'Kongres Darurat' 20 Negara di Bogota, Bahas Langkah Nyata Stop Genosida Israel di Palestina

'Kongres Darurat' 20 Negara di Bogota, Bahas Langkah Nyata Stop Genosida Israel di Palestina

Arina.id - Lebih dari 20 negara akan berkumpul di Bogota, Ibu Kota Kolumbia, untuk merumuskan langkah konkret sebagai respons terhadap kebrutalan Israel. Negara-negara itu di antaranya; Turki, Portugal, China, Qatar, Spanyol dan Irlandia.

Seperti dikutip dari Middle East Eye, petinggi negara-negara tersebut bakal membahasnya dalam "Konferensi Darurat" Grup Den Haag pekan depan itu. Para diplomat menyatakan bakal membahas sikap mereka terhadap pelanggaran hukum internasional negeri Zionis.

"Konferensi Darurat" akan digelar dua hari, 15 hingga 16 Juli 2025, Pemerintah Kolombia sebagai tuan rumah dan Afrika Selatan sebagai ketua Grup Den Haag bakal mengkoordinasikan tindakan diplomatik dan hukum untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai gangguan keamanan yang dilakukan Israel dan sekutu besarnya, Amerika Serikat (AS).

Grup Den Haag adalah sebuah blok yang terdiri dari delapan negara bagian, diluncurkan pada 31 Januari di Belanda dengan tujuan untuk menghukum dan mendesak Israel agar bertanggung jawab di bawah hukum internasional.

"Formasi Grup Den Haag pada Januari itu menandai titik balik dalam merespons gejolak global akibat erosi pelanggaran hukum internasional yang semakin meluas," demikian kata Menteri Hubungan Internasional Afrika Selatan, Roland Lamola kepada Middle East Eye. 

"Spirit bersama akan dihidupkan dalam konferensi Bogota ini, dimana negara-negara yang berkumpul akan mengirimkan pesan jelas: tidak ada negara yang mengangkangi hukum, dan tidak ada kejahatan yang lepas dari tanggungjawab," katanya.

Mereka bakal bekerja sama memperkenalkan langkah-langkah legal, diplomatis dan ekonomi yang dapat menghentikan kehancuran Palestina akibat dari ulah Israel. 

"Negara yang berkumpul tidak hanya akan menegaskan kembali komitmennya melawan genosida, tetapi menyusun serangkaian langkah-langkah spesifik untuk beralih dari kata-kata ke tindakan kolektif," kata Wakil Menteri Kolombia untuk Urusan Multilateral, Mauricio Jaramillo Jassir.

Sebelumnya, perang Israel di Gaza dikutuk oleh para ahli dan pemerintah sebagai genosida. Zionis telah membunuh lebih dari 57.000 warga Palestina dan mengungsi hampir seluruh populasi sejak Oktober 2023. 

Serangan tersebut telah membuat wilayah Gaza nyaris tidak dapat dihuni dan meninggalkan dua juta orang kelaparan. "Genosida Palestina mengancam seluruh sistem multilateral kita," kata Mauricio menambahkan.

Anggota pendiri grup tersebut termasuk Bolivia, Kolombia, Kuba, Honduras, Malaysia, Namibia, Senegal dan Afrika Selatan.  Negara yang akan berpartisipasi dalam konferensi termasuk Aljazair, Bangladesh, Bolivia, Brazil, Chili, Cina, Kuba, Djibouti

Kemudian Honduras, Indonesia, Irlandia, Libanon, Malaysia, Namibia, Nikaragua, Oman, Portugal, Spanyol, Qatar, Turki, Saint Vincent dan Grenadines, Uruguay, dan Palestina. 

Para pejabat yang hadir termasuk pelapor khusus PBB untuk Palestina Francesca Albanese; kepala lembaga PBB untuk pengungsi Palestina Philippe Lazzarini; rapporteur khusus PBB tentang hak kesehatan, Tlaleng Mofokeng; Laura Nyirinkindi, ketua grup kerja PBB mengenai diskriminasi perempuan dan perempuan; dan Andres Macias Tolosa, grup kerja PBB pada pemegang mandat tentara bayaran.

Langkah konkret

Anggota Grup Den Haag telah mengambil langkah besar selama 20 bulan terakhir untuk membela dan menegakkan hukum internasional. Afrika Selatan, contohnya, membawa penjajah Israel ke Pengadilan Internasional atas tuduhan pelanggaran Konvensi Genosida di Gaza. 

Beberapa negara bagian koalisi kemudian bergabung dalam kasus Afrika Selatan di ICJ, termasuk Bolivia, Kolombia dan Namibia. Selain itu, Namibia dan Malaysia diblokir kapal yang membawa senjata ke Israel dari berlabuh di pelabuhan mereka, sementara Kolombia telah memutus hubungan diplomatik dengan pemerintah Israel.

Sejak upaya-upaya ini dilakukan secara independen, Grup Den Haag bertujuan untuk mengkoordinasikan aksi antar negara-negara anggota dan pendukungnya agar berdampak lebih kuat. Menurut koordinator grup Varsha Gandikota-Nellutla, grup tersebut dibentuk sebagai reaksi atas ketidakpatuhan negara yang terikat kewajiban hukum internasional internasional. 

Ini adalah referensi untuk mendorong Pengadilan Kriminal Internasional segera mengeksekusi surat penangkapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant pada November 2024, dan kebengalan Israel tidak mematuhi perintah ICJ, serta memastikan Konvensi Genosida tidak dilanggar di Gaza.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo