Rabu pagi, 5 Februari 2024, saya terbangun dari tidur dengan perasaan kaget. Setengah sadar, telinga saya mendengar gerbang rumah digedor orang. Berjalan ke arah pintu depan, saya jalan terhuyung. Belum kumpul nyawa dan tanpa kacamata. "Pakeett,” setengah teriak tukang paket melihat saya berjalan ke arahnya. Sepertinya istri tidak ada pesan paket, pikir saya. "Paket, atas nama Cepot?”
Saya hampir sadar seutuhnya lalu mengingat-ingat, “Oh ya, kiriman dari Purbalingga ya, Pak?” Ya, ternyata itu paket milik saya yang sehari mendarat lebih cepat.
Kolektif AMPSKP
Paket itu berisi kaos merchandise dari single teranyar dari Kolektif AMPSKP (Aliansi Massa Pekerja Seni Kontra Penindasan), yaitu Buku Kubaca (2025). Ohya, AMPSKP ini satu komunitas yang setahu saya lahir dan berbasis di Purwokerto—daerah di Banyumas yang akhir-akhir ini sering diromantisasi oleh warganet, orang-orang dari Jakarta yang sekali-dua singgah, para komika, kemudian diolah jadi konten oleh akun-akun Instagram lokal Purwokerto sendiri dengan bangganya.
Tahun 2011, Kolektif AMPSKP memulai aktivitas manggung mereka (tidak memiliki nama saat itu) dengan kerap menjadi pengisi pada kegiatan komunitas teater di Purwokerto. Tidak terlalu concern bermusik, pada mulanya kelompok ini biasa tampil dengan membawakan karya teatrikal, pembacaan puisi atau sekadar memainkan perkusi.
Lahir di tengah-tengah masyarakat yang mengalami kesialan karena proses pembangunan, pada tahun-tahun setelahnya (2013) Kolektif AMPSKP mulai membawakan lagu-lagu mereka dengan corak musik folk bertema sosial, politik dan lingkungan sebagai bentuk dukungan atas perjuangan rakyat untuk mendapatkan hak hidupnya.
Idealisme, Tema Sosial dan Kritik Politik
Ketika lulus dari kampus, sebagian orang (sarjana) ternyata tidak benar-benar ‘meninggalkan’ kampus. Dan tidak hanya dari satu kampus, melainkan beberapa kampus negeri-swasta di Purwokerto. Mereka berkolektif dan terus berkesenian. Maka lahirlah AMPSKP, dengan lagu-lagu bertema lingkungan, sosial, kritik politik, dan seterusnya dan seterusnya hal-hal istimewa yang dimiliki saat mahasiswa dan kaum (jiwa) muda: idealisme!
Medio 2019, Kolektif AMPSKP merilis album pertama yang bertajuk Deru dan berisi 10 lagu karya mereka dan 1 lagu cover. Dari album itu, kian mencirikan AMPSKP sebagai band beraliran folk dengan lirik-lirik yang syarat kritik sosial-politik dan juga lingkungan—yang saat itu (dan sekarang?) memang sedang gencar kabar gerakan 'Selamatkan Gunung Slamet' dan beberapa daerah yang mesti menghadapi konflik agraria seperti Kendeng, Wadas, Kulonprogo. Lewat lagu-lagu di album Deru makin men-deru-lah semangat aktivisme mereka dan lingkungannya.
Oh ya, setelah pagi harinya merchandise Buku Kubaca tiba di Jakarta, entah kenapa saya tiba-tiba ingin memutar-mendengar kembali lagi lagu-lagu dari AMPSKP di album Deru—karena saat itu single Buku Kubaca belum ada dan belum bisa saya putar di Spotify.
Dari segi musikalitas, lagu-lagu AMPSKP ini mirip tapi tidak seperti band indie lain seperti Silampukau, Efek Rumah Kaca, Sisir Tanah, dan lainnya. Dari suara duo vocalnya sudah khas dan tidak seperti Endah & Rhesa, Jungkat-Jungkit, atau Banda Neira. Dari lirik juga, temanya tampak serupa tapi tidak sama dengan Iwan Fals, Slank, atau Iksan Skuter.
Inspirasi Single Buku Kubaca
Awal-awal tahun 2025 ini, Kolektif AMPSKP merilis single anyar dengan judul Buku Kubaca, yang dalam beberapa panggung sekali-dua mereka bawakan. Satu waktu, saya pernah diputar-dengarkan single ini oleh Babe Gamo, kawan yang jadi salah seorang personel AMPSKP. Diputarkan sekilas saja. Dan ya, enak didengar. Kalau tidak salah ingat kawan saya itu sempat bilang kalau memang lagu ini agak lebih nge-pop ketimbang lagu-lagu sebelumnya di album Deru. Walaupun tentu dengan lirik khas dari AMPSKP.
Di rumah, saat hendak memutar kembali album Deru, seperti saya lakukan di kantor, kemudian di Spotify saya ketik “AMPSKP” dan munculah lagu Buku Kubaca yang baru rilis tepat di tanggal 6 Februari 2025.
“Aku tidak ingin berjalan memikul kebodohan,
Merasa cukup benar dalam ketidaktahuan...”
Sepenggal lirik dari single baru Kolektif AMPSKP itu pertama kali diperkenalkan melalui konser virtual Meretas Batas di penghujung tahun 2021 lalu di era pandemi Covid-19.
Buku Kubaca lahir dan terinspirasi dari besarnya gairah dan semangat kawan-kawan dalam membagikan pengetahuan. Beberapa dari kawan-kawan serius mengelola perpustakaan, mendirikan kelompok membaca melalui sanggar untuk menjamin kontinuitas proses saling belajar yang aman dan dapat diakses oleh siapa saja.
Selain itu, banyak di antara kawan-kawan komunitas yang juga sangat konsisten dalam menulis, baik diterbitkan menjadi buku maupun zine. Apa yang mereka lakukan ini benar-benar mengagumkan. Hal yang belum tentu semua orang bisa lakukan dengan konsisten.
Lagu Buku Kubaca adalah ajakan untuk kita semua yang selalu merasa tidak mengetahui, dan sebab itu terus menyempatkan waktu untuk belajar dan berbagi pengetahuannya bersama-sama.
Mendengar lagi album Deru dan single Buku Kubaca dari Kolektif AMPSKP, saya mendapati kembali perpaduan pas dan khas suara duo vocal Sufi Ma’sum (Burik) dan Citra Novi (Cleret), petikan lead gitar Bayu Ari atau Iqbal Muhammad atau Babe Gamo (tiga gitaris) yang aduhai, berasa mendengar live acoustic Scorpion, lalu bunyi harmonika Marsha Azka seperti di beberapa lagu Iwan Fals, dan gebukan drum yang cukup energik di beberapa lagu.
Selamat buat Kolektif AMPSKP dan para penggemarnya yang biasa disapa “Bung” dan “Jeng”. Jadi, silakan dengar dan nikmati single anyar Buku Kubaca dari AMPSKP untuk Bung dan Jeng semua. Jangan lupa, aja klalen juga tumbas kaose. Apike poll.
“Akan selalu ada waktu untukmu, tuk buka lembarmu, tuk pahami hal baru...”
Editor: Kendi Setiawan


