Penyuluh Agama Islam berperan strategis membina dan membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik dari sisi spiritual maupun sosial. Berdasarkan Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 504 Tahun 2022, terdapat 12 bidang spesialisasi yang menjadi fokus utama penyuluhan agama Islam. Setiap bidang ini mencerminkan kebutuhan nyata masyarakat serta menjadi sarana aktualisasi ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Menjadi Penyuluh Agama Islam bukan sekadar profesi, namun juga bentuk pengabdian untuk membimbing umat menuju kehidupan yang beriman, bertakwa, dan rukun. Seorang Penyuluh Agama di Kantor Urusan Agama (KUA) tingkat Kecamatan memiliki tugas utama melaksanakan bimbingan, penerangan, dan penyuluhan agama kepada masyarakat, hal itu sesuai dengan Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 504 Tahun 2022.
Adapun tujuannya tidak hanya untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama saja, melainkan juga menumbuhkan semangat kerukunan antar umat beragama di tengah kehidupan sosial yang beragam.
Tugas mulia itu dijalani sepenuh hati oleh HM Zaim Afsokh, S.Ag., M.Pd.I, sosok Penyuluh Agama Islam yang kini bertugas di KUA Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Perjalanan kariernya bukan tanpa lika-liku. Ia memulai langkah dari bawah, sebagai penyuluh honorer di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sidoarjo pada awal 2000an, ketika mendapat tugas di wilayah Kecamatan Jabon.
"Waktu itu saya masih penyuluh honorer, bertugas dari desa ke desa untuk memberikan penyuluhan keagamaan. Tahun 2005 ada pendataan Penyuluh Agama. Dua tahun kemudian, pada 2007 alhamdulillah SK CPNS saya keluar,” kenangnya saat perbincangan awal Oktober 2025.
Dirinya lalu dipercaya bertugas di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sidoarjo, tepatnya di bagian Penerangan Agama Islam dan Pembangunan Masjid (Penamas). Tak lama berselang, ia berpindah ke bagian Urusan Agama Islam dan Bimbingan Syariah (Urais Binsar).
Namun, panggilan hatinya untuk turun langsung ke masyarakat tak pernah surut. Ia kembali menjalankan peran sebagai Penyuluh Agama yang kerapa bertugas di lapangan, mulai dari KUA Jabon, kemudian KUA Tanggulangin, hingga kini menetap di KUA Candi.
"Setiap wilayah punya tantangan sendiri. Tapi di mana pun saya ditempatkan, semangatnya sama—ingin memberikan manfaat bagi umat,” tutur pria yang akrab disapa Cak Zaim tersebut.
Bagi Cak Zaim, menjadi Penyuluh Agama bukan sekadar memberi ceramah. Penyuluh adalah pendamping umat—hadir di tengah masyarakat saat suka maupun duka, menjadi penenang ketika ada permasalahan sosial, sekaligus menjadi penggerak kehidupan keagamaan yang damai dan moderat.
"Kalau kita datang dengan hati, masyarakat akan menerima dengan hati juga. Itulah kekuatan penyuluh,” ujar pria kelahiran Mojokerto, 25 Desember 1969 tersebut.
Kini, dengan pengalaman lebih dari dua dekade, Cak Zaim menjadi salah satu penyuluh teladan di lingkup Kemenag Sidoarjo. Pengabdiannya mencerminkan nilai-nilai luhur yang menjadi ruh seorang penyuluh agama: ikhlas, sabar, dan penuh kasih dalam membimbing umat. Cak Saim pun sekarang mendapat amanah sebagai Ketua Pimpinan Daerah (PD) Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Sidoarjo.
“Al Ummu Madrasatun”: Sosok Ibu Menjadi Sekolah Kehidupan
Sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya bukanlah tokoh besar melainkan seorang perempuan sederhana dari desa. Ialah ibunya sendiri, almarhumah Hj. Khusnah Nur yang dengan penuh cinta dan keteguhan menjadi “madrasah kehidupan” bagi anak-anaknya.
“Al Ummu Madrasatun,” begitu Cak Zaim menuturkan kalimat yang selalu ia pegang teguh. Ibu, katanya, adalah tempat pertama dan utama bagi setiap anak untuk belajar tentang arti hidup. Dari ibunya ia belajar tentang ketulusan, perjuangan, dan makna sejati dari sebuah pengabdian,” ungkapnya.
Cak Zaim adalah sulung dari enam bersaudara, buah hati pasangan H. Abu Dardak (alm) dan Hj. Khusnah Nur (almh) di Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Sejak kecil, ibunya menanamkan prinsip kuat kepada anak-anaknya: bahwa perubahan nasib hanya bisa diraih dengan ilmu.
“Tundukkanlah dunia dengan ilmu. Dengan ilmu kamu nanti bisa hidup,” begitu pesan sang ibu yang terus terngiang dalam ingatan Cak Zaim.
Keteguhan itu semakin nyata ketika tahun 1996, sang ayah wafat. Sejak saat itu, Hj. Khusnah Nur menjalani peran ganda: sebagai seorang ibu dan kepala keluarga. Dengan penuh kesabaran, sang ibu berjuang membesarkan enam anaknya. Ibu mengencangkan ikat pinggang, bekerja sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah, dan memastikan semua anaknya tetap bisa makan dan bersekolah.
Meski hidup sederhana, tekadnya untuk mendidik anak-anak agar menjadi orang berilmu tidak pernah padam.
“Ibu itu tempat berpijak kami, tempat kami bersandar ketika lelah,” kenang Cak Zaim dengan mata berkaca.
Selain menjadi guru, Hj Khusnah Nur, ibunya tersebut dikenal aktif di organisasi Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Sidoarjo pada era kepemimpinan Hj Fatmah. Iby tak hanya berdakwah di ruang pengajian, tetapi juga berjuang dalam bidang pendidikan Al-Quran.
Pada awal tahun 1990, sang ibu mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Riuslitua Sholihin di desanya, langkah berani pada masa itu, ketika belum banyak ustadz dan ustadzah memiliki visi pendidikan yang terstruktur.
Hj Khusnah Nur memperkenalkan metode belajar mengaji yang terjadwal dan sistematis, bahkan mengikuti berbagai pelatihan di Masjid Al-Falah Surabaya untuk memperdalam metode pembelajaran Al-Quran.
Ketekunan dan dedikasi Hj. Khusnah Nur akhirnya mendapat pengakuan publik. Pada tahun 2012, ia menerima Anugerah Citra Kartini dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, yang diserahkan langsung oleh Meutia Farida Hatta, putri bungsu Proklamator Indonesia, Bung Hatta.
Penghargaan itu menjadi simbol penghormatan atas perjuangan panjangnya dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan.
Kini, setiap langkah dakwah Cak Zaim tak pernah lepas dari jejak kasih sang ibunya. Dalam setiap pelatihan pemulasaran jenazah, ceramah, dan kegiatan sosial yang ia lakukan, selalu ada napas perjuangan dan keteladanan sang ibu yang selalu menyertai.
“Ibu bukan hanya mengajarkan bagaimana hidup, tapi juga bagaimana memberi arti pada kehidupan,” tutur Cak Zaim dengan lembut.
Sosok Hj Khusnah Nur kini telah tiada, namun nilai-nilai yang ditanamkan terus hidup dalam diri anak-anaknya, terutama bagi Cak Zaim, sang penyuluh yang kini meneruskan perjuangan ibunya dalam menyebarkan ilmu, menebar kebaikan, dan memanusiakan manusia.
Menebar Ilmu, Mengabdi Lewat Dakwah dan Kemanusiaan
Di balik sosoknya yang ramah dan santun, di dalam diri Cak Zaim tersimpan perjalanan panjang penuh dedikasi dalam menebarkan ilmu dan nilai-nilai kemanusiaan. Ia bukan hanya dikenal sebagai penyuluh agama yang aktif di lapangan, tapi juga sebagai pelatih pemulasaran jenazah yang dengan sabar mengajarkan masyarakat tentang pentingnya merawat jenazah secara benar dan penuh hormat.
Kini, semangat yang diajarkkan oleh ibunya tersebut ia teruskan bersama sang istri tercinta, Amaliah Ilmiah, yang senantiasa mendampingi dalam setiap langkah pengabdian. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai dua putra yaitu Muhammad Farid Qolbi dan Muhammad Robah Barlaman. Keduanya menjadi sumber semangat sekaligus penerus nilai-nilai yang diwariskan orang tua mereka.
Cak Zaim memulai pendidikannya di MINU Kedungcangkring, lulus pada tahun 1983. Ia kemudian melanjutkan sekolah ke SMP Avisena (1985) dan SMA Avisena (1988). Sejak muda, ia dikenal tekun belajar dan gemar berdiskusi tentang agama dan sosial kemasyarakatan.
Panggilan dakwah membawa dirinya menempuh pendidikan tinggi di IAIN Sunan Ampel Surabaya, Fakultas Ushuluddin, dan lulus pada tahun 1990. Di kampus inilah, wawasan keagamaannya berkembang dan semangat untuk menjadi penyuluh mulai tumbuh kuat.
Tak berhenti di jenjang Sarjana, ia melanjutkan studi Magister di STAI Al-Khoziny Sidoarjo, lulus tahun 2010.
Pada 2019 Cak Zaim menulis buku bertajuk Perawatan Jenazah yang kelahiranny dilatarbelakangi ketika ia mencari literasi dari Google ternyata menurutnya terkadang ada yang masih kurang pas.
Di masa ini pula, ia menulis karya ilmiah yang kemudian berkembang menjadi buku bertajuk “Perawatan Jenazah”, sebuah panduan praktis dan reflektif yang berangkat dari pengalaman lapangan dan pengabdian sosialnya.
“Mau nggak mau saya belajar menulis buku Perawatan Jenazah. Alhamdulillah buku itu jadi di tahun 2019 dan sebagai buku saku atau panduan bagi para peserta pelatihan perawatan jenazah,” ucapnya.
Cak Zaim dikenal tidak hanya pandai berbicara di mimbar, tetapi juga sering terjun langsung di tengah masyarakat. Ia mengisi pelatihan dan pembinaan di sekolah-sekolah, lembaga masyarakat, rumah ibadah, hingga komunitas lintas agama. Bagi Cak Zaim, dakwah bukan hanya soal kata, tapi tentang kehadiran dan ketulusan.
“Menjadi penyuluh berarti hadir di tengah masyarakat, bukan sekadar menyampaikan ayat, tapi menghidupkan maknanya,” ujarnya.
Lewat buku Perawatan Jenazah dan berbagai pelatihan yang ia gagas, Cak Zaim berupaya menjadikan ilmu tersebut mudah dipahami dan diamalkan. Ia menekankan bahwa perawatan jenazah bukan sekadar ritual, namun juga bentuk tertinggi dari bakti dan kasih sayang manusia kepada sesama.
Setelah puluhan tahun mengabdi, Cak Zaim tetap teguh pada prinsip menjadi penyuluh yang membumi. Ia hadir dalam suka dan duka masyarakat, menyampaikan nilai moderasi beragama dengan pendekatan yang santai namun penuh makna.
“Bagi saya, dakwah adalah perjalanan tanpa akhir. Selama masih ada kehidupan, selama itu pula tugas penyuluh belum selesai,” katanya.
Belajar dari Jenazah
Dalam pandangan Cak Zaim, kematian adalah menjadi ruang belajar tentang kehidupan, keikhlasan, serta kemanusiaan. Perjalanannya menekuni ilmu pemulasaran jenazah bermula pada awal tahun 2017. Saat itu, ia menerima surat disposisi dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo untuk mengisi pelatihan pemulasaran jenazah di Desa Jati Alon-Alon, Kecamatan Prambon, pada 3 Januari 2017.
“Waktu itu saya hanya bisa pasrah. Jujur, belum begitu menguasai betul materinya,” kenangnya sambil tersenyum.
Berbekal niat tulus dan rasa tanggung jawab, Cak Zaim pun mulai menimba ilmu dari berbagai sumber. Ia mencari referensi dari buku-buku, membuka internet, berdiskusi dengan rekan penyuluh, hingga akhirnya kembali kepada sumber ilmu yang paling dekat dengan dirinya, yakni ibunya sendiri.
“Ibu saya, Al Ummu Madrasatun, bukan hanya guru ngaji dan guru madrasah, tapi juga sosok yang berdedikasi hidupnya untuk umat, terutama dalam urusan kemanusiaan, memandikan jenazah,” tuturnya dengan nada haru.
Dari sang ibu, Cak Zaim belajar bukan hanya tentang tata cara pemulasaran, tetapi juga keikhlasan dan keberanian dalam menjalani tugas yang penuh nilai ibadah itu.
“Beliau sabar membimbing saya, memberi dorongan mental agar siap melaksanakan tugas mulia ini,” tambahnya.
Sejak saat itu, dunia penyuluhan keagamaan Cak Zaim bertambah satu bidang penting: pelatihan pemulasaran jenazah. Ia tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga berupaya menciptakan suasana belajar yang enjoy, serius, tapi tetap santai, agar para peserta tidak merasa takut.
“Biasanya, peserta yang baru pertama kali belajar akan gemetar, takut, dan bingung. Tapi kalau suasananya hangat dan menyenangkan, mereka bisa menerima dengan baik,” katanya.
Bagi Cak Zaim, mengajarkan ilmu pemulasaran bukan sekadar tugas penyuluh, tapi juga warisan nilai bakti anak kepada orang tua.
“Ilmu ini adalah jurus pamungkas bagi seorang anak untuk berbuat yang terakhir kali untuk orang tuanya,” ujarnya dengan mata berbinar.
“Indikator anak sholeh atau shalehah itu adalah ketika ia mampu merawat dan memandikan jenazah orang tuanya sendiri,” tegasnya.
Cak Zaim semakin yakin bahwa tugas seorang penyuluh agama tidak berhenti di masjid, mimbar, atau majelis taklim saja. Ia juga hadir di ruang-ruang duka, menguatkan hati keluarga, dan memastikan setiap insan yang berpulang mendapatkan penghormatan terakhir dengan penuh cinta dan kemuliaan.
Uniknya, sekarang ia pun mendapatkan julukan baru sebagai ‘Ustadz Jenazah’.
Antara Sindiran dan Pandemi: Tantangan Dakwah Seorang Penyuluh Agama di Medan Pemulasaran Jenazah
Jalan dakwah di bidang pemulasaran jenazah tidak selalu mudah. Di balik setiap pelatihan dan pelayanan yang ia berikan, tersimpan dua tantangan besar yang menguji keikhlasan dan keteguhan hatinya.
Tantangan pertama justru datang dari kalangannya sendiri. Tak jarang, ia mendapatkan suara sumbang dari teman-teman seprofesi yang menyindir langkahnya tersebut.
“Ada saja yang nyindir, ‘Ngapain penyuluh oyong-oyong (bawa-bawa) boneka?’,” ujarnya menirukan.
Sindiran tersebut mengacu pada kegiatan pelatihan pemulasaran yang sering kali menggunakan boneka atau peraga sebagai media simulasi. Alih-alih patah semangat, Cak Zaim justru menjadikan cibiran itu sebagai penyulut semangat.
“Dari situlah saya belajar untuk introspeksi, memperbaiki diri, dan terus meningkatkan kemampuan. Dakwah tidak selalu disambut tepuk tangan, tapi justru dari kritiklah kita ditempa untuk lebih matang,” tandasnya.
Dakwah pemulasaran jenazah juga bukan sekadar hanya mengajarkan tata cara memandikan dan mengkafani saja, tetapi juga untuk menumbuhkan keberanian, empati, dan rasa kemanusiaan.
“Banyak orang yang ingin belajar, tapi takut. Penyuluh harus hadir untuk menenangkan, bukan menghakimi,” imbuhnya.
Tantangan berikutnya datang dari luar, dan kali ini benar-benar menguji nyali dan nurani. Ketika pandemi Covid-19 melanda, rasa takut terhadap kematian meningkat tajam. Banyak orang menjauh, enggan terlibat dalam urusan pemulasaran jenazah pasien positif Covid-19. Cak Zaim memilih jalan sebaliknya, yaitu mendekat.
“Di saat banyak orang lari, saya justru mendekat,” ucapnya dengan nada lirih.
Bersama Tim Covid-19 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sidoarjo, ia terjun langsung ke lapangan guna memberikan pelatihan dan edukasi kepada masyarakat di 18 kecamatan se-Kabupaten Sidoarjo.
Ia mengajarkan bagaimana tata cara pemulasaran jenazah Covid-19 yang aman dan sesuai dengan syariat, termasuk penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan Hazmat suit.
“Memang berat. Panas, sesak, dan butuh tenaga ekstra. Tapi di balik semua itu ada rasa tanggung jawab yang tidak bisa ditawar,” ujarnya mengenang masa-masa sulit tersebut.
Cak Zaim mengungkapkan, pengalaman di masa pandemi adalah bukti nyata bahwa dakwah sejati lahir dari keberanian untuk hadir, bahkan di saat orang lain menjauh.
“Pemulasaran jenazah bukan hanya soal fisik, tapi juga spiritual. Di situ ada doa, empati, serta pengabdian,” tutur Cak Zaim.
Setelah melewati berbagai macam ujian, Cak Zaim kian mantap melangkah di jalan dakwah yang sunyi namun bermakna tersebut. Ia menegaskan, penyuluh agama harus berani menembus batas, tidak hanya berbicara tentang surga, tapi juga hadir di tengah duka, membantu mereka yang berpisah dengan orang-orang tercinta.
“Kematian telah mengajarkan kita tentang kehidupan. Dan tugas penyuluh agama adalah menjadikan keduanya sebagai ruang ibadah,” ucapnya.
Menembus Sekat dan Merawat Kemanusiaan: Dakwah Moderasi dari Pelatihan Pemulasaran Jenazah
Tidak banyak yang menyadari, bahwa pelatihan pemulasaran jenazah bisa menjadi ruang dakwah yang penuh nilai kemanusiaan dan moderasi beragama. Cak Zaim mengemukakan, kegiatan ini bisa menjadi jembatan lintas iman dan lintas golongan untuk menumbuhkan kesadaran bersama tentang pentingnya menghormati kehidupan dan kematian.
Diterangkannya, ilmu pemulasaran jenazah bukan hanya milik satu kelompok, satu organisasi, atau satu agama. Ia merupakan ilmu kemanusiaan, yang menyentuh sisi paling dalam dari rasa empati manusia.
“Pelatihan pemulasaran jenazah ini tidak melihat dari unsur kelompok mana atau agama apa saja. Semua yang ingin belajar pemulasaran jenazah, kami layani dengan sepenuh hati,” katanya.
Cak Zaim telah diundang menjadi narasumber di berbagai kegiatan pelatihan pemulasaran jenazah, dari ruang kelas hingga rumah ibadah lintas agama. Catatan pengabdiannya mencerminkan semangat moderasi beragama yang nyata.
Cak Zaim juga pernah menghadiri undangan dalam rangka memberikan pelatihan kepada guru dan siswa di sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta, juga di komunitas perumahan, masjid, maupun pesantren. Tak hanya itu, berbagai organisasi masyarakat (ormas) pun turut mengundangnya, mulai dari Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Muslimat NU, Fatayat NU, Aisyiyah, dan LDII.
Salah satu yang berkesan bagi Cak Zaim adalah ketika ia mendapat undangan dari Gereja GPIB Jemaat Bethesda Sidoarjo. Ia berbagi pengalaman tentang pentingnya menghormati jenazah dan memberi penghormatan terakhir dengan cara yang bermartabat.
“Itu momen yang luar biasa. Kami bisa saling belajar dan saling menghormati. Nilai kemanusiaan itu yang menyatukan kita,” tandasnya.
Cak Zaim juga pernah diminta mengisi pelatihan di PJB PLN Ketintang Surabaya (BUMN), serta di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Beragam latar belakang peserta yang ia hadapi justru memperkaya pandangannya bahwa dakwah sejati adalah tentang merangkul dan bukan menghakimi.
Cak Zaim menuturkan, setiap ada kesempatan memberikan pelatihan pemulasaran jenazah adalah momentum untuk menanamkan nilai-nilai moderasi, empati, dan toleransi.
“Saat berbicara tentang kematian, sekat-sekat sosial dan agama seolah hilang. Yang tersisa hanyalah rasa kemanusiaan saja,” katanya.
Di tengah-tengah arus zaman yang sering memperuncing perbedaan, kiprah sederhana seorang penyuluh agama seperti Cak Zaim menjadi pengingat bahwa kerukunan tidak hanya dibangun lewat wacana besar, tetapi juga dari tindakan kecil yang tulus dan konsisten.
“Moderasi beragama bukan hanya slogan, tetapi cara hidup bagaimana kita hadir untuk siapa saja, kapan saja, dengan hati yang selalu terbuka,” ujarnya.
Mengakhiri kisah perjalanan hidupnya, Cak Zaim mengajak semua orang untuk belajar berbuat baik, terutama dalam mengurusi sisi kemanusiaan atau fardlu kifayah.
“Kelihatannya memberikan manfaat kepada orang lain, membantu dan menolong sesama itu membuat waktu kita tersita, harta kita berkurang, tenaga dan fikiran kita terforsir. Namun sesungguhnya, saat kita memberikan manfaat kepada orang lain pada hakekatnya kita menanam kebaikan untuk diri kita sendiri,” pungkasnya.
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
Editor: Kendi Setiawan


