Dark
Light
Dark
Light

Rupiah Menguat Jelang Pengumuman Ekonomi RI Kuartal III

Rupiah Menguat Jelang Pengumuman Ekonomi RI Kuartal III

Jakarta, Arina.id—Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (5/11/2026) belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik.

Investor kini menantikan pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2026 yang dinilai menjadi salah satu penentu arah pasar keuangan.

Pada pembukaan perdagangan Kamis, rupiah menguat 0,54 persen ke level Rp18.070 per dolar AS. Posisi tersebut membaik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya pada Rabu (4/11/2026) yang berada di level Rp18.168 per dolar AS.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan rupiah mendapat dukungan dari perkembangan eksternal, terutama penurunan tajam harga minyak dunia dan meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan berakhirnya konflik Amerika Serikat dan Iran.

Sentimen tersebut turut dipengaruhi perkembangan politik di Amerika Serikat setelah Partai Demokrat memenangkan mayoritas kursi di Kongres dan Senat AS.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan tajam pada harga minyak dunia oleh harapan berakhirnya perang AS-Iran setelah Partai Demokrat memenangkan mayoritas di Kongres dan Senat AS,” kata Lukman dilansir Kamis (5/11/2026).

Meski demikian, perhatian investor tidak hanya tertuju pada perkembangan ekonomi global. Rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal III 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) juga menjadi perhatian karena akan memberikan gambaran mengenai ketahanan ekonomi nasional.

Berdasarkan konsensus 15 lembaga dan institusi yang dihimpun CNBC Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 diperkirakan mencapai 5,20 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen dan kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen.

Jika proyeksi tersebut sesuai dengan hasil pengumuman BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melambat selama dua kuartal berturut-turut.

Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman memperkirakan perlambatan tersebut terutama dipengaruhi melemahnya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Tekanan biaya hidup yang memengaruhi daya beli masyarakat serta terbatasnya stimulus pemerintah menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca kondisi ekonomi domestik.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.050 hingga Rp18.200 per dolar AS sepanjang perdagangan Kamis.

“Investor menantikan data PDB kuartal III 2026 Indonesia yang akan dirilis siang ini,” jelasnya.

Dengan demikian, penguatan rupiah pada awal perdagangan belum menjadi satu-satunya gambaran kondisi ekonomi nasional. Hasil pertumbuhan ekonomi kuartal III akan menjadi indikator penting untuk melihat sejauh mana konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi domestik mampu mempertahankan momentum pertumbuhan.


Editor: Suci
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo