Dark
Light
Dark
Light

7 Perilaku Orang Dewasa yang Tumbuh Tanpa Cukup Kasih Sayang

7 Perilaku Orang Dewasa yang Tumbuh Tanpa Cukup Kasih Sayang

Di balik senyum dan pencapaian seseorang pada usia dewasa, sering tersembunyi jejak masa kecil yang membentuk cara mereka melihat dunia dan peristiwa. Kesuksesan mereka belum tentu tanpa penderitaan dan hambatan-hambatan.

Memang, bagi sebagian orang, tumbuh dalam kekurangan kasih sayang meninggalkan bekas yang dalam dan berpengaruh pada cara mereka menjalin hubungan, merawat diri, hingga memandang cinta.

Psikologi menunjukkan bahwa pengalaman emosional di masa kanak-kanak memiliki dampak jangka panjang, dan sering tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Ada beberapa perilaku umum yang kerap muncul pada orang dewasa yang tumbuh dalam '"haus kasih sayang" menurut psikologi. Perilaku-perilaku ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membantu kita memahami diri sendiri, sekaligus membuka ruang bagi penyembuhan dan perubahan positif.

Berikut 7 perilaku tersebut dikutip dari laman Geediting.com

1. Terlalu berusaha dalam hubungan
Psikologi sejak lama menekankan betapa kuatnya pengaruh masa kecil terhadap perilaku kita saat dewasa. Salah satu ciri yang menonjol pada orang yang kekurangan cinta di masa kecil adalah kecenderungan untuk berlebihan dalam membahagiakan pasangan. Mereka rela melakukan apa saja, bahkan sampai mengorbankan kebahagiaan diri sendiri.

Biasanya hal ini muncul dari ketakutan akan penolakan atau ditinggalkan, yang berakar pada pengalaman kurang kasih sayang di masa lalu.

Seperti kata Carl Rogers, psikolog ternama: “Apa yang kita pikirkan, itulah yang kita jadi.” Pikiran dan persepsi yang dibentuk di masa kanak-kanak berpengaruh besar pada perilaku kita ketika dewasa.

Kecenderungan untuk berlebihan ini sering kali merupakan upaya agar tidak kembali mengalami “haus cinta” seperti dulu. Namun, penting diingat: hubungan yang sehat dibangun atas dasar saling menghargai dan memahami, bukan dari usaha sepihak.

2. Sulit mengekspresikan emosi
Banyak orang dewasa yang kurang mendapat kasih sayang semasa kecil mengalami kesulitan mengungkapkan perasaan. Dalam keluarga, emosi jarang dibicarakan terbuka. Lama-kelamaan hal itu menutup jalan ekspresi emosional. Akibatnya, ketika sudah dewasa kita akan sering kesulitan menyampaikan apa yang kitarasakan, terutama dalam hubungan yang dekat. Seolah kata-kata tersangkut di tenggorokan.

Sigmund Freud pernah berkata, “Emosi yang tidak diungkapkan tidak akan pernah mati. Ia dikubur hidup-hidup dan suatu saat akan muncul dengan cara yang lebih buruk.”

Benar sekali. Emosi yang dipendam tidak hilang begitu saja. Ia akan muncul dalam bentuk lain yang sering kali merusak kesehatan mental maupun hubungan kita.

Kabar baiknya, dengan kesadaran dan usaha, hambatan ini bisa diatasi. Kita bisa belajar mengekspresikan emosi dengan lebih sehat dan terbuka.

3. Selalu butuh pengakuan
Apakah Anda sering merasa perlu mendapat pengakuan dari orang lain? Itu juga salah satu perilaku umum pada orang dewasa yang tumbuh tanpa cukup cinta.

Kita mungkin pernah terjebak dalam pola ini. Dalam hubungan, pekerjaan, bahkan hobi, rasanya apa pun yang kita lakukan tidak pernah cukup kalau tidak ada orang lain yang mengakui.

Kebutuhan konstan akan validasi ini melelahkan dan bisa menurunkan rasa percaya diri. Seperti dikatakan Abraham Maslow: “Hal yang diperlukan untuk mengubah seseorang adalah mengubah kesadarannya tentang dirinya sendiri.”

Menyadari pola ini adalah langkah awal untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada pengakuan luar, dan mulai menemukan nilai diri dari dalam.

4. Takut keintiman
Ketakutan terhadap keintiman juga sering ditemui pada orang dewasa yang kurang mendapat kasih sayang. Mereka bisa secara sadar atau tidak sadar menghindari kedekatan emosional karena takut terluka atau ditinggalkan.

Sebuah penelitian di University of Denver menemukan bahwa mereka yang mengalami ikatan tidak aman sejak kecil, akibat kurangnya kasih sayang, lebih banyak mengalami masalah dalam membangun kedekatan saat dewasa.

Rasa takut ini sering membuat mereka cemas berlebihan dalam hubungan, bahkan mendorong orang lain menjauh sebagai bentuk perlindungan diri.

Memahami ketakutan ini dan berusaha mengatasinya dapat membuka jalan menuju hubungan yang lebih sehat dan memuaskan. Perjalanan ini mungkin panjang, tapi sangat berharga.

5. Sulit merawat diri
Orang yang tumbuh tanpa cinta sering kali kesulitan melakukan perawatan diri. Mereka cenderung mengabaikan kebutuhan fisik maupun emosional, karena sejak kecil tak pernah diajarkan pentingnya mencintai diri sendiri.

Mungkin kita pernah berada dalam fase ketika selalu mendahulukan kebutuhan orang lain, sampai lupa memberi waktu untuk diri sendiri. Itu cerminan jelas betapa kita tidak mampu menghargai dan merawat diri.

Psikolog Albert Ellis pernah berkata, “Seni mencintai pada dasarnya adalah seni untuk terus bertahan.” Pernyataan ini bukan hanya berlaku dalam hubungan dengan orang lain, tetapi juga dalam hubungan dengan diri sendiri. Kita perlu konsisten merawat dan mencintai diri, terutama ketika masa lalu membuat kita merasa tidak layak mendapatkannya.

6. Terlalu mandiri
Poin ini mungkin tampak berlawanan, namun orang yang tumbuh tanpa cukup cinta justru sering menunjukkan kemandirian berlebihan. Ini berakar dari kebutuhan untuk melindungi diri sendiri, agar tidak perlu bergantung pada orang lain yang mungkin mengecewakan atau menolak mereka.

Sebagai mekanisme pertahanan diri, mereka hanya percaya pada diri sendiri. Sayangnya, ini bisa membuat mereka terisolasi dan kesulitan membangun hubungan yang dalam.

Psikolog Erik Erikson pernah mengingatkan: “Hidup tidak akan bermakna tanpa saling ketergantungan. Kita saling membutuhkan, dan semakin cepat kita menyadarinya, semakin baik untuk kita semua.”

Independensi memang penting, tapi interdependensi juga tak kalah vital. Hidup sehat berarti menyeimbangkan keduanya.

7. Waspada berlebihan
Banyak orang dewasa yang kurang kasih sayang sejak kecil hidup dalam kewaspadaan berlebihan. Mereka seakan selalu siaga, menanti ancaman atau penolakan.

Psikolog Bessel van der Kolk mengatakan: “Masa lalu hidup dalam bentuk ketidaknyamanan batin yang terus menggerogoti.”

Ketidaknyamanan itu kerap muncul sebagai kewaspadaan berlebihan—sisa pengalaman masa lalu yang belum sembuh. Mengenali pola ini adalah langkah awal untuk menciptakan ruang emosional yang lebih aman bagi diri sendiri.

 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo