Jakarta, Arina.id—Cendekiawan Muslim Fahrudin Faiz mengingatkan pentingnya introspeksi diri (muhasabah) dalam menjalani kehidupan beragama. Menurutnya, berbagai kesulitan dalam mengamalkan ilmu hingga ibadah yang terasa berat bisa menjadi indikator bahwa kondisi jiwa seseorang belum sepenuhnya bersih.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam sebuah kajian, dengan gaya santai namun sarat makna. Di awal, ia mengaku sengaja tidak menyampaikan materi secara terlalu berat agar jamaah tidak merasa pesimis.
“Nah, saya ndak menjelaskan panjang-panjang biar kalian gak pesimis. Karena biasanya kalau ngaji kayak gini itu aduh Pak kok berat, Pak. Yuk, pokoke sekarang informatif dulu nanti direnungi mana yang bisa dijalankan, dijalankan,” ujarnya dalam tayangan video Mengaji Hening, diakses Kamis (2/4/2026).
Mengutip dari kitab Ihya’ Ulumuddin, ia kemudian menguraikan sejumlah tanda jiwa seseorang masih “kotor” dan perlu dibersihkan. Tanda pertama adalah kesulitan menjalankan fungsi ilmu, hikmah, dan makrifat dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan fenomena banyak orang yang rajin mengikuti pengajian atau kajian filsafat dalam waktu lama, namun merasa tidak mengalami peningkatan kualitas diri.
“Ngaji sih saya tiap hari, Pak. Tapi kok yo menjalankannya kok berat ya, Pak. Jangan-jangan jiwa kita masih kotor. Perlu ada yang dibersihkan,” katanya.
Ia menyinggung pengalaman sebagian orang yang telah mengikuti ratusan sesi kajian, tetapi merasa stagnan. “Pak saya itu ngaji filsafat sudah hampir 400 sesi saya ikuti sejak awal sampai akhir. Yo saya kok gini-gini saja ya, Pak. Ndak naik-naik kelas,” lanjut menggambarkan.
Untuk menjelaskan hal ini, ia menggunakan analogi sederhana: wadah yang kotor akan tetap menghasilkan sesuatu yang kotor meskipun diisi dengan hal yang bersih. “Wadah yang kotor itu diisi barang bersih berapapun, yang masuk akan terkontaminasi jadi kotor,” jelasnya.
Karena itu, ia mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi diri secara jujur. Bisa jadi, menurutnya, ada “kotoran” berupa dosa, maksiat, atau bahkan keterikatan berlebihan pada urusan dunia yang membuat ilmu tidak memberi dampak signifikan.
“Coba dicek apakah dosanya itu di anggota tubuh, dosa dan maksiat ataukah terlalu fokus pada duniawi, lupa Allah dan lain sebagainya. Saatnya instropeksi,” ujarnya.
Tanda kedua adalah ketidakmampuan menikmati ibadah. Ia menilai, jika ibadah masih dirasakan sebagai beban, maka ada sesuatu dalam diri yang perlu diperbaiki. “Jadi, yo shalat sih, yo puasa sih, yo zakat sih, tapi rasanya beban. Ini berarti belum bisa menikmati,” katanya.
Ia menggambarkan situasi ketika seseorang merasa berat setiap kali mendengar azan, karena menganggap ibadah sebagai kewajiban yang harus segera “diselesaikan”. “Baru nongkrong sebentar, ah sudah azan isya kok yo cepat yo. Nah, itu rasanya beban. Krungu azan iki rasane aduh wis, akhirnya kan kamu cepat-cepat pengin shalat biar bebas tugas,” tuturnya.
Fenomena lain yang disorot adalah sikap “pura-pura gembira” dalam menyambut ibadah, padahal di dalam hati justru mengeluh. “Terus kamu pura-pura gembira padahal kamu ngerundel. Besok ndak bisa makan siang-siang ini. Wah, berat sekali nanti kuliahku. Asam lambungku bagaimana? Pokoknya kamu khawatirnya banyak. Ndak ada gembira-gembiranya,” ungkapnya.
Tanda ketiga adalah kecenderungan sibuk dengan hal-hal yang tidak bermakna. Ia mengajak setiap orang untuk menghitung kembali aktivitas harian, apakah lebih banyak diisi hal yang bermanfaat atau justru sebaliknya.
“Nah, coba dihitung dalam sehari kesibukan kita yang memang urgen penting, bermakna, bermanfaat berapa persen? Kok lebih 50 persen aktivitas kita ternyata aktivitas yang sia-sia,” katanya.
Ia menyoroti kebiasaan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak jelas manfaatnya, seperti berjam-jam bermain ponsel tanpa tujuan.
“Aku loh, Pak, kok asyiknya malah main HP? Itu pun yo ndak jelas, cuma scrolling-srolling aja sejak tadi,” ujarnya menggambarkan.
Menurutnya, kondisi ini kontras dengan sikap saat beribadah yang justru terasa berat. “Beribadah gak asik, tapi melakukan hal-hal yang gak ada maknanya asik. Saya itu, Pak, kalau ngobrol sambil ngerokok nongkrong itu ndak terasa berjam-jam. Tapi kalau salat mau zikir sebentar saja kok yo rasanya berat,” tambahnya.
Ia juga memberi ilustrasi ringan tentang dzikir yang dilakukan tanpa penghayatan. “Subhanallah (diucapkan) 33 kali itu rasanya kayak tiga kali copet. Subhanallah, Subhanallah, sudah 33 gak dinikmati sama sekali,” katanya.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa salah satu sumber “kekotoran jiwa” adalah adanya sesuatu yang dicintai secara berlebihan hingga melampaui cinta kepada Allah.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa memiliki ambisi, keinginan, dan cita-cita adalah hal yang wajar. Namun, orientasi akhirnya tetap harus kepada Tuhan.
“Kan biasa sebenarnya tiap orang itu punya ambisi, punya keinginan, punya cita-cita. Tapi rumusnya seperti saya bilang tadi, finalnya tetap harus Allah,” ungkapnya.
Melalui penjelasan tersebut, Fahrudin Faiz mengajak masyarakat untuk tidak hanya memperbanyak aktivitas keagamaan secara lahiriah, tetapi juga membersihkan batin agar ilmu dan ibadah benar-benar memberi dampak dalam kehidupan.
Editor: Kendi Setiawan


