Rabu terakhir bulan Shafar dikenal oleh umat Islam di Nusantara dengan sebutan Rebo Wekasan dan merupakan salah satu nama hari yang dipercayai sebagai hari diturunkannya bala, musibah, penyakit.
Penjelasan tentang Rabo akhir bulan Shafar ini disinggung dalam kitab Kanzun Najah Was-Surur karya Abd Hamid Quds yang menjelaskan para waliyullah yang mempunyai kasyf mengatakan bahwa pada setiap tahun, Allah menurunkan 320.000 macam bala bencana ke bumi. Semua itu terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar yang dikenal dengan Rebo Wekasan.
Dalam penanggalan Jawa, Rebo Wekasan disebut juga Rebo Pungkasan dari bulan Sapar, yang mana pada awalnya dilakukan sebab berkaitan dengan mitos pertemuan Sultan Agung dengan Nyai Roro Kidul, sehingga beberapa masyarakat yang memegang erat tradisi Jawa melakukan ritual khusus seperti selametan.
Tentu hal ini berbeda dengan masyarakat Islam Jawa dalam memaknai Rebo Wekasan. Mereka melakukan amalan di hari Rebu Wekasan berupa sholat tolak bala’, berdoa dengan doa-doa khusus, minum air jimat dan bersedekah, silaturrahin, berbuat baik kepada sesama.
Hanya saja perlu diingat, bahwa amalan hari Rabu terakhir di bulan Shafar jika mengacu pada beberapa kitab klasik, maka tidak ditemukan adanya bab khusus tentang amalan Rebo Wekasan.
Intinya, tidak ada tuntunan khusus Rebo Wekasan dalam agama Islam, akan tetapi esensi yang terkandung dalam sebagian ritual masih memiliki sisi keislaman.
Beberapa amalan yang sering dijumpai di tengah masyarakat, di antaranya adalah shalat Rebo Wekasan. Ini tidak ada dalam kitab hadits maupun fiqih. Hanya saja dapat dicarikan komprominya, yakni sholatnya diniati sholat sunnah mutlak, bukan niat khusus sholat Rebo Wekasan.
Dalam salah satu hadits disebutkan:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري ومسلم.
Artinya: "Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang." (HR. Bukhari dan Muslim).
Menurut al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, hadits ini merupakan respon Nabi terhadap tradisi yang berkembang di masa Jahiliyah. Ibnu Rajab menulis: Maksud hadits ini, orang-orang Jahiliyah meyakini datangnya sial pada bulan Shafar. Maka Nabi Muhammad menegur melalui hadits tersebut.
Adapun tata cara yang dianjurkan dalam sholat mutlaq tersebut adalah sholat 4 rakaat; setiap satu rakaat membaca surat al-fatihah dan Surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq dan An-Nas 1 kali. Kemudian setelah salam membaca doa khusus yang dibaca sebanyak 3 kali. Waktunya dilakukan pada pagi hari (waktu Dhuha).
Oleh karena itu, amalan yang dilakukan di hari Rebo Wekasan sangat bergantung pada tujuan dan teknis pelaksanaan. Jika niat dan pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan syariat yakni sholat sunnah mutlak, bersedekah, berbuat baik bukan dikhususkan hari Rebo Wekasan, maka hukumnya boleh. Tapi bila terjadi penyimpangan (baik dalam keyakinan maupun caranya), maka hukumya haram.
Editor: Muhammad Faizin


