Jakarta, Arina.id—Setiap manusia pada dasarnya memiliki ambisi, keinginan, dan cita-cita. Namun, semua itu harus bermuara pada satu tujuan utama, yakni Allah.
Cendekiawan muslim Fahrudin Faiz mengingatkan pentingnya menata kembali orientasi hidup agar tidak terjebak pada kecintaan yang berlebihan terhadap hal-hal duniawi.
“Kan biasa sebenarnya tiap orang itu punya ambisi, punya keinginan, punya cita-cita. Tapi rumusnya seperti saya bilang tadi, finalnya tetap harus Allah,” kata Fahrudin Faiz dalam tayangan video Mengaji Hening, diakses Jumat (3/4/2026).
Ia menegaskan bahwa mencintai sesama atau hal-hal yang disukai bukanlah sesuatu yang dilarang. Namun, cinta tersebut harus ditempatkan sebagai bagian dari kecintaan kepada Allah.
“Jadi, Pak opo ndak boleh mencintai sesama (manusia), mencintai yang kita cintai, cintai saja, tapi jadikan cinta itu bagian dari cinta kita kepada Allah. Karena Allah sang maha cinta. Dia menyukai aktivitas mencintai, maka aku pun mencintai,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahaya ketika kecintaan terhadap sesuatu justru melampaui kecintaan kepada Allah. Dalam kondisi ini, seseorang bisa lalai dari kewajiban ibadah dan kehilangan kesadaran spiritual.
“Nah, cuma kok nanti ada yang kita cintai melebihi Allah atau justru membuat kita lupa pada Allah saking cintanya dengan HP, dengan main game, dengan nonton TikTok, dengan YouTube-an, dengan Spotify-an, porsinya untuk Allah lama-lama habis,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat membuat ibadah menjadi sekadar rutinitas tanpa kehadiran hati. “Ya tinggal shalat saja. Shalat pun kadang juga nggak sadar hadirnya Allah. Nah, itu coba dicek lagi dalam diri kita. Jangan-jangan ada kotoran-kotoran,” lanjutnya.
Dalam pandangannya, salah satu indikator adanya “kotoran jiwa” adalah sikap berlebihan dalam berbagai hal. Ia menegaskan bahwa sesuatu yang berlebihan, meskipun tampak baik, tetap dapat berdampak negatif.
“Yang terakhir berlebihan. Jadi, perilaku-perilaku yang berlebihan apa saja? Kan dulu di filsafat akhlak saya singgung bahwa segala yang berlebihan itu jelek. Bahkan baik berlebihan pun jelek,” ujarnya.
Ia mencontohkan, sikap menghargai orang lain memang baik, tetapi jika dilakukan secara berlebihan hingga memuji secara berlebihan atau bahkan “menyembah”, maka hal tersebut menjadi tidak tepat. Begitu pula dengan rasa benci yang melampaui batas hingga menghilangkan rasionalitas dan kemanusiaan.
“Menghargai orang itu bagus, tapi menghargai saking menghargainya sampai memuji-muji, sampai menyembah-nyembah kebablasan jelek. Benci orang itu manusiawii, tapi kebencian yang berlebihan sampai kita ndak rasional, sampai kita ndak manusiawi pasti jelek,” tegasnya.
Fahrudin Faiz mengajak masyarakat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri apabila mulai merasakan gejala-gejala tersebut.
“Nah, kalau ada gejala-gejala ini ayo segera muhasabah. Ada sisi kotor apa dalam diriku yang perlu aku bersihkan? Jangan-jangan masih ada sombong, jangan-jangan masih ada iri, jangan-jangan masih ada dengki pada orang, jangan-jangan masih ada rasa benar sendiri, egois, dan lain sebagainya,” tuturnya.
Ia juga mengaitkan hal ini dengan pemikiran Imam Ghazali dalam karya Ihya Ulumuddin, yang menjelaskan bahwa dorongan syahwat yang tidak terkendali dapat menjadi sumber kerusakan dalam diri manusia.
Dengan demikian, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam mencintai, mengelola emosi, serta membersihkan hati dari berbagai penyakit batin agar kehidupan spiritual tetap terjaga.
Editor: Kendi Setiawan


