Dark
Light
Dark
Light

UNICEF Umumkan 3 Foto Terbaik 2025

UNICEF Umumkan 3 Foto Terbaik 2025

Arina.id— Foto seorang anak perempuan berusia 10 tahun dari Afghanistan yang sedang tekun membaca buku sekolah memenangkan UNICEF Photo of the Year 2025. Gambar ini diambil oleh jurnalis foto asal Prancis, Elise Blanchard, dan dipilih sebagai pemenang utama dalam ajang tahunan yang digelar oleh UNICEF Jerman untuk menyoroti kondisi hidup anak-anak di seluruh dunia. 

Elise Blanchard mengunjungi stasiun radio, bengkel jahit, pabrik pemolesan batu permata, dan sekolah-sekolah tersembunyi di Kabul dan desa-desa pegunungan terpencil. Ia juga mengunjungi daerah-daerah di mana kekeringan dan hasil panen yang buruk akibatnya telah menyebabkan kemiskinan sedemikian rupa sehingga keluarga terpaksa menikahkan anak perempuan yang masih berusia tujuh tahun dengan pria yang lebih tua. 

Dalam foto pemenang karya Blachard, Hajira dipotret sedang membaca di sebuah kampung terpencil di Provinsi Nangarhar. Adegan itu menangkap “keteguhan sunyi” seorang anak yang terus belajar meskipun banyak anak perempuan di negaranya dilarang mendapatkan pendidikan lebih tinggi akibat kebijakan Taliban. Blanchard bertemu Hajira di sebuah pusat kesehatan, tempat dia dirawat hingga pulih setelah beberapa bulan sakit.

Pemenang pertama – Masa Kecil Perempuan di Afghanistan | Hajira (Foto: Elise Blanchard) 

UNICEF menyatakan foto ini mencerminkan semangat jutaan anak perempuan yang hak dasarnya — terutama hak atas pendidikan — dibatasi. Gambar ini disebut kuat karena tanpa dramatisir, menunjukkan tekad dan rasa ingin tahu anak di tengah keterbatasan ekstrem.  

Sejak pengambilalihan kekuasaan pada Agustus 2021, Taliban kembali menjadikan perempuan di Afghanistan sebagai warga negara kelas dua. Meskipun kelaparan dan kekurangan gizi merajalela, dan klinik serta dokter langka di negara yang sudah miskin ini, nyatanya anak perempuanlah yang paling dirugikan. Mereka diizinkan bersekolah hingga kelas 7, setelah itu mereka dilarang melanjutkan pendidikan.

Penghargaan kedua diraih Natalya Saprunova, dengan foto yang menangkap dampak parah polusi udara terhadap anak-anak di Mongolia. Foto karya Natalya menunjukkan sebuah taman kanak-kanak di ibu kota, tempat alat pembersih udara telah dipasang untuk mengurangi tingkat polusi. Anak-anak perempuan berusia empat tahun dirawat di rumah sakit karena penyakit pernapasan, anak-anak kecil menjalani rontgen paru-paru, dan puluhan orang meninggal karena keracunan karbon monoksida, sementara awan cokelat mengepul dari ratusan ribu cerobong asap ke udara karena musim dingin yang dapat mencapai suhu -30°C.
 

Pemenang kedua – Sebuah tempat anak-anak yang diberikan alat pembersih udara untuk mengurangi tingkat polusi.(Foto: Natalya Saprunova) 

Mongolia termasuk di antara 20 negara terbesar di dunia, tetapi juga merupakan negara dengan kepadatan penduduk terendah. Polusi partikulat dari pembakaran batu bara, yang menyumbang sekitar 70% dari produksi energi negara, memiliki konsekuensi yang sangat buruk.

Mongolia dulunya terkenal dengan 'langit biru abadi', namun kini memiliki masalah polusi udara yang parah. Penduduk yang tinggal di ibu kota, Ulaanbaatar, adalah yang paling terdampak.

Tempat ketiga diberikan kepada Sourav Das dari India, yang mendokumentasikan masa kanak-kanak di Jharia, tempat salah satu tambang batu bara terbesar di India berada. Jharia digambarkan sebagai “kota yang terbakar” di mana asap tebal dan kondisi kerja keras merenggut masa kanak-kanak mereka.

Juara ketiga – India: Anak-anak di tambang batu bara Jharia. Foto: Sourav Das

Penghargaan khusus diberikan kepada tujuh seri foto lainnya dari Afghanistan, Gaza, Afrika Selatan, Ukraina, dan Inggris. Foto-foto pemenang dan semua foto UNICEF lainnya bakal dipamerkan di Berlin dari 30 Januari hingga 26 April 2026. 


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo