Arina.id - Niat puasa sebulan penuh sudah banyak diketahui oleh masyarakat Muslim Indonesia berkat mudahnya mengakses informasi keagamaan dari media sosial. Pengetahuan ini juga diketahui sebab masifnya para pendakwah mensosialisasikan keterangan ini kepada masyarakat, baik melalui pengajian, dan juga mimbar khutbah Jumat.
Namun, kebanyakan informasi yang disampaikan tentang niat puasa ini adalah harus dilakukan di awal bulan Ramadan atau malam tanggal 1 Ramadan. Sepertinya pendapat ini berasal dari teks-teks madzhab Syafi’iyah yang memberikan alternatif bagi orang yang lupa berniat di malam hari untuk melakukan niat puasa satu bulan penuh atas dasar mengikuti madzhab Imam Malik dan hal ini dilakukan di awal bulan Ramadan.
Seperti dalam catatan Syekh Zainuddin al-Malibari berikut:
فلو نوى أول ليلة رمضان صوم جميعه: لم يكف لغير اليوم الأول. قال شيخنا: لكن ينبغي ذلك ليحصل له صوم اليوم الذي نسي النية فيه عند مالك.
Artinya: "Jika seseorang niat puasa satu bulan penuh di malam awal Ramadan, maka tidak sah kecuali hanya di hari pertama. Guru kami Ibnu Hajar mengatakan “akan tetapi sebaiknya hal itu dilakukan agar dia masih bisa berpuasa di hari di mana dia lupa berniat pada malamnya menurut madzhab Imam Malik." (Fathul Mu’in, [Beirut: Dar Ibnu Hazm], hal. 261.).
Madzhab Maliki memandang niat puasa Ramadan boleh dilakukan sekali di awal bulan sebagaimana catatan Ibnu Juzay dari Granada berikut:
تجزيه نية واحدة لرمضان في أوله وكذلك في صيام متتابع ما لم يقطعه أو يكن على حاله يجوز له الفطر فيلزمه استيناف النية وقال الشافعي وابن حنبل يجب تجديد النية لكل يوم
Artinya: "Cukup melakukan sekali niat untuk puasa Ramadan di awal bulan, begitu juga untuk puasa yang wajib dilakukan beruntun dengan catatan tidak terputus di tengah bulan (dengan adanya penghalang seperti haid), atau dalam kondisi yang memperbolehkan untuk tidak berpuasa (seperti bepergian jauh) maka ketika dalam dua kondisi itu dia wajib memulai niat kembali (seperti di hari pertama), sedangkan menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad wajib memperbarui niat setiap hari." (al-Qawanin al-Fiqhiyah, [Maktabah Syamilah], hal. 80.).
Catatan itu jelas menunjukkan bahwa bagi puasa yang wajib dilakukan secara berurutan, boleh berniat hanya satu kali di hari pertama, seperti puasa Ramadan dan puasa kafarat. Hal ini disebabkan karena ibadah yang wajib dilakukan berurutan diserupakan dengan satu ibadah tersendiri.
Berikut catatan Hajjah Kaukab Ubaid:
ذلك لأن واجب التتابع كالعبادة الواحدة من حيث ارتباط بعضها ببعض وعدم جواز التفريق، فكفت النية الواحدة.
Artinya: "Ketentuan itu dikarenakan ibadah yang wajib dilakukan secara berurutan sama halnya dengan ibadah satu dari segi keterhubungan antara satu dengan yang lainnya dan tidak adanya pemisah, maka cukup satu niat saja." (Fiqhul Ibadat ala Madzhabil Maliki, [Damaskus: al-Insya’, 1986], hal. 307.).
Ketentuan niat satu kali ini masih bisa berlaku jika tidak ada mani’ (penghalang) seperti haid, gila, sakit, dan bepergian jauh yang bisa memengaruhi keberlanjutan ibadah tersebut sehingga harus memperbarui niat seperti di hari pertama.
Namun ada ulama Malikiyah yang masih mewajibkan untuk mempebaharui niat setiap malam sebagaimana madzhab Syafi’i dan Hanbali. Keterangan ini tercatat oleh Syekh Muhammad Ulaisy sebagai berikut:
هذا هو المشهور. وقال ابن عبد الحكم تجب النية في كل ليلة في واجب التتابع بناء على أنه كعبادات من حيث عدم فساد جميعه بفساد بعضه
Artinya: "Ini (satu niat untuk satu bulan) merupakan pendapat yang masyhur dari kalangan Malikiyah, Abdullah bin Abdil Hakam mewajibkan niat setiap malam untuk puasa yang wajib dilakukan berurutan atas dasar setiap harinya adalah ibadah tersendiri dengan bukti batal salah satunya tidak menjadikan yang lain ikut batal. (Minahul Jalil, Syarh Mukhtashar Khalil, [Beirut: Darul Fikr, 1984], juz 2, hal. 128.).
Ketika niat satu untuk satu bulan penuh hanya merupakan sebuah kebolehan dan bukan tuntutan suatu ibadah, tentunya tidak menutup kemungkinan madzhab Malikiyah juga memberlakukan niat setiap malam sebagaimana lainnya. Sebab sebenarnya terdapat satu catatan riwayat dari Imam Malik bahwa beliau mewajibkan niat setiap malam meskipun riwayat itu dianggap tidak berdasar menurut penulis al-Bayan.
Berikut catatan Syekh Muhammad al-Syinqithi terkait keteragan ini:
ومقابله ما روي عن مالك من وجوب التبييت كل ليلة، قال في البيان: وهو شذوذ في المذهب،
Artinya: "Perbandingan dari pendapat itu (satu niat untuk satu bulan) adalah riwayat dari Imam Malik tentang kewajiban niat di setiap malam hari, akan tetapi riwayat ini syadz menurut penulis al-Bayan." (Lawami’ud Durar fi Hatki Astaril Mukhtashar, [Nouakchott: Darul Ridhwan, 2015.], juz 4, hal. 90.).
Al-Syinqithi juga secara eksplisit mencatat bahwa tidak mentup kemungkinan diberlakukannya niat setiap malam, bahkan sebagian ulama malikiyah mensunnahkan hal ini. Berikut catatannya:
وأشعر قوله: "وكفت نية لما يجب تتابعه"، أن المطلوب التبييت كل ليلة. وقد صرح عياض في قواعده والشبيبي وغيرهما بأنه يستحب تجديد النية لكل يوم من رمضان
Artinya: "Ucapan Syekh Khalil bin Ishak al-Maliki “cukup satu niat untuk puasa yang wajib berurutan” menunjukkan bahwa yang seharusnya dilakukan adalah niat setiap malam, Syekh Iyadh dalam qawaidnya, Syekh al-Syabibi dan lainnya mengatakan bahwa memperbarui niat setiap hari di bulan Ramadan adalah sunnah," (Lawami’ud Durar fi Hatki Astaril Mukhtashar, [Nouakchott: Darul Ridhwan, 2015.], juz 4, hal. 90.).
Dari keterangan ini bisa disimpulkan bahwa niat di awal bulan Ramadan untuk satu bulan puasa bukan merupakan tuntutan dalam tuntunan puasa versi madzhab Maliki. Dalam arti niat tersebut tidak harus dilakukan di awal bulan dan boleh jadi bisa dilakukan di pertengahan bulan seperti beberapa kasus dalam catatan Syekh Abul Hasan Ali al-Adawi berikut:
بقي المريض والمسافر إذا تماديا على الصوم فإنه يجب عليهما النية في كل ليلة لعدم وجوب التتابع في حقهما وعند صحة المريض وقدوم المسافر يكفيهما نية لما بقي كالحائض تطهر والصبي يبلغ في أثناء الصوم والكافر يسلم في أثناء الشهر.
Artinya: "Orang sakit dan musafir jika keduanya nekad berpuasa maka wajib berniat setiap malam karena tidak ada kewajiban melakukan secara berurutan baginya, ketika yang sakit sudah sembuh dan yang musafir sudah pulang maka cukup satu niat untuk sisa puasanya seperti wanita haid yang suci atau anak kecil yang baligh di tengah puasa Ramadan, dan juga seperti non-Muslim yang muallaf dipertengahan bulan." (Hasyiyah al-Adawi ala Syarh Kifayatut Talib al-Rabani, [Beirut: Darul Fikr, 1994], juz 1, hal. 442.).
Kasus tersebut sama halnya seorang Syafi’iyah yang berpuasa pada awal bulan sebagaimana biasanya, yakni berniat setiap malam. Kemudian di malam tanggal 6 ramadhan dia berpindah madzhab ke Malikiyah dengan niat satu bulan penuh. Hal ini sama dengan non-Muslim yang masuk Islam di pertengahan bulan Ramadan dan mengikuti madzhab Maliki.
Walhasil, niat satu kali untuk satu bulan puasa Ramadan menurut madzhab Maliki adalah boleh dilakukan. Ketentuan itu bukan tuntutan yang menjelma menjadi syarat sah, sebab pada dasarnya niat satu kali ini tidak terlepas dari perkhilafan di antara internal malikiyah sendiri dengan bukti pendapat tentang niat satu kali adalah qaul masyhur. Kemudian terdapat riwayat dari Imam Malik yang mewajibkan berniat setiap malam meskipun riwayat ini sangat diragukan, dan juga banyak dari malikiyah yang mensunahkan niat setiap malam.
Ketika niat satu kali di awal Ramadan bukan merupakan tuntutan dalam tuntunn fiqih puasa madzhab Malikiyah, maka boleh saja niat itu dilakukan tidak di awal Ramadhan seperti tanggal 5 misalnya. Hal ini seperti kasus non-Muslim yang masuk islam di pertengahan Ramadan dan berpuasa mengikuti madzhab Maliki. Pengikut Syafi’i tentu boleh melakukan niat ini tidak di awal Ramadan, atas dasar pindah paham dari Syafi’i ke Maliki di pertengahan bulan Ramadan. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


