Dark
Light
Dark
Light

Bertahan: Hal-Hal Kecil yang Disukai

Bertahan: Hal-Hal Kecil yang Disukai

Di beranda media sosial, tampak foto sehelai spanduk tergantung di bawah atap koridor kayu. Di atasnya terdapat tulisan sederhana: Tetaplah hidup, demi hal kecil yang kamu sukai. Foto bisa dilihat sepintas lalu, namun bisa juga berkesan meski tak ada kata-kata yang meliuk atau rumit. Kalimat sederhana yang seolah bicara pada siapa saja. 

Kalimat itu makin-makin relate setiap kali dunia terasa terlalu cepat dan penuh tuntutan. Dalam keseharian yang sering memaksa tiap manusia agar berhasil dan sukses, pesan semacam itu seruapa napas pendek yang bukan saja menjeda, namun bisa menyelamatkan. Kalimat coba menegaskan ihwal hidup tak perlu mencari alasan besarnya untuk terus dilanjutkan, kadang cukup tawa teman lama, bahkan lagu lama yang tiba-tiba diputar di angkutan kota.

Hal di atas serupa dengan penelitian yang dilakukan Alain Topor dkk berjudul Small Things, Micro-Affirmations and Helpful Professionals: Everyday Recovery-Oriented Practices According to Persons with Mental Health Problems, dipublikaskan BMC Psychiatry tahun 2018.

Topor dan rekan-rekannya melakukan wawancara dengan orang-orang yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental, dan menemukan pola berulang: hal-hal kecil yang tampak remeh bagi orang lain ternyata punya makna besar bagi proses pemulihan. Bukan terapi formal atau obat, apalagi program besar, melainkan hal-hal kecil: tetangga yang menyapa dengan senyum ramah atau petugas yang mendengarkan tanpa menghakimi, juga kesempatan melakukan aktivitas sederhana yang disukai. 

Dalam konteks sosial Indonesia, bentuk afirmasi kecil sering muncul dari hal-hal yang akrab dan hangat: ajakan minum teh di sore hari, pesan “sudah makan belum?” dari teman, atau candaan ringan di tongkrongan. Hal-hal semacam itu menegaskan bahwa seseorang masih dipedulikan, menjadi bagian dari kehidupan orang lain. Dalam budaya komunal yang sering dianggap remeh oleh dunia modern, justru di situlah banyak orang menemukan kembali keseimbangannya. Hal-hal itu disebut micro-affirmations (afirmasi mikro) yang memperkuat perasaan jikalau hidup ini masih punya ruang bagi kita, menegaskan diri ini masih punya nilai. 

“Kadang hanya karena seseorang mengingat nama saya, saya merasa diakui,” kata salah satu responden dalam studi itu.

Demikian itu serupa dengan pesan dalam spanduk di foto yang melintas di beranda media sosial, untuk tetap hidup, kita tidak selalu butuh hal besar. Cukup hal kecil yang membuat kita merasa manusiawi juga berarti.

Kesehatan mental sering dibicarakan seolah masalah yang besar dan jauh: depresi, kecemasan, burnout, trauma, dll. Padahal, benihnya sering tumbuh dari yang kecil pula, dari kelelahan yang tidak diakui juga rutinitas yang kehilangan makna.

Begitu pula pemulihannya: ia tidak selalu datang dari terapi panjang di ruang klinik, melainkan dari keseharian yang disulam ulang dengan diri memberi makna-makna kecil.

Psikologi modern menyebut konsep ini sebagai daily micro-practices, praktik-praktik kecil sehari-hari yang membangun kesejahteraan. Misalnya menulis jurnal, menyiram tanaman, berolahraga, atau sekadar memberi waktu menikmati hari tanpa rasa bersalah, melakukan hal-hal sederhana yang disukai.

Dalam riset-riset lanjutan, aktivitas kecil semacam itu terbukti mampu menurunkan kadar hormon stres dan meningkatkan fokus, bahkan memperbaiki kualitas tidur. Semua itu, pada akhirnya, melindungi kita dari gangguan mental yang lebih serius.

Namun di tengah laju hidup yang makin seragam, melakukan hal kecil yang disukai kadang justru butuh keberanian. Ada tekanan sosial untuk selalu menyibukan diri, tuntutan tetap produktif. Maka, duduk tenang di rumah tanpa melakukan apa pun bisa dianggap malas, padahal justru di situlah terkadang seseorang belajar hadir kembali pada dirinya sendiri. Ketenangan kecil semacam itu pelan-pelan menambal bagian diri yang lelah oleh beban sehari-hari.

Pesan tetaplah hidup bukan sekadar ajakan untuk bertahan dalam diam. Ia juga ajakan untuk merayakan keberadaan diri, meski tak muluk-muluk amat alias sederhana. Dalam dunia yang sering mengukur nilai hidup dari capaian dan gelar, ajakan ini terasa seperti pembebasan kecil: kita boleh menikmati hal remeh dan tetap menganggapnya penting. Karena mungkin yang menolong kita bukan keberhasilan besar, tapi hal-hal kecil yang konsisten: musik yang selalu menenangkan, secangkir kopi sore, halaman buku yang kita baca berulang kali.

Topor menulis dalam artikelnya, bahwa pemulihan bukanlah tentang menghapus kesedihan, tetapi tentang menemukan makna baru di dalamnya. Makna itu sering muncul lewat hal-hal kecil yang membuat kita merasa hadir kembali di dunia.

Barangkali, spanduk sederhana di koridor kayu itu bukan sekadar pengingat, tapi juga bentuk mikro-afirmasi bagi siapa pun yang kebetulan membacanya. Ia tidak menawarkan solusi, tidak juga menuntut perubahan besar, coba menyodorkan kelembutan, tentang hidup yang bisa saja dijalani pelan-pelan, satu hari, dari waktu ke waktu dengan hal-hal kecil.

Bagi siapa pun yang hidup di tengah tuntutan, pesan dalam foto itu terasa sangat manusiawi. Kita sering lupa, di balik segala pencapaian, manusia juga butuh ruang kecil untuk merasa hidup. Tidak harus produktif atau sempurna. Cukup bernapas dan menemukan satu hal kecil yang disukai hari itu. Menegaskan hidup bukan perlombaan untuk selalu bahagia, melainkan perjalanan untuk tetap ada, dengan segala rumit jatuh-bangunnya.

Maka ketika seseorang menatap spanduk dalam foto dan membaca kalimatnya perlahan, bisa jadi yang dirasakan bukan sebatas motivasi, tapi semacam pengakuan, akan hidup yang memang berat, tapi tidak selalu harus diselesaikan dengan heroik.

Kadang cukup dengan satu alasan kecil: teman yang masih mengirim pesan atau sekadar hal kecil yang disukai, yang membuat seseorang, untuk satu hari lagi, memilih tetap di bertahan. Dan mungkin, bagi dunia yang semakin bising ini, bertahan demi hal kecil sudah bentuk keberanian yang luar biasa.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo