Pada hari-hari sering hujan, kita malah menggigil gara-gara sejarah. Konon, peringatan rutin Hari Pahlawan untuk kesadaran sejarah. Situasi menjadi rumit saat peringatan merujuk sejarah memunculkan tokoh yang pernah dianggap “mengolah sejarah” demi “kebenaran” Orde Baru. Selama puluhan tahun, sejarah seperti “milik” penguasa minta dipatuhi jutaan orang.
Sejarah selalu menjadi masalah. Pada saat ada ikhtiar “pelurusan” sejarah setelah kejatuhan Soeharto (1998), sejarah justru “mengeruh” dan “kacau” gara-gara penetapan Soeharto menjadi pahlawan nasional: 10 November 2025. Sejarah bakal menjadi “permainan”. Kita pun masih menanti penerbitan buku sejarah nasional diusahakan pemerintah. Pada hari-hari sering hujan, kita resah oleh sejarah.
Kita sedang berpikiran tentang Soeharto. Sejarah “kemarin” bakal berubah dipicu predikat pahlawan. Sekian tahun lalu, Soeharto mendapat hujatan. Semua berubah dengan “kesengajaan” meski ditandingi penolakan dan gugatan. Indonesia sedang diguncang sejarah. “Resah” dan “menggigil” itu menuntun kita mempelajari lagi biografi atau autobiografi Soeharto.
Kita memilih edisi-edisi terbit sebelum dan setelah rezim Orde Baru tamat: 1998. Dua buku terbaca lagi sambil menanti penerbitan buku biografi terbaru dipicu gegeran 2025. Kita ingin mengingat Soeharto sembari memberi catatan-catatan sembarangan.
Buku terlaris itu berjudul Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989). Soeharto terbukti lama berkuasa. Buku menjadi pembenaran. Para pembaca dari masa lalu akrab dengan wajah Soeharto sumringah. Ia menjadi penguasa tanpa “derita” atau “duka”. Wajah itu mengesankan Indonesia (diharapkan) bahagia. Semua gara-gara “kebijaksanaan” Soeharto dalam membuat program-program nasional.
Soeharto tampak tua. Rambut sudah memutih. Wajah itu sumringah. Indonesia bisa dilihat dari wajah Soeharto. Pembuat gambar itu Dede Eri Supria. Pada masa Orde Baru, Soeharto ditampilkan sebagai figur berhasil dan menang. Soeharto dianggap berkah untuk Indonesia. Kita mulai dari melihat gambar agar mendapat kesan-kesan, berlanjut membaca isi buku meski mudah meragu.
Sejarah makin “milik” Soeharto setelah malapetaka 1965. Soeharto ingat peristiwa 1968 di Sidang Umum MPRS: “Saya memasuki ruangan siding MPRS dengan mengenakan pakaian sipil, memakai peci.” Soeharto itu besar dalam militer. Pada babak-babak sejarah terpenting ia memilih mengenakan pakaian sipil. Peci di kepala seperti mengulang gagasan peci dan nasionalisme, dimulai oleh Soekarno pada masa 1920-an. Pakaian dan peci menjadi saksi Soeharto diangkat menjadi Presiden RI.
Dulu, Soeharto memahami: “Saya nyatakan bahwa tidak semua persoalan telah terpecahkan, tetapi tidak berarti bahwa demokrasi telah gagal di Indonesia.” Ia tampak sedang memberi sindiran terhadap babak kekuasaan Soekarno. Ia tampil bertajuk “Demokrasi Pancasila”, menjanjikan perubahan-perubahan di Indonesia dan memastikan “baru” itu kebenaran.
Soeharto mengawali dengan memuliakan demokrasi. Ia telah mengucap demokrasi ribuan kali dalam pidato atau omongan di depan wartawan. Pada masa lalu, Soeharto sanggup memberi kalimat-kalimat indah dan menenangkan. Siasat mendapat pujian, mencipta kepatuhan. Kita mengingat lagi Soeharto memberi kalimat apik: “Demokrasi Pancasila bukan ditentukan oleh paksaan kekuatan melainkan kebulatan mufakat yang dikedepankan sebagai hasil hikmah kebijaksanaan.” Demokrasi Pancasila memicu penerbitan ratusan judul buku. Seminar-seminar pun diadakan bermaksud mengukuhkan demokrasi dalam masa kekuasaan Soeharto (sangat) berbeda dengan “Demokrasi Terpimpin” diterapkan Soekarno.
Pada 1998, Soeharto teringat oleh kita gara-gara korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Masalah itu “diralat” bermisi penetapan pahlawan nasional. Soeharto berarti tak terbukti bermasalah KKN atau melakukan pelanggaran HAM. Kita masih memiliki kliping dari masa 1990-an. Usaha membaca lagi kliping bakal menimbulkan kecewa bila pemerintah memastikan Soeharto berjasa besar untuk Indonesia. Bukti terkuat pasti merujuk berkuasa selama 30-an tahun.
Soeharto mengingatkan: “Korupsi sebagai isu politik memang paling ampuh, mudah sekali diterima rakyat. Selama ada pertentangan politik menuju perebutan kekuasaan, isu korupsi akan selalu muncul di permukaan. Kita harus waspada menghadapinya, tanpa mengurangi usaha untuk mencegah dan memberantas korupsi itu sendiri.” Kalimat-kalimat disampaikan saat masih berkuasa. Pada hari-hari menjelang tamat dari kekuasaan, Soeharto justru dihujat gara-gara korupsi.
Buku berjudul Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya mulai dibaca secara berbeda setelah 1998. Soeharto pernah bijak dan santun perlahan mendapat penilaian buruk. Ia dinantikan dalam pengadilan. Tahun-tahun berlalu, perdebatan sengit terjadi untuk memuliakan atau menghinakan Soeharto.
Pada 2007, terbit buku berjudul Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia’s Second President garapan Retnowati Abdulgani-Knapp. Buku dengan sajian foto Soeharto di sampul depan. Ia tetap berwajah semringah, mengenakan jas, dan berpeci. Penampilan khas penguasa meski ia sekadar “kenangan buruk” bagi kaum demonstran dan pihak-pihak berusaha melakukan pelurusan sejarah.

Retnowati memastikan Soeharto itu bagian sejarah Indonesia. Ia luas mengungkapkan: “Apakah Soeharto adalah tokoh yang memiliki niat baik Ketika ia naik ke puncak kekuasaan? Saya yakin tidak pernah ada niat jelek di pihaknya. Tetapi, sebagai akibat dari kekuasaan dan keyakinan diri yang terus meningkat serta usia yang bertambah, ia didorong ke tepi sebuah tebing yang licin dan tergelincir, jatuh ke bawah. Walaupun demikian, ketika saya bertemu dengan beliau setelah tahun 2000, ia kelihatan telah menerima kejayaan masa lalu dan kejatuhannya yang tragis dengan tenang dan bermartabat. Jejak-jejak langkahnya tetap tinggal terukir tegas dalam sejarah Indonesia.”
Buku condong memuat pembelaan-pembelaan setelah Soeharto lama dihujat. Buku biografi itu menimbulkan polemik di Indonesia. Semula, buku ditulis dalam bahasa Inggris, dihadirkan untuk para pembaca asing yang masih penasaran Soeharto dan Indonesia. Penerbitan dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia justru menimbulkan gejolak. Orang-orang menuduh terjadi “pembersihan” sejarah demi kehormatan Soeharto. Kini, buku itu terbukti berfaedaah dan berdampak dalam penetapan Soeharto sebagai pahlawan.
Pujian diberikan kepada Soeharto atas nama sejarah: “Pada tingkat yang paling mendasar, keberhasilan Soeharto dalam menjalankan pemerintahan terletak pada pemahamannya tentang mentalitas petani, ditambah dengan disiplin militer yang berkenan baginya, serta cara berpikir Jawa. Bahwa pemahaman ini telah membuatnya mampu memegang kekuasaan sekitar tiga dekade memang sangat mengagumkan.” Kita membaca sambil merem-melek sejarah. Pujian itu “bertentangan” dengan demokrasi sering diunggulkan Soeharto. Demokrasi justru “dikendalikan” untuk pemecahan rekor kekuasaan.
Pada 2025, kita salah tingkah dalam belajar sejarah. Kita dibuat linglung bila ingin membuka aib-aib Soeharto selama berkuasa. Pengakuan telanjur diberikan atas segala jasa Soeharto. Penetapan sebagai pahlawan nasional pun mengukuhkan Soeharto sangat penting dalam sejarah Indonesia. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


