Dark
Light
Dark
Light

Hal yang Bisa Dilakukan Perempuan Usia 19 Tahun (Selain Menikah), Menafsir Surat Kartini

Hal yang Bisa Dilakukan Perempuan Usia 19 Tahun (Selain Menikah), Menafsir Surat Kartini

Kartini namanya, tanpa tambahan Raden Ajeng (RA), gadis berdarah ningrat, perempuan bangsawan tanah Jawa. Terbaca santai, ia menulis surat pada sahabat penanya, Stella Zeehandelaar: “Panggil aku Kartini saja, itulah namaku.” Kalimat itu menjadi penanda jalan hidup. Dengan prinsip liberte, egalite, fraternite (Kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan), putri RM. Adipati Ario Sosroningrat itu menjajaki luasnya ilmu pengetahuan. 

S.K Trimurti di buku Sejarah Nasional Indonesia (1983) karangan Solichin Salam, menyebut Kartini sebagai perempuan yang pemikirannya melampaui zaman. Ia mempertanyakan eksistensinya sebagai perempuan, kaum ningrat, pribumi, dan umat islam. Ia menata ulang segala nilai yang diturunkan keluarga dalam rentan hidup yang singkat, hanya dua puluh lima tahun. 

Saya kembali tergerak membuka catatan menyoal Kartini karena menyimak perdebatan di sosial media tentang “Muslimah yang menikah pada usia 19 tahun”. Perdebatan itu menuai pro-kontra, karena si pengunggah menghadap-hadapkan antara pernikahan dan pendidikan. Ramainya obrolan itu membuat saya penasaran, apa yang dilakukan Kartini saat usia 19 tahun? Sebab dalam banyak tulisannya Kartini justru menolak pernikahan (meski pada akhirnya menikah) demi cita-cita dan pendidikan. 

Tentu, tidak ada jawaban konkret karena tak ada peninggalan video juga foto-foto. Tapi pertanyaan itu bisa dijawab dengan menelisik surat-surat yang ditulis Kartini. Jika merujuk tanggal kelahirannya; 21 April 1879, itu berarti ia berusia 19 tahun pada 1898. Di buku-buku kumpulan surat Kartini, misalnya yang diterbitkan Balai Pustaka maupun Buku Obor, surat dimulai tahun 1899. Memang dimulai dari usia 20 tahun, tapi saya pikir satu tahun sebelumnya, agaknya situasi pikiran dan batin Kartini tak begitu jauh bergeser sebab surat yang ia tulis buah dari perenungannya sebelum tahun 1899.  

Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang susunan Armijn Pane (Cetakan ke-14 tahun 1992), sepanjang tahun 1899, Kartini menulis beberapa surat: 25 Mei 1899, 18 Agustus 1899, 6 November 1899, November 1899. Empat surat ini mungkin bisa dijadikan acuan untuk membayangkan apa yang dilakukan Kartini ketika berusia 19 tahun. 

Surat 25 Mei 1899 kepada Nona Zeehandelaar
‘….Pada masa saya masih kanak-kanak, ketika kata “emansipatie” belum ada bunyinya, belum artinya bagi telinga saya, serta karangan dan kitab tentang pasal itu masih jauh dari jangkauan saya, telah hidup dalam hati saya suatu keinginan, yang makin lama, makin besar; keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri.

Kami, gadis-gadis masih terantai kepada adat istiadat lama, hanya sedikitlah memperoleh bahagia dari kemajuan pengajaran itu. Kami anak perempuan pergi belajar ke sekolah, ke luar rumah tiap-tiap hari, demikian itu saja sudah dikatakan amat melanggar adat.’

18 Agustus 1899 kepada Nona Zeehandelaar
‘Bagi saya hanya dua macam bangsawan; bangsawan pikiran dan bangsawan budi. Tiada yang lebih gila dan bodoh pada pemandangan saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya itu. Di manakah gerangan lebih jasanya, orang bergelar graaf? atau baron? Tiada terselami oleh pikiranku yang picik ini. 

.. orang yang sebenarnya berbudi dan terpelajar semata-mata kebaikanlah saja yang kami dapat daripadanya. Meskipun orang Jawa itu bodoh, tiada berpengetahuan, tiada beradab, semua orang yang sepikiran dengan engkau, tetap akan memandangnya sesama manusia juga, sama-sama dijadikan Allah dengan orang yang beradab itu…’

 

6 November 1899 kepada Nona Zeehandelaar
‘...tiada akan berguna kitab Hilda van Suylenburg diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Siapa yang membaca bahasa itu, kecuali orang laki-laki? Masih sedikit sekali perempuan Jawa yang pandai membaca bahasa Melayu…

…manakah boleh aku cinta akan agamaku, kalau aku tidak kenal, tiada boleh aku mengenalnya? Qur’an terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke bahasa mana juapun. Di sini tiada orang yang tahu bahasa Arab. Orang diajar di sini membaca Qur’an, tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu, orang diajar di sini membaca, tetapi tidak diajarkan makna yang dibacanya itu.’

November 1899 kepada Nyonya Ovink-Soer
‘...rindu akan ketika kami bersenang hati bersama Ibu bersama-sama dengan Ibu, berjam-jam duduk di kamar Ibu, hati merasa berbahagia, di dalam kamar tempat ibu membiarkan kami membaca dengan senangnya, tempat amat banyak kita perbincangkan perkara, yang senantiasa akan terbayang-bayang di antara kita. Aku rindu akan bercakap-cakap beramah-tamah pula dengan ibu, bercakap-cakap membentangkan kepada Si Ibu segala pikiran yang merentak-rentak dalam kepalaku, dan segala perasaan dalam hatiku yang gelisah ini.’

 

Empat penggalan surat di atas mengandung banyak kegelisahan. Kartini mengungkapkan persoalan adat, gelar, dan agama. Di usia yang masih terbilang muda, ia memikul perasaan yang gelisah. Bukan semata-mata untuk dirinya tapi juga bagi orang banyak. Di beberapa bagian terbaca ada ledakan semangat dan ‘sembrono’ dalam mengambil kesimpulan, misalnya di pasal: keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri. Meskipun orang Jawa itu bodoh, tiada berpengetahuan, tiada beradab. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu, orang diajar di sini membaca, tetapi tidak diajarkan makna yang dibacanya itu.

Pikiran Kartini sangat Eropasentris. Agaknya ini dipengaruhi pada bacaan dan interaksinya yang lebih dekat pada Eropa, lalu aksesnya pada masyarakat dan budaya sekitar yang terbatas karena pingitan. Ini membuat Kartini luput membaca kekayaan lokalitas yang ada. Tapi, diluar dari itu semua, kepedulian, semangat, daya kritis, dan rasa ingin tahunya menjadi modal awal yang kelak membentuk Kartini menjadi perempuan pintar. Nantinya pada surat-surat berikutnya, ditulis hingga tahun 1904, Kartini tampak lebih bijak dan tenang. Jangkauan pikiran dan kegiatan sosial yang ia lakukan juga lebih luas. 

Zaman memang telah berubah. Masalah yang dihadapi Kartini dengan kondisi saat ini sudah banyak berbeda. Tapi yang masih bisa digarisbawahi adalah memanfaatkan waktu muda dengan maksimal untuk mempertanyakan dan berpikir. Menyelami permasalahan sekitar dan menggugat kesalahan yang dianggap benar oleh banyak orang. Barangkali itu yang dibutuhkan saat ini–bukan pernikahan apalagi menjeda pendidikan. 

 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo