Dark
Light
Dark
Light

Dari Madura ke Ubud, Santri Syaichona Moh Cholil Bawa Isu Lokal ke Panggung Sastra Asia Tenggara

Dari Madura ke Ubud, Santri Syaichona Moh Cholil Bawa Isu Lokal ke Panggung Sastra Asia Tenggara

Rosul Jaya Raya (23) adalah satu dari sepuluh penulis terpilih dalam seleksi program Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2025. Ubud Writers and Readers Festival merupakan festival sastra tahunan terbesar di Asia Tenggara yang diadakan di Ubud, Bali.

Cerita pendek (cerpen) karya pria asal Bangkalan, Pulau Madura Jawa Timur ini berhasil mengungguli lebih dari 600 cerpen lainnya, sehingga mengantarkannya terpilih sebagai peserta UWRF 2025 yang akan digelar pada akhir Oktober 2025.

Ia mengaku tak menyangka bisa terpilih mengikuti UWRF 2025. Dalam bayangannya, peluang itu baru akan datang saat usianya 28 tahun. Namun, tak disangka, kesempatan tersebut justru datang lebih cepat dari yang ia perkirakan.

"Saya tidak berharap lolos, karena sadar untuk bisa ikut UWRF sulit sekali. Pikiran saya ya kalau tahun ini tidak lolos, coba lagi tahun depan. Kalau tahun depan tidak lolos, tahun depannya lagi, sampai lolos,” ujar alumnus Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam (IAI) Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan.

Kepada Arina.id, ia bercerita bahwa ia menerima pesan yang mengabarkan karyanya terpilih dalam program Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2025, dan ia berhak mengikuti festival yang dijadwalkan berlangsung beberapa bulan lagi. Kabar itu membuatnya kaget sekaligus curiga, sebab sebelumnya ia diminta mengisi formulir melalui Google Form yang membuatnya khawatir akan kemungkinan penipuan.

Untuk memastikan, ia menghubungi beberapa alumni UWRF dari tahun-tahun sebelumnya lewat pesan langsung di media sosial. Setelah mereka membenarkan bahwa pesan tersebut memang dikirim oleh panitia resmi, barulah ia merasa tenang dan yakin.

"Cerpen yang saya tulis ini mengangkat tema sosial politik yang ada di Bangkalan, Madura,” imbuhnya.

Ia menjelaskan bahwa karyanya lahir dari pengamatannya terhadap dinamika sosial dan politik di Bangkalan, Madura. Di dalamnya, ia menyampaikan kritik terhadap tiga patron otoritas utama di wilayah Bangkalan. Pertama adalah kiai yang dianggap sebagai figur religius dengan otoritas sangat tinggi. Kedua, blater yang merupakan penjaga keamanan kampung, mirip jawara. Ketiga, politisi, termasuk kepala desa, yang juga memegang peran penting dalam struktur kekuasaan lokal.

“Saat ide itu muncul, kebetulan sedang ada lomba atau sayembara menulis di sebuah blog. Namun, jumlah kata dibatasi hanya 1.500 kata. Menurut saya batasan itu tidak memungkinkan untuk mengangkat ketiga topik itu secara mendalam. Pada saat yang sama, UWRF sedang membuka seleksi naskah bagi penulis yang ingin diundang sekaligus menjadi pembicara di UWRF 2025, dengan ketentuan cerpen 3000 kata,” ungkapnya.

Ia menceritakan bahwa cerpen tersebut selesai ditulis pada bulan Januari 2025. Namun ia merasa hasilnya masih kurang memuaskan. Karena itu, ia memutuskan untuk menulis ulang dari awal. Dalam prosesnya, ia juga membaca karya-karya penulis Madura lainnya dan menyadari bahwa kritik yang ingin ia sampaikan belum banyak diangkat oleh penulis-penulis tersebut. Setelah naskahnya rampung, ia pun mengirimkannya. Ia menambahkan bahwa dalam proses kreatif itu, ia melakukan riset dengan membaca buku, jurnal, serta mendengarkan podcast yang membahas kebudayaan Madura.

"Saya sangat puas sekali, bisa menuliskan kondisi sosial politik sekarang dan sejarah masa lalu yang ada kaitannya dengan Madura,” imbuhnya.

Ia membagikan beberapa tips agar cerpen bisa lolos kurasi UWRF. Salah satu pendekatan yang ia gunakan adalah dengan mendobrak pola penokohan antara tokoh antagonis dan protagonis. Ia berupaya menulis karya yang tokoh-tokohnya tidak sepenuhnya antagonis maupun protagonis. Pendekatan ini terinspirasi dari gaya penulisan Yusi Avianto Pareanom, penulis novel Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi, yang para tokohnya tidak digambarkan secara hitam-putih.

Menurutnya, dunia nyata pun tak sesederhana itu. Sebagai contoh, seorang pencuri mungkin mencuri karena terhimpit kemiskinan, hal yang membuat mereka tidak serta-merta bisa dianggap sebagai tokoh jahat. Begitu pula seorang tokoh yang secara umum dianggap sebagai sosok protagonis karena perannya dalam lingkungan, namun dalam kenyataannya ada yang bisa saja terlibat kasus kekerasan. Pandangan itulah yang menjadi dasar dari teknik penokohan yang ia terapkan dalam cerpennya.

Ia melanjutkan bahwa teknik kedua yang digunakannya dalam menulis cerpen adalah menggabungkan unsur mistisisme dengan realitas. Ia terinspirasi dari sejumlah penulis cerpen yang karya-karyanya realis, tetapi dipadukan dengan unsur-unsur mistik atau dongeng. Hal serupa ia coba terapkan dalam cerpennya, dengan menghadirkan mimpi sebagai elemen penting dalam alur cerita.

Dalam cerpen tersebut, ia menciptakan tokoh seorang blater yang bermimpi bertemu makhluk gaib yang menyuruhnya mencalonkan diri sebagai kepala desa. Di sisi lain, ia menggambarkan tradisi kepala desa yang diwariskan secara turun-temurun, misalnya dari seorang kiai kepada anaknya.

“Misalnya kepala desanya adalah seorang kiai, otomatis calon kepala desa selanjutnya adalah anak dari seorang kiai. Kemudian ada anak seorang blater yang punya pengalaman ingin mendaftarkan diri menjadi kepala desa. Naha, dia ini mendapatkan ilham dari mimpi. Kemudian ada anak kiai yang tidak punya background politik yang tidak layak memimpin, dia menjadi pemimpin di masa mendatang. Nah, ini saya menuliskan dua hal itu," imbuhnya.

Ia juga membagikan tips dari segi gagasan dalam menulis cerpen. Menurutnya, seorang penulis harus berani menyampaikan gagasan yang kompleks dan tidak setengah-setengah, terutama dalam membangun karakter. Penokohan, ujarnya, harus dibuat kuat dan mendalam. Salah satu caranya adalah dengan menelusuri latar belakang tokoh hingga ke sejarah masa lalunya.

Ia mencontohkan tokoh habib sebagai sosok yang tidak hanya diambil dari kenyataan, tetapi juga disertai dengan kondisi sosial yang nyata. Dengan demikian, penokohan tidak sekadar meminjam figur riil, melainkan juga mencerminkan keadaan yang benar-benar terjadi.

"Itu dua teknik yang berusaha saya pakai dalam menuliskan cerpen yang lolos UWRF 2025,” jelasnya.

Sastra dan Pesantren
Rosul mengaku bahwa latar belakangnya sebagai santri memberikan pengaruh besar dalam proses kreatif menulis karya sastra. Di Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil minatnya terhadap dunia sastra muncul.

"Saya itu di pesantren lebih banyak menetap di perpustakaan daripada di asrama. Biasanya kalau tidur di pesantren, jarang di asrama sendiri. Kebetulan hal itu membuat bacaan saya jadi luas, selain baca kitab saya juga baca buku filsafat, sastra,” ujarnya.

Ia menceritakan bahwa dorongan awalnya untuk menulis muncul setelah membaca berbagai buku. Ia ingin membagikan apa yang telah ia baca kepada orang lain. Pada mulanya, ia menulis di majalah dinding pesantren, lalu berlanjut ke majalah dan situs web milik pesantren.

“Pesantren adalah awal mula saya mencintai literasi dan saya mulai menulis. Awal mula saya tertarik sastra adalah ketika membaca Majalah Pesantren Sidogiri. Selanjutnya saya membaca prosa di perpustakaan pesantren karya Habiburrahman, Tere Liye, Andrea Hirata, Eka Kurniawan, Mahfud Ikhwan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa pada awalnya ia menulis puisi untuk Majalah Pesantren Sidogiri, namun tak satu pun puisinya diterima. Ia juga sempat mengikuti beberapa lomba puisi, tetapi hasilnya gagal. Setelah itu, ia mencoba menulis cerpen. Kebetulan saat itu ada lomba penulisan cerpen tingkat Kabupaten Bangkalan, dan cerpen pertamanya berhasil meraih juara harapan satu. Dari situlah titik awal perjalanannya dalam menulis cerpen.

"Awalnya saya menulis problem-problem pesantren. Tetapi setelah guru saya menyuruh untuk membaca cerpen Jawa Pos, Kompas, Tempo, akhirnya pikiran saya terbuka untuk menulis gagasan yang universal,” pungkasnya.

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Malik Ibnu Zaman
Kelahiran Tegal Jawa Tengah. Menulis sejumlah cerpen, puisi, resensi, dan esai yang tersebar di beberapa media online.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo