Arina.id - Bulan Rajab termasuk jajaran bulan mulia yang di dalamnya memiliki sejumlah keutamaan sehingga umat Islam berlomba-lomba meningkatkan amal ibadah seperti sedekah, puasa sunnah, tahajud, dzikir, dan lain-lain.
Khusus berkenaan dengan puasa, beberapa ada yang melaksanakan puasa sunah di bulan Rajab dan ada pula yang mengganti puasa Ramadhan di bulan Rajab. Adapula pelaksanaan puasa bulan Rajab, kadang dilakukan dengan cara berbarengan dengan hari Senin dan Kamis untuk mendapatkan pahala ganda, bahkan bisa jadi pahalanya tak terbatas.
Sebab dalam salah satu hadits disebutkan bahwa ibadah puasa itu untuk Allah dan yang berhak memberi pahala adalah Allah.
يقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ كلُّ عمَلِ ابنِ آدمَ له إلا الصيامَ فهو لِي وأنا أجزِي بِهِ
Artinya: "Allah berfirman, setiap amalan seseorang adalah untuknya kecuali puasa, sebab amal ibadah puasa hanyalah untukKu dan Akulah yang akan memberikan pahala puasa padanya secara langsung." (HR. Bukhari no. 1904, Muslim no. 1151)
Muncul pertanyaan, bagaimana maksud hadits ini? Apakah amal ibadah puasa langsung mendapatkan pahala dari Allah sedangkan amalan lain pahalanya ditunda?
Dalam Irsyadussari Syarah Bukhari 3/354 disebutkan:
فيه حظ ومدخل لاطلاع الناس عليه فهو يتعجل به ثوابًا من الناس ويجوز به حظًا من الدنيا وزاد في رواية كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف
Artinya: "Orang berpuasa mendapat bagian pahala dan berpotensi mendapat perhatian orang lain sehingga dipuji orang lain. Hal ini termasuk pahala duniawi. Dalam riwayat lain disebutkan setiap amal ibadah anak Adam dilipatgandakan kebaikannya dengan kelipatan sepuluh hingga 700 kali lipat."
إلا الصيام فإنّه خالص لي لا يعلم ثوابه المترتب عليه غيري
Artinya: "Kecuali puasa, sebab puasa dilakukan ikhlas karena untukKu yang tidak diketahui urutan pahalanya oleh orang lain."
Penjelasan Imam Qastalani ini menunjukkan bahwa amal ibadah apapun itu terbatas, kecuali ibadah puasa karena pelipatgandaan pahala puasa itu tidak terbatas. Sebab puasa sifatnya lebih personal, dan hanya diketahui antara pelaku dan Allah. Jika memang dilakukan dengan ikhlas karena Allah, maka bukan tidak mungkin pahala puasa yang diberikan oleh Allah itu tidak terbatas.
Dalam kitab Minhatul Bari 4/346 juga ditegaskan maksud dari frasa ‘kecuali puasa itu untukKu’ bahwa tidak ada orang lain yang mengetahui pahala puasa kecuali Aku.
Memang, pelaksanaan ibadah puasa itu sangat berat karena pelakunya harus mampu menahan keinginan apapun yang dapat membatalkan puasa. Bahkan dalam pandangan beberapa ulama tasawuf, menahan keinginan (syahwat) itu juga dalam hal kecondongan hati kepada perkara duniawi, dan mengotori puasa dengan penyakit hati.
Puasa bukan sekedar menahan dari makan minum, tapi juga menahan diri dari menggunjing, hasud, berbicara kotor, mengadu domba, berbohong, dan lain-lain. Khusus hal ini hanya Allah yang dapat mengetahui kualitas puasa seorang Muslim.
Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa amal ibadah apapun, selain puasa, pahalanya tetap diberikan langsung namun masih sebatas ratusan kali lipat. Berbeda dengan amal ibadah puasa karena pahala puasa itu terserah Allah, dan kualitas puasa seseorang hanya dapat diketahui oleh Allah. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


