Dark
Light
Dark
Light

Ingin Selalu Bahagia, Jangan Memperumit Hidup

Ingin Selalu Bahagia, Jangan Memperumit Hidup

Jakarta, Arina.id — Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali, tanpa sadar, membuat segalanya menjadi rumit. Seakan-akan semua persoalan yang kita hadapi tidak ada jalan penyelesaiannya dan kerap membuat putus asa.

Padahal, filsuf Tiongkok kuno Confucius mengatakan: “Hidup ini sederhana, tetapi kitalah yang ngotot untuk membuatnya rumit.” Dan juga dari Cal Newport: “Saya tidak mengatakan ‘tidak’ karena saya sangat sibuk. Saya mengatakan ‘tidak’ karena saya tidak ingin terlalu sibuk.”

"Maksudnya apa? Tidak ingin terlalu ruwet. Tidak ingin terlalu rumit. Nasihat dari Confucius ini mengajak kita menyadari bahwa hidup itu sederhana. Tapi kita sering membuatnya rumit sendiri," kata Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz dalam tayangan rekaman ceramahnya di akun Suara Filsuf.

Faiz mencontohkan kerumitan-kerumitan yang diciptakan manusia sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat mau masuk ruangan, mencari tempat duduk saja mereka berpikir “Saya harus duduk dekat tembok, biar bisa sandaran. Tapi kalau sandaran nanti ngantuk. Kalau ngantuk dilihat orang, malu. Kalau begitu, sandarannya jangan terlalu belakang. Tapi agak miring sedikit…”

"Akhirnya ruwet sendiri, padahal tinggal masuk dan duduk," ungkapnya.

Kerumitan lainnya saat berpikir datangnya pas kapan. "Datang agak tengah-tengah biar tidak terlalu mencolok. Kalau terlalu depan nanti dilihat Pak Faiz. Kalau terlalu belakang tidak kedengaran. Lagi-lagi, jelimet. Padahal tinggal duduk. Kita terlalu memikirkan hal-hal kecil, dan merumitkan hidup sendiri," lanjut Faiz.

Terkait hal itu Faiz mengatakan ada satu kutipan menarik: “Why complicate life?” Kenapa kita bikin hidup ruwet?

Faiz memberikan contoh-contoh kerumitan yang terjadi sehari-hari berikut cara mengatasinya dengan sederhana

Kangen seseorang? Ya telepon. Kalau tidak diangkat, ya sudah. Tapi setidaknya jadi lega.

Ingin ketemu? Undang. Kalau tidak datang, ya tidak apa-apa.

Ingin dipahami orang? Jelaskan.

Punya pertanyaan? Tanyakan.

Tidak suka? Bilang saja.

Suka? Ungkapkan.

Ingin sesuatu? Minta.

"Cinta seseorang? Katakan. Tinggal bilang saja. Kalau ditolak? Ya tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah lega, sudah menyampaikan," kata Faiz.

"Kadang-kadang kita mikir terus: Waduh, rasa ini mau aku bawa ke mana? Itu salahmu sendiri. Kamu membuat hidupmu ruwet," ujarnya.

Prinsip filsafat minimalisme juga seperti itu yaitu sederhana saja, tidak usah dibikin ruwet.

Contoh lain keruwetan hidup yang sering terjadi dan tips mengatasinya:

Tidak lulus kuliah? Ya diulang. Selesai. Tidak usah berpikir panjang-panjang.

Lapar? Makan.

Haus? Minum.

Contoh lainnya adalah saat akan melakukan apa saja, diawali dengan rapat panjang lebar. Akhirnya tidak jalan-jalan.

“Keputusannya gimana? Kita rapat lagi, ya. Wah, dari tadi rapat isinya apa kok masih harus rapat lagi? Kita suka memperumit persoalan. Padahal bisa diputuskan cepat, simpel, jalan," kata Faiz.

Dia mengajak agar masyarakat berpikir sederhana tidak usah rumit-rumit. "Biar tidak habis waktu, biaya, tenaga, dan energi untuk hal-hal yang tidak penting," ungkapnya.

Solusi sederhana, kata Faiz, juga sebenarnya diajarkan oleh agama Islam. “Pak, saya pengin puasa, tapi takut sakit ini-itu. Ya sudah, kalau tidak kuat ya banyak konsesi. Agama saja ngerti," ungkap Faiz:

Dalam ibadah-ibadah juga Allah telah memberikan solusi. "Sholat tidak kuat berdiri, ya duduk. Tidak kuat duduk, ya berbaring. Tidak kuat berbaring, pakai isyarat.

 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo