Eling-eling siro manungso
Nemenono nggonmu ngaji
Mumpung durung katekanan
Malaikat juru pati
Potongan syi'iran atau syair itu biasanya dilantunkan jamaah shalat di masjid atau mushala. Namun, Sabtu malam (7/3/2026), syair karangan dari KH Ali Maksum pengasuh Pesantren Krapyak, Yogyakarta itu melantun di Aula Desa Tiparkidul, Kecamatan Ajibarang, Banyumas Jawa Tengah. Empat orang mengenakan pakaian Jawa, berkain jarik, berikat kepala itu melantunkan 'tembang pengeling' sambil memainkan gitar.
Demikianlah pembuka acara Tadarus Sastra Ramadhan yang dihelat oleh Gerakan Pemuda Ansor Ranting Tiparkidul, Karang Taruna Tiparkidul dan Komunitas Kawantra. Sebelum pembacaan puisi, sajak, guritan dan musikalisasi puisi itu dimulai, pra acara diisi dengan tahlil dan doa bersama di pertengahan Ramadan tahun ini.
"Ini merupakan kegiatan kolaborasi antara GP Ansor dan Karang Taruna Desa Tiparkidul. Kegiatan ini juga terselenggara dengan dukungan berbagai pihak mulai dari pemerintah desa dan juga Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB)," jelas Ketua Karang Taruna Desa Tiparkidul, Algar Mahesa.
Dalam tadarus sastra ini turut hadir para seniman, penyair, penikmat sastra yang membacakan karya mereka dan orang lain mulai dari Edi Romadon, Wanto Tirta, Dewandaru Ibrahim, Nabil, Edy Pranata PNP, Yanwi Mudrikah, Riswo Mulyadi dan lainnya.
Salah satu hal yang menarik ialah turut tampilnya para pegiat sastra dari kalangan generasi Z yang mulai memulai kiprah mereka di dunia sastra di wilayah Banyumas.
"Kami rencanakan kegiatan bisa terlaksana tiap tahun. Ramadhan ini menjadi awal untuk kegiatan serupa ke depan," katanya.
Anak Kandung Peradaban
Dimulai sejak pukul 21.00 acara berlangsung khusyuk dan khidmat. Puisi yang menjadi bagian dari puncak estetika manusia dalam mengolah bahasa ini dibacakan satu persatu oleh para peserta dengan penuh ekspresi di bawah temaram lampu sorot panggung 'lesehan' ini.
Saat para penampil unjuk karya dan ekspresi di panggung temaram, angin malam usai hujan deras malam itu bertiup. Namun hal itu tak membuat tak kurang dari seratus pengunjung beranjak. Dengan durasi tampilan yang telah diatur oleh pengatur acara, acara itu dikhatamkan jelang tengah malam.
"Bahasa adalah anak kandung peradaban. Dan puisi adalah puncak karya manusia melalui bahasa yang penuh makna dan estetika. Di sinilah, bahasa dibacakan diaktualisasikan dan diinterpretasikan oleh pendengar atau pembacanya. Dari bahasalah peradaban ini mengada," kata Wakil Ketua DKKB, Jarot Citrowinarno Setyoko.
Tadarus sastra Ramadhan dipandang menjadi bagian dari salah satu dari sekian panggung sastra dan kreativitas yang dihelat di wilayah pinggiran Banyumas. Sebelum ini berbagai acara literasi juga pernah dihelat di sejumlah tempat, waktu dan momen yang berbeda-beda.
Hamidin, penyair yang juga wartawan majalah Banyumasan, Ancas yang turut hadir mengatakan harapannya agar kegiatan seperti ini semakin banyak muncul.
"Karena hakikatnya sastra akan semakin hidup dan mewarnai kehidupan ketika mampu masuk dalam relung-relung hati masyarakat tanpa mengenal geografis. Di mana pun, dan siapa pun yang mau bersastra maka ia (sasatra) akan ada," jelas Hamidin.
Editor: Kendi Setiawan


