Dark
Light
Dark
Light

Tren Shalawatan dalam Masyarakat Muslim Kultural

Tren Shalawatan dalam Masyarakat Muslim Kultural

Tradisi shalawatan semakin menjadi fenomena yang populer di tengah masyarakat Indonesia, khususnya kaum Muslim di Pulau Jawa. Uniknya, tren shalawatan tidak hanya digemari oleh generasi tua, tetapi juga diminati kalangan muda dan anak-anak. Habaib muda dan para ‘Gus’ pelaku shalawatan, kini digemari dan diidolakan bak artis. 

Saat ini, jemaah shalawatan didominasi muda-mudi yang tampil dengan busana muslim modis dilengkapi syal khas yang didesain oleh basis penggemarnya, sebagai identitas komunitasnya. Bahkan panggung shalawatan kini bisa jadi ajang ‘ketemuan’ dan ‘pacaran syar’i. Benerkah sudah sejauh itu?

Ekspresi Cinta kepada Nabi
Shalawatan berasal dari kata shalawat yang berarti doa atau pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Dalam khazanah Jawa, shalawatan dimaknai sebagai warisan spiritual, bagian integral dari budaya sejak ratusan tahun lalu, yang dibawa para wali penyebar agama Islam. Para leluhur kita banyak diajarkan ‘nembang’ atau bersenandung, sebagai ekspresi rasa syukur, kebahagiaan, bahkan kesedihan. Melodi yang merdu dipadukan dengan syair-syair pujian kepada nabi, jadilah tembang pujian yang enak didengarkan. Sehingga, shalawatan mendapat tempat istimewa di hati masyarakat.

Ikhwalnya, sekitar tahun 2005. Habib Syech bin Abdul Qodir As-Segaf atau sering disapa Habib Syech mengawali panggung dengan membawakan lagu religi bertemakan shalawat bersama grup musik ‘Ahbaabul Musthofa’ dari Kota Surakarta. Sekitar dua belas tahun sebelumnya, budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) juga telah kondang dengan grup Kiai Kanjeng dari Yogyakarta. Grup ini didirikan pada tahun 1993. Mengusung musik religi yang mengiringi kegiatan Cak Nun dalam dakwahnya keliling Nusantara.

Yang membedakan, Kiai Kanjeng mengolah nada dengan mengawinkan gamelan (pelog–slendro) dengan bebunyian instrumen diatonis moderen. Erenjernya adalah Novi Budianto yang piawai dalam menginterpretasi lirik-lirik puisi Cak Nun menjadi lagu yang merdu. Album perdana, Kado Muhammad (1996) yang direkam dalam kaset pita sukses besar. 

Sementara Habib Syech dan kelompoknya tergolong unik. Mereka melakukan pembaruan dengan aransemen ulang dari ‘kitab lagu’ yang berisikan ratusan syair, dengan konsep rebana klasik, tanpa instrumen modern. Dari ratusan lagu yang digubah itu tak hanya berbahasa Arab. Bahkan, lebih banyak yang berbahasa Indonesia, khususnya bahasa Jawa. Dengan variasi bahasa Jawa yang membumi, didukung sosoknya yang berwibawa juga suara yang merdu, kehadiran Habib Syech diterima khalayak. Lagu-lagunya sesuai harapan jamaahnya, dengan syair yang lebih lebih mengena sehingga pesan yang ada bisa tersampaikan. Konsep shalawat ala Habib Syech inilah yang menjadi trensetter dan referensi para tokoh yang tampil setelahnya.

Dari Balita hingga Lansia
Muhammad Ziyaullah Abqori alias Qori, dari Jatilawang Banyumas, anak lelaki usia tujuh tahun ini baru kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Namun ia sudah sangat fasih menirukan gaya Habib Syech maupun Habib Ali Zainal Abidin. Lagu-lagu yang disuka antara lain Sholawat Tibbil Qulub, Ilir-Ilir, Padhang Wulan, hingga Wali Songo (Sunan-Sunan).

Orang tuanya, pasangan Ali Masngud-Hidayatul Janah sering membawa buah hatinya ikut solawatan. Belum puas berpanasan di lapangan, di rumah Qori menonton chanel YouTube yang juga banyak bertebaran konten shalawatan, sembari menirukan sosok idolanya.

“Alhamdulillah hafal beberapa lagu, paling suka Shalawat Tibbil Qulub. Bendera dan rebana harus ada,” ujar Ali Masngud sang ayah.

Kepincut Mafia Shalawat
Lain lagi cerita dari Ridho, juga warga Banyumas, yang beberapa bulan harus kehilangan kontak dengan putra lelakinya. Ceritanya, sang putra yang sedang mondok ikut ‘genk shalawat’ yang mengikuti komunitas ‘Mafia Shalawat’ kemanapun pentas. Ia bersama genk nya numpang angkutan barang dan tidur di masjid-masjid terdekat demi mengikuti sang idola. Untunglah, sang ayah segera menemukan putranya dan membawanya kembali ke pesantren.

Sementara itu Drs Wahyono punya pengalaman lain. Sekitar tahun 2015, ia menjadi salah satu panitia sebuah festival akbar yang akan digelar di Jawa Tengah. Ia mendapat mandat untuk menghubungi grup shalawat yang sedang naik daun, guna tampil di festival tersebut. 

Setelah sekian lama duduk di lantai untuk menunggu dengan nomor antrian buntut, ia pun ‘menghadap’ pada santri yang mungkin dipercaya sebagai manager sang tokoh. Tak disangka, ia yang datang untuk ‘mendaftar’ memberikan job, mendapat jawaban yang kurang simpatik.

“Hari gini baru mau ndaftar?” begitulah jawaban si santri yang selalu diingatnya. Rupanya, untuk menghadirkan sang tokoh, harus ‘inden’ minimal 6 bulan sebelumnya, mengingat jadwalnya yang begitu padat. Luar biasa.

Peran Penting Generasi Muda
Dewasa ini, fenomena kebangkitan shalawatan dapat dilihat dari semakin banyaknya acara-acara solawatan yang digelar. Baik di masjid, majelis taklim, hingga hajatan keluarga. Tidak jarang, solawatan juga menjadi bagian dari konser besar yang melibatkan ribuan jamaah.

Pemerintah desa, kecamatan, kabupaten hingga lingkup yang lebih tinggi kerap mengundang tokoh top yang memiliki ribuan jamaah.
Ssehingga, muncullah acara-acara shalawatan yang disimbolkan dengan nama daerahnya, seperti ‘Jawa Tengah Bersholawat, ‘Banjarnegara Bersholawat’ atau ‘Desa Bersholawat’ dan lainnya, yang selalu dipadati ribuan pengunjung.

Generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam revitalisasi tradisi ini. Dengan bantuan media sosial, konten solawatan kini mudah diakses dan dinikmati siapa saja. Banyak grup solawatan yang aktif mengunggah video penampilan mereka ke platform YouTube dan Instagram, membuat tradisi ini lebih dikenal generasi masa kini.

Selain itu, musisi modern juga turut mengemas ulang solawatan dalam format yang lebih kekinian. Misalnya, ada yang memadukan solawatan dengan musik pop, jazz, atau bahkan hip-hop. Upaya ini membuat solawatan terasa lebih relevan bagi anak muda tanpa mengurangi esensi spiritualnya.

Kebangkitan tradisi solawatan juga didukung oleh para ulama dan tokoh agama. Mereka melihat bahwa solawatan bisa menjadi media untuk mempererat ukhuwah Islamiyah. Dalam setiap penampilannya, solawatan sering kali diiringi tausiyah atau ceramah singkat yang mengingatkan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah.

DR. Nafis Athoilah asal Brebes mengatakan, esensi dari semua itu adalah bagaimana tradisi solawatan juga menjadi sarana dakwah yang efektif, bukan sebagai hiburan semata. Menurutnya, lirik-lirik solawat yang sarat akan pesan moral mampu menyentuh hati pendengarnya. 
“Inilah intisari dari pesan tersebut. Melalui syair-syair shalawat, masyarakat diajak untuk memperkuat keimanan sekaligus menjaga nilai-nilai luhur Islam,” kata Gus Nafis, sapaan akrabnya.

Meski demikian, kata Gus Nafis mengingatkan, tidak sedikit tantangan yang dihadapi dalam pelestarian solawatan. Salah satunya adalah menjaga kemurnian tradisi agar tidak tergerus oleh modernisasi. 

“Kegiatan solawatan diharapkan mampu mempertahankan nilai-nilai asli yang terkandung dalam syair-syairnya, meskipun dikemas dalam bentuk yang lebih kontemporer,” imbuhnya.

Maka, disayangkan jika ada acara shalawatan juga dijadikan ajang janjian bahkan ketemunya muda-mudi yang disebut ‘pacaran syar’i, meskipun dalam batasan tertentu, seperti yang disebutkan di depan.

Kehadiran solawatan sebagai tren baru di kalangan masyarakat menunjukkan bahwa tradisi ini memiliki daya tarik lintas generasi. Dengan segala keunikan dan nilai spiritualnya, solawatan bukan hanya sekadar warisan budaya, tetapi juga pengingat akan pentingnya menanamkan cinta kepada Rasulullah Saw dalam kehidupan sehari-hari.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo