Banjarnegara, Arina.id – Ramadan tahun ini, ada nuansa lain di Desa Purwasaba Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara Jawa Tengah. Sore hari menjelang maghrib, suasana desa menjadi lebih meriah dengan kehadiran warga maupun wisatawan yang ngabuburit. Ada apa?
Desa Purwasaba yang dipimpin kepala desa nyentrik bernama Welas Yuni Nugroho alias Kades Hoho ini, memiliki “Rumah Kapal” yang unik. Di dalamnya terdapat beberapa kafe dan pusat kuliner khas.
Dari atas ikon rumah kapal di Purwasaba Garden Hill yang estetik ini, pengunjung bisa menyaksikan matahari turun perlahan, disusul kelap-kelip lampu rumah warga yang menyala satu per satu.
Destinasi yang juga dikenal sebagai Botanical Garden Purwasaba ini dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Jatisari, di bawah BUMDes Purwasaba, binaan Kades Hoho. Wujudnya berupa bangunan dua lantai menyerupai kapal yang “berlayar” di tengah lautan sawah, menjadi daya tarik utama sekaligus spot foto favorit pengunjung.
Menikmati suasana desa
Ngabuburit di atas Rumah Kapal menjadi pengalaman berkesan sembari menunggu tibanya azan. Dari titik tertinggi itu, suasana semakin syahdu, menyaksikan hamparan sawah yang indah. Alam desa yang tenang membawa kedamaian, hati pun menjadi tentram. Berbuka dengan keluarga ataupun sahabat semakin nikmat.
Di balik geliat wisata ini, peran Kades Hoho Alkaf sangat penting. Kades bertato yang viral di media sosial karena gaya nyentrik dan dekat dengan anak muda ini selalu mengajarkan optimisme. Konten kreatifnya bersama pemuda desa beredar luas, memperlihatkan bagaimana ia mempromosikan potensi desa dengan pendekatan kekinian.
“Kami ingin kehadiran rumah kapal di Purwasaba ini tidak hanya dikenal, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh warga. Karena itu, kami dorong BUMDes dan Pokdarwis untuk terus berinovasi,” kata Kades Hoho saat perbincangan dengan Arina.id pertenganan Februari 2026.
Menurut Hoho, rumah Kapal bukan hanya jadi bangunan unik, melainkan simbol keberanian desa untuk bermimpi besar. Pengembangan Purwasaba Garden Hill dirancang sebagai ruang kreasi anak-anak muda. Untuk itu, mereka dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan.
“Penggerak Pokdarwis Jatisari adalah pemuda desa. Tugas kami di pemerintah desa adalah memberi ruang dan dukungan,” imbuhnya.
Pusat kuliner yang terjangkau
Tak hanya suasana, kuliner khas pun menjadi magnet tersendiri. Selama Ramadan 1447 H, pengelola menawarkan paket berbuka puasa di lantai dua Rumah Kapal.
Beberapa kafe yang berada di kawasan menyajikan beragam menu yang menggugah selera. Menu dapat dinikmati langsung saat berbuka atau bisa juga dibawa pulang. Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, menyasar kalangan keluarga hingga anak muda.
Pengunjung dari kota Banjarnegara bernama Putra (24) terkesima melihat ada rumah kapal unik di desa Purwasaba.
“Purwasaba keren punya. Saat langit mulai gelap, sawah di sini seperti berubah jadi lautan hitam. Lampu-lampu rumah terlihat seperti bintang. Rasanya benar-benar seperti di atas kapal,” ujar Putra.
“Biasanya kami ke kafe di kota. Tapi di sini lebih tenang, anginnya sejuk, dan pemandangannya alami. Momen menunggu adzan magrib yang syahdu,” tutur Hani, mahasiswi dari Gombong bersama rekan-rekannya yang penasaran ngabuburit di rumah kapal.
Di antara desiran angin dan cahaya lampu desa, dari jauh Rumah Kapal di Purwasaba Garden Hill terlihat sungguh memikat. Bayangan orang-orang yang berkunjung menghidupkan suasana desa.
Rumah Kapal Purwasaba memang berani tampil beda, seperti gaya nyentrik kades pemimpinnya. Namun, sesanti Kades Hoho, viralitas bukan tujuan akhir. Melainkan pintu masuk untuk mengenalkan potensi lokal lebih luas.
Editor: Kendi Setiawan


