nilai-nilai agama pun lebih mudah ditegakkan.
Bagi A’im, menyuluh berarti menyalakan kesadaran. Seorang penyuluh, katanya, harus mampu membangkitkan semangat dan menuntun masyarakat agar lebih berdaya. Ketika ditanya satu kalimat yang dapat merangkum seluruh perjalanannya, ia menjawab dengan nada pelan namun penuh keyakinan, “Keikhlasan itu abadi.”
Kalimat itu seakan menjadi gema dari seluruh nafas langkahnya—menyatu dalam setiap kerja kecil yang ia lakukan dan setiap perubahan yang ia bantu lahirkan.
Di tengah dunia yang kian riuh mengejar pengakuan ini, A’immatul Azizah menghadirkan pelajaran sederhana: bahwa pengabdian sejati tak selalu datang dari panggung besar, malah sering kali tumbuh diam-diam—dari sudut kampung, dari tangan yang bekerja tanpa pamrih, dan dari hati yang setia menjaga cahaya.
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
Editor: Kendi Setiawan


