Dark
Light
Dark
Light

Polemik Poligami: Dikuatkan Narasi Agama, Didukung Negara

Polemik Poligami: Dikuatkan Narasi Agama, Didukung Negara

Setiap kali guru siap untuk melakukan ibadah malam, kucing asrama mengeong-ngeong, sehingga mengganggu orang yang sedang berdoa. Maka, ia menyuruh supaya kucing itu diikat selama ibadah malam.

Lama sesudah guru meninggal, kucing itu masih tetap diikat selama ibadat malam. Dan setelah kucing itu mati, dibawalah kucing baru ke asrama, untuk dapat diikat sebagaimana biasa terjadi selama ibadat malam. Berabad-abad kemudian, kitab-kitab tafsir penuh dengan tulisan ilmiah murid-murid sang guru, mengenai peran penting seekor kucing dalam ibadat yang diatur sebagaimana mestinya.

Cerita itu ditulis A. de Mello SJ. Sangat mewakili beragam tafsir agama yang tidak terikat konteks namun terlanjur dibakukan menjadi kebenaran. Membongkarnya bukan hal yang mudah karena biasanya sudah mengakar dengan kuat, diikat menjadi sebuah keimanan yang kencang dan kaku. Beberapa penafsiran yang bernasib demikian: jihad, islam kaffah,  pembagian peran gender, dan poligami.

Isu terakhir masih menjadi perbincangan hangat hingga saat ini, terutama ketika pemerintah membuka keran melalui kebijakan. Baru saja Jakarta dibuat geger dengan Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pemberian Izin Perkawinan dan Perceraian, tepatnya dalam Bab III pada Pasal 4. Aturan itu membuka peluang bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) lelaki yang hendak poligami.

Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk memotong tafsir agama bias gender yang merugikan banyak perempuan. Saat para ulama sedang bahu membahu menyuguhkan tafsir yang rahmatan lil’alamin, pemerintah malah tidak sejalan. Kita boleh sedih sekaligus kesal. Permasalahan poligami yang sejak Kongres Perempuan Pertama diperjuangkan agar eksistensinya tidak ada lagi di Indonesia, malah belum juga mentas hingga saat ini.

Memandang Poligami Lewat Cerita
Syahdu sekali menatap novel Ayat-ayat Cinta (2004) karangan Habiburrahman El Shirazy. Begitu pula dengan filmnya (2008). Konflik persoalan poligami digambarkan dengan amat puitis dan dramatis. Tidak dibuat kesal dan berpikir berat soal kekerasan terhadap perempuan, penonton justru dibikin terkagum-kagum dengan cantiknya Aisha dan karakter Fahri yang amat soleh. Akan tetapi, itu hanya di film. Di realitas sesungguhnya, poligami punya cerita lain.

Sebuah dokumenter yang dirilis VICE  bertajuk Polemik Poligami di Indonesia: Berbagi Surga (2018) menambah pandangan baru menyoal poligami.

"Sebaik-baiknya manusia yang istrinya paling banyak."

"Adanya KB, KB itu ajaran di luar islam agar umat islam itu sedikit, makanya kita lawan dengan adanya poligami untuk memperbanyak umat Islam."

"Dari pada suami jajan diluar, lebih baik poligami."

Kalimat di atas adalah penggalan kutipan dari sekelompok orang yang mengatasnamakan agama untuk menarik poligami sebagai wacana mainstream. Poligami dilihat sebagai kendaraan kilat untuk sampai di surga dan jawaban dari semua masalah. Seolah tidak mau direpotkan dengan hasil penelitian, kajian gender, dan beragam analisis, para pendukung mantap mengetok palu bahwa laki-laki memang layak dan pantas untuk berpoligami.

VICE juga menampilkan suara lain, yaitu perempuan korban poligami.

"Katanya kalau dalam pernikahan poligami, cemburu itu dihitung sebagai ibadah atau pahala untuk istrinya. Menurut Ibu bagaimana?" tanya reporter VICE.

"Ibu nggak percaya. Masa ibadah harus menyakitkan kita si. Apakah nggak ada ibadah lain? Masih banyak jalan menuju Roma, loh, Mbak. Emangnya kita masuk surga itu hanya bila kita dipoligami? Allah Maha Pengasih Maha Penyayang, masa kita disakiti."

Pemilik ucapan itu adalah seorang perempuan korban poligami. Ia memilih mengakhiri hubungan pernikahan lantaran tidak kuat menahan kekerasan psikologis yang ia rasakan. Bisa diduga, ungkapan itu mewakili jutaan suara perempuan yang mengalami nasib serupa.

Swara Perempuan: Narasi Kekerasan Berbasis Jender (2010), diterbitkan oleh SPEK-HAM Solo, juga menukilkan kisah perempuan dalam perkawinan poligami. Siany, melalui tulisannya tersebut menceritakan kisah santri yang menjadi istri keempat dari seorang Gus. Perempuan tersebut merasakan perkawinan poligami amat sulit. Bukan saja persoalan ekonomi, seksual, dan simbolik, kekerasan paling pelik yang ia dapatkan adalah tekanan psikologis yang amat besar.  

Membaca kisah-kisah para perempuan yang telah menjadi korban, semestinya bisa membatalkan argumentasi yang disanjung-sanjung para pendukung poligami. Menikah lebih dari satu pasangan, dalam dunia nyata tidak sepuitis Ayat-ayat Cinta yang digambarkan Habiburrahman El Shirazy. Di dalamnya mengandung rasa sakit, tangisan, manipulasi, dan objektifikasi. 

Mengapa Poligami Terus Berlangsung?
Dasar dari keyakinan masyarakat terhadap praktik poligami banyak terjadi karena nilai-nilai agama yang bias sengaja dipasang untuk menjadikan wacana patriarki menjadi sesuatu yang wajar untuk dilakukan. Seseorang biasanya tidak bisa mempertanyakan sesuatu hal yang sudah dianggap biasa karena aturan budaya tidak mengizinkan untuk bertanya, misalnya mengenai agama.

Bourdieu (1990) menyebutnya sebagai doxa, yakni sesuatu yang diyakini sudah sedemikian adanya. Dalam wacana agama, poligami diyakini sebagai kehendak Tuhan yang digariskan untuk dilakukan oleh laki-laki sehingga tidak perlu dipertanyakan kebenarannya. Sementara di pintu lain, budaya yang memuat ketidakadilan gender mengkondisikan perempuan untuk menerima dan patuh, tanpa bertanya atau menguji kebenaran dari narasi yang ditawarkan untuk hidupnya.

Poligami adalah salah satu bentuk kejahatan perkawinan yang membuat perempuan dan anak mengalami berbagai bentuk kekerasan. Agama dan kebijakan negara semestinya menjamin keselamatan umat dan rakyatnya dengan aturan yang berperspektif kemanusiaan, bukan malah menghadapkannya pada segala macam bahaya.

“Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang dilakukan atas nama agama.” (Kartini)

"Politik diciptakan dan dimanifestasikan berdasarkan filosofi dan tujuan untuk menyediakan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi manusia, tapi yang terjadi adalah sama sekali kebalikannya." (Emha Ainun Najib).
 
 
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo