Adolescence (Philip Barantini, 2025) menjadi serial yang banyak dibahas dalam dunia perfilman akhir-akhir ini. Teknik one shot dalam proses eksekusi, akting para aktor—utamanya Owen Cooper yang memerankan Jamie Miller—dan permasalahan yang diangkat menjadi daftar perbincangan para kritikus, penikmat film, dan masyarakat umum. Hingga kini, Adolescence menempati peringkat teratas di Netflix.
Serial Adolescence dirilis Netflix pada 13 Maret 2025. Serial ini merupakan drama kriminal yang menyelami isu-isu kompleks kehidupan remaja, media sosial, dan pola asuh orang tua (parenting). Kisah berfokus pada Jamie Miller, seorang remaja berusia 13 tahun yang didakwa membunuh teman sekelasnya, Katie Leonard. Dengan alur cerita yang penuh ketegangan, serial ini menggali lebih dalam tentang bagaimana media sosial, perundungan (bullying), serta pola asuh memengaruhi cara berpikir dan tindakan remaja.
Episode yang sudah rilis baru menginjak empat pada pekan ini, namun sudah lebih dari cukup untuk menyisakan perenungan dan banyak pertanyaan bagi penonton. Episode satu menjadi pengantar utama bagi para penonton memasuki cerita; episode dua mulai menampilkan peran media sosial dalam pembunuhan yang dilakukan Jamie; sedangkan episode tiga dan empat menjadi inti cerita.
Episode tiga menampilkan percakapan antara Briony, psikolog klinis, dan Jamie, remaja yang terdakwa. Briony berupaya memahami cara berpikir dan pemahaman Jamie atas kejahatan yang telah dilakukan. Ia menemukan kengerian pada pemikiran Jamie menyoal maskulinitas dan perempuan. Briony juga menemukan pengaruh Instagram yang menjadi wadah terjadinya perundungan daring (online bullying). Episode empat menjadi jawaban atas pemahaman maskulinitas yang diyakini Jamie.
Harus diakui, semua episode disajikan dengan dialog dan teknik pengambilan gambar yang memukau. Serial ini menciptakan nuansa sinematik yang intens dan autentik. Namun, penonton mesti sabar dan tabah menyimak setiap dialog dan bahasa tubuh yang ditampilkan. Adolescence tidak menyajikan keajaiban maupun sosok-sosok heroik.
Adolescence dan Indonesia
Kasus perundungan remaja di Indonesia masih tinggi. Data Unicef pada tahun 2022 menunjukkan 45 persen dari 2.777 anak di Indonesia mengaku pernah menjadi korban cyber bullying. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) juga mengabarkan jumlah kekerasan terhadap anak, termasuk di dalamnya perundungan, diperkirakan terus meningkat, terutama jika dibandingkan dengan tahun 2023.
Inggris mengeluarkan serial televisi Adolescence (2025) sebagai salah satu upaya untuk memahami permasalahan remaja. Indonesia baru-baru ini juga mengeluarkan film Jumbo (2025) yang bermaksud serupa. Namun, mesti diakui Inggris beberapa langkah lebih maju karena membongkar praktik perundungan daring dengan kode-kode terbaru dan keterlibatan sosok ayah dalam menampilkan citra maskulinitas ekstrem. Meski begitu, kita tetap patut memberikan tepuk tangan pada Ryan Adriandhy selaku sutradara dan tim produksi karena memberikan warna baru pada perkembangan film di Indonesia.
Gagasan maskulinitas ekstrem yang ditampilkan oleh sosok ayah ternyata turut menjadi alasan terjadinya pembunuhan yang dilakukan Jamie. Maskulinitas memang masih menjadi momok yang mengerikan dalam pola asuh. Gagasan soal ayah sebagai sosok laki-laki yang harus kuat, tidak pernah salah, melindungi, tidak mengekspresikan perasaan, harus sempurna, dan menolak sisi feminin terkadang malah menjadi bumerang. Keyakinan itu bisa menjadi tekanan pada diri anak laki-laki yang kerap menjadikan ayah sebagai panutan pertama.
Padahal, sisi maskulin dan feminin selalu hadir dalam hidup manusia, tak perlu untuk menolak apalagi berupaya menghilangkannya. Julia I Suryakusuma melalui tulisan Konstruksi Sosial Seksualitas dalam Prisma (1991) mengungkapkan ada asumsi yang berkembang di masyarakat bahwa sifat tertentu diasosiasikan dengan feminitas, dan yang lain dengan maskulinitas.
Sifat feminin, misalnya, meliputi kepekaan perasaan, kesabaran, kelembutan, irasionalitas, kesetiaan, sifat mengalah, dan kelemahan; sedangkan maskulin diidentikan dengan keberanian, agresivitas, sifat dominan, rasionalitas, ketidaksetiaan, dan kekuatan. Ada kecenderungan melekatkan sifat feminin hanya pada perempuan dan sifat maskulin hanya pada laki-laki.
Asosiasi tersebut sangat tidak tepat karena semua sifat itu bisa terdapat pada semua manusia. Seorang laki-laki bisa sangat maskulin sekaligus feminin, pun sebaliknya. Membatasi perilaku dan perkembangan individu justru hanya akan memenjarakan dalam suatu peran sosial yang ditentukan dari luar. Salah satu contohnya adalah sosok maskulinitas ekstrem yang ditampilkan ayah Jamie dalam serial Adolescence.
Selain persoalan pola asuh, negara juga punya peran amat penting dalam melindungi para remaja dari berbagai dampak yang ditimbulkan media sosial. Negara bisa hadir lewat sekolah dengan merumuskan kurikulum yang mengandung panduan pendidikan hubungan, kesehatan, dan seksual (RSHE) atau inovasi lain.
Perundungan daring menjadi masalah serius yang mesti dilihat pemerintah sebelum terjadi tindakan-tindakan kejahatan ekstrem yang sulit dikendalikan. Banyak data menunjukkan remaja dan anak-anak di Indonesia menghabiskan waktu lebih banyak menatap layar.
Kita mengetahui, di gawai segala kejahatan bisa terjadi dan ditampilkan. Anak-anak yang mendapat pengasuhan lewat media sosial tanpa bekal pengetahuan yang cukup dan pengawasan yang rutin sangat mungkin terpapar nilai-nilai yang membahayakan bagi dirinya dan orang sekitar.
Kita menjadi teringat Eddie Miller, ayah Jamie, dalam episode empat serial Adolescence. Ia turut menyinggung bahwa selama ini anaknya selalu di kamar bergumul dengan komputernya tanpa pengawasan yang intens. Ia mengira Jamie aman, tapi ternyata di sana lebih berbahaya daripada berada luar rumahnya.
Editor: Kendi Setiawan


