Jakarta, Arina.id—Tutupan lahan di Indonesia mengalami perubahan, seiring semakin masifnya beroperasinya industri ekstraktif berbasis lahan yang menjamur di berbagai daerah.
Dinamika tutupan lahan itu kini terekam dan cukup mudah dipelajari melalui platform Mapbiomas Indonesia Koleksi 4.0 yang dirilis 11 lembaga masyarakat sipil lintas negara di antaranya Auriga Nusantara, Woods Wayside International (WWI), HAkA (Aceh), HaKI (Sumatera Selatan), GENESIS (Bengkulu), SAMPAN (Kalimantan Barat), SAVE OUR BORNEO (Kalimantan Tengah), GREEN OF BORNEO (Kalimantan Utara), KOMIU (Sulawesi Tengah), MNUKWAR (Papua Barat), dan JERAT (Papua).
Koordinator Mapbiomas Indonesia Timer Manurung mengatakan peta ini menjadi persembahan anak bangsa untuk Tanah Pusaka dengan merekam 34 tahun dinamika tutupan lahan Indonesia, dari tahun 1990 hingga 2024.
Peta ini dapat diakses secara gratis oleh siapa saja, mulai dari masyarakat umum, akademisi, pemerintah, pemilik usaha, hingga jurnalis. Manurung mengatakan delapan dekade lalu, para pendiri bangsa memperjuangkan kemerdekaan politik Indonesia.
"Kini, generasi penerus bangsa menghadapi tantangan menjaga kemerdekaan dan keadilan ekologis: memastikan tanah, hutan, air, dan udara tetap menjadi penopang hidup rakyat," ujar Manurung dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (27/8/2025).
Mapbiomas Indonesia Koleksi 4.0 hadir sebagai alat pengetahuan bersama untuk melanjutkan cita-cita tersebut ."Kemerdekaan tidak hanya soal bebas dari penjajahan, tapi juga soal merdeka menentukan arah pembangunan tanpa mengorbankan hutan dan tanah air kita," jelasnya.
Ia mengatakan Data Mapbiomas ini adalah wujud kedaulatan anak bangsa atas pengetahuan lingkungan. Jika sebelumnya hanya ada 11 kelas tutupan lahan, pada Koleksi 4.0 kini terdapat 13 kelas, dengan tambahan kelas pemukiman dan hutan rawa gambut.
"Dengan itu, Mapbiomas mampu menggambarkan dinamika bentang alam Indonesia secara lebih detail, dari hutan hingga permukiman padat penduduk (urban area)," ujarnya.
Selama 34 tahun terakhir, perubahan tutupan lahan Indonesia menggambarkan cerita besar: ekspansi perkebunan, urbanisasi, degradasi hutan, sekaligus upaya perlindungan kawasan penting. "Dengan Mapbiomas Koleksi 4.0, semua pihak dapat membaca kisah tersebut secara terbuka," tuturnya.
Manurung menjelaskan bahwa peluncuran ini menjadi kado kemerdekaan 80 tahun Indonesia—sebuah pengetahuan kolektif agar Tanah Air tidak hanya merdeka secara politik, tetapi juga lestari secara ekologis untuk generasi mendatang.
Terbuka, Interaktif, dan Berbasis Teknologi AI
Manurung menyebut Mapbiomas Indonesia Koleksi 4.0 hadir dengan berbagai pembaruan yang membuatnya semakin mudah diakses dan digunakan oleh publik. "Antarmuka barunya dirancang lebih ramah pengguna, sehingga navigasi data menjadi lebih sederhana dan intuitif," bebernya.
Selain itu, Mapbiomas 4.0 kini bersifat interaktif, memungkinkan pengguna melakukan analisis data secara langsung, menggambar poligon sesuai kebutuhan, hingga menambahkan data mereka sendiri dalam bentuk shapefile.
Lebih jauh, platform ini juga diperkuat dengan tools berbasis Artificial Intelligence (AI) yang mampu mempercepat proses analisis spasial dengan tingkat presisi yang lebih tinggi, menjadikannya sebagai salah satu instrumen paling canggih dalam pemetaan tutupan lahan di Indonesia.
Auriga Nusantara memaparkan Indonesia menghadapi hilangnya hutan alam mencapai sekitar 18 juta hektare (ha) dalam kurun waktu lebih dari tiga dekade, yakni periode 1990 hingga 2024. Berdasarkan perhitungan, besaran ini mencapai 9,4% dari keseluruhan luas daratan Indonesia (191 juta hektare).
Besaran hutan alam yang lenyap tersebut juga setara 180 juta lapangan sepak bola berstandar FIFA. Di lain sisi, perkebunan kelapa sawit mencatat ekspansi paling besar dibandingkan kategori pemanfaatan lahan lainnya selama 35 tahun terakhir.
"Fakta umum menunjukkan dari tiga dekade terakhir atau 35 tahun terakhir kita telah kehilangan 18 juta formasi hutan alam," kata Peneliti Auriga Nusantara, Dedy Sukmara, dalam acara Launching MapBiomas Landy Indonesia Koleksi 4.0, Selasa, 26 Agustus 2025.
Mapbiomas Indonesia adalah bagian dari inisiatif global Mapbiomas, sebuah jaringan kolaboratif yang menggunakan citra satelit, machine learning, dan keterlibatan multipihak untuk memetakan dinamika tutupan lahan.
Editor:


