Saat ini media sosial sudah menjadi panggung terbesar bagi masyarakat. Melalui media sosial, setiap orang bisa tampil, berbagi cerita, bahkan menunjukkan pencapaian pribadi.
Namun, menariknya, tidak semua hal yang dipamerkan punya makna sama bagi setiap kalangan. Apa yang dianggap prestasi besar oleh kelas pekerja atau kalangan menengah, kadang justru dipandang sebagai sesuatu yang “kurang pantas” atau “norak” oleh mereka yang lebih kaya.
Fenomena ini bukan soal benar atau salah, melainkan perbedaan perspektif. Kaum elit umumnya terbiasa dengan gaya hidup serba halus, elegan, dan tidak mencolok. Sementara kelas pekerja sering kali merasa wajar jika kebahagiaan atau hasil jerih payah mereka ditunjukkan ke publik.
Lantas, hal-hal apa saja yang sering dibanggakan kelas pekerja di dunia maya, tapi justru membuat kalangan kaya mengernyitkan dahi?
Berikut tujuh kebiasaan pamer di media sosial yang dilakukan kelompok pekerja tapi dianggap norak oleh kelompok menengah ke atas diadaptasi dari laman Geediting.com:
1. Pamer belanjaan baru
Siapa sih yang tidak senang bisa membeli barang impian? Mulai dari gawai terbaru, sepeda motor, hingga mobil mengilap, banyak orang kelas pekerja merasa perlu membagikan momen tersebut. Rasanya sah-sah saja, karena bagi mereka barang itu adalah simbol kerja keras dan pencapaian.
Unggahan seperti “Akhirnya kebeli juga!” lengkap dengan foto barang baru memang bisa menimbulkan rasa bangga. Namun, di mata sebagian orang kaya, kebiasaan ini justru terlihat kurang elegan. Mereka cenderung beranggapan bahwa kesuksesan tidak perlu diumbar, apalagi dalam bentuk benda. Justru semakin tenang seseorang menyimpan pencapaiannya, semakin dianggap berkelas.
2. Check-in liburan
Liburan ke luar kota atau bahkan ke luar negeri adalah momen spesial. Tidak heran jika banyak orang langsung mengunggah foto di bandara, hotel, atau bahkan fasilitas kecil seperti sabun dan sampo gratis dari penginapan.
Bagi kelas pekerja, berbagi keseruan perjalanan adalah cara untuk menularkan kebahagiaan pada keluarga dan teman. Akan tetapi, kaum elit biasanya menganggap liburan sebagai sesuatu yang pribadi. Mereka lebih memilih menikmati momen tanpa harus diumbar. Itulah sebabnya, update perjalanan dari A sampai Z kerap dipandang berlebihan.
3. Pamer menang undian
Bagi sebagian orang, memenangkan undian berhadiah atau lotre adalah rezeki besar yang patut dirayakan. Bahkan hadiah kecil pun sering dibagikan dengan penuh rasa bangga, karena dianggap sebagai simbol keberuntungan.
Namun, bagi mereka yang sudah mapan, lotre hanya sekadar permainan keberuntungan, bukan sesuatu yang bisa dijadikan pijakan hidup. Mereka memandang pamer kemenangan undian sebagai hal remeh, bahkan cenderung “kurang pantas”. Meski begitu, bagi kelas pekerja, kegembiraan spontan dari menang undian memang layak dirayakan.
4. Barang bermerek tiruan
Fashion sering dianggap penanda status sosial. Tidak sedikit orang yang merasa bangga bisa mengenakan tas, sepatu, atau jam tangan bermerek, meskipun hasil tiruan. Foto barang tersebut lantas diunggah di media sosial dengan penuh percaya diri.
Kaum elit yang terbiasa memakai barang asli tentu memandang fenomena ini berbeda. Mereka menganggap barang tiruan adalah bentuk kepalsuan gaya hidup. Bagi mereka, keaslian jauh lebih berharga dibanding sekadar penampilan luar. Di sinilah perbedaan perspektif itu terlihat jelas: bagi satu pihak, barang tiruan adalah simbol “naik kelas”, sementara bagi pihak lain justru tanda ketidakotentikan.
5. Berburu diskon dan barang murah
Kelas pekerja identik dengan semangat hemat. Mampu menemukan barang bagus dengan harga miring adalah kebanggaan tersendiri. Ada kepuasan saat bisa bercerita di media sosial: “Dapet sepatu keren cuma setengah harga!”
Berburu diskon di pasar loak, toko barang bekas, atau e-commerce saat ada promo besar memang jadi aktivitas yang menyenangkan. Tetapi, bagi orang kaya, berburu harga murah tidak punya nilai prestise. Mereka tidak terbiasa membanggakan potongan harga karena bisa membeli barang tanpa memikirkan diskon. Di sinilah letak perbedaan: yang satu melihatnya sebagai bentuk kecerdikan, yang lain menganggapnya tanda keterbatasan.
6. Renovasi rumah
Rumah adalah istana bagi banyak keluarga. Tidak mengherankan jika setiap kali ada perbaikan kecil. Misalnya mengecat kamar, menata ulang taman, atau membuat teras baru yang langsung diabadikan dan dipamerkan di media sosial.
Bagi kelas pekerja, itu bentuk nyata dari kerja keras yang membuahkan hasil. Unggahan “before-after” rumah bukan sekadar konten, melainkan kebanggaan.
Sebaliknya, kaum elit biasanya menyerahkan renovasi rumah kepada arsitek atau kontraktor, dan mereka jarang merasa perlu memamerkannya. Perubahan rumah adalah urusan pribadi, bukan sesuatu yang harus diumumkan.
7. Foto makanan
Siapa yang tidak pernah memotret makanan? Mulai dari masakan rumahan sederhana hingga menu restoran kekinian, foto makanan adalah salah satu konten paling populer di kalangan kelas pekerja.
Bagi mereka, makanan bukan sekadar kebutuhan, tapi juga pengalaman yang pantas dibagikan.
Namun, kaum kaya kerap memandang kebiasaan ini remeh. Mereka lebih menghargai momen makan sebagai pengalaman intim, bukan bahan pameran di media sosial. Maka, ketika orang sibuk mengambil foto makanan dari berbagai sudut, sebagian kalangan elit mungkin justru menggelengkan kepala.
Semua soal Sudut Pandang
Media sosial hanyalah cermin dari kehidupan kita. Setiap unggahan, entah itu barang baru, tiket liburan, hingga foto makanan, adalah potongan kecil dari kisah hidup yang ingin kita bagi.
Bagi kelas pekerja, berbagi pencapaian atau momen sederhana adalah wujud rasa syukur dan kebanggaan. Bagi kaum kaya, justru kesederhanaan dan kerahasiaan dianggap lebih elegan.
Namun, tidak ada yang mutlak benar atau salah. Apa yang bagi seseorang terlihat berlebihan, bisa saja bagi orang lain adalah kebahagiaan yang tulus.
Pada akhirnya, media sosial adalah panggung tempat kita mengekspresikan diri. Dan setiap ekspresi punya nilai tersendiri, sesuai dengan latar belakang, pengalaman, dan sudut pandang masing-masing. Jadi, sebelum menghakimi unggahan orang lain, mungkin ada baiknya kita ingat: kebahagiaan tidak selalu diukur dengan standar yang sama.
Editor: Kendi Setiawan


