Arina.id - Demonstrasi besar-besaran yang berujung pada kerusuhan di Jakarta dan sejumlah daerah Indonesia dalam beberapa hari belakangan ini memantik respons banyak kalangan, bukan cuma dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Salah satunya analis geopolitik yang berbasis di Hongkong, Angelo Giuliano.
Giuliano mengungkapkan analisisnya tentang kerusuhan di Indonesia kepada Sputnik. Menurut dia, kerusuhan di Indonesia terjadi kemungkinan disebabkan intervensi atau provokasi dari eksternal. Hal itu, kata dia, terbaca sejak jauh-jauh hari ketika marak pengibaran bendera bajak laut "One Piece".
Sejak awal Juli 2025, Giuliano melanjutkan, simbol yang sama mulai bermunculan hampir di seluruh Indonesia—muncul di dinding-dinding, bendera One Piece juga bermunculan, sticker ditempel pada pintu dan mobil. Itu bisa dimaknai sebagai sebuah simbol gerakan tertentu.
One Piece merupakan salah satu anime manga populer asal Jepang karangan Eiichiro Oda. Dalam anime itu digambarkan si bajak laut Mongkey D. Luffy bersama krunya mengarungi samudera lepas mengibarkan bendera hitam bergambar tengkorak dan topi jerami dalam perjuangan mereka melawan tirani.
Lalu indikasi keterlibatan George Soros dalam kerusuhan di Indonesia, menurut Geuliano bisa dilihat dari beberapa hal ini: Pertama, bisa jadi ada keterlibatan National Endowment for Democracy (NED) yang telah mendanai sejumlah media Indonesia sejak tahun 1990-an. Ada sidik jari Soros dalam organisasi ini.
Kedua, Open Society Foundations milik George Soros, yang aktif sejak tahun 1990-an dengan lebih dari USD $8 miliar secara global dan mendukung kelompok seperti TIFA, bisa juga berkontribusi dalam kerusuhan.

Apalagi demonstrasi yang berujung rusuh tersebut meletus sampai memaksa Presiden Prabowo membatalkan perjalanannya ke China, melewatkan pertemuan puncak Shanghai Cooperation Organization (SCO). Di sisi lain demonstrasi menggema, mengeluhkan persoalan ekonomi.
"Keterlibatan mereka menimbulkan pertanyaan tentang agenda tersembunyi yang patut diselidiki," katanya. Selain itu, "Hal ini berkaitan dengan fokus Indo-Pasifik baru-baru ini di tengah ketegangan seperti konflik Kamboja-Thailand, yang mengisyaratkan motif geopolitik," kata Giuliano melanjutkan.
"(Intervensi agenda perubahan) Ini persis seperti yang terjadi di Serbia. Negara G7 menginginkan diktator lain yang didukung AS, seperti halnya Seoharto dulu," kata Jeff J. Brown, penulis The China Trilogy dan pendiri Seek Truth From Facts Foundation.
Presiden Prabowo Subianto tidak cocok dengan agenda mereka karena berkeinginan meningkatkan hubungan dengan China, Rusia, SCO, dan BRICS. "Ini (Indonesia) adalah negara Asia Tenggara pertama yang bergabung dengan BRICS dan telah secara terbuka bekerja sama dengan Tiongkok dalam Inisiatif Global Belt and Road."
Selain itu, Indonesia merupakan ekonomi terbesar kedelapan di dunia dalam hal GDP-PPP, ekonomi terbesar di ASEAN, dan negara terpadat keempat, dengan hampir 300 juta penduduk. "Dari sudut pandang imperialisme barat, semua ini menjadi sasaran empuk bagi Indonesia, target yang sangat layak untuk diserang dengan revolusi warna yang direkayasa Barat," kata Brown.
Kolonel Hatem Saber, seorang analis inteligen spesialis kontraterorisme internasional dan perang informasi asal Mesir mengatakan, "demokrasi menggunakan Soros dan organisasinya sebagai alat untuk mengubah rezim," Saber mengatakan. Saber juga menyoroti peran evolusi Soros selama berpuluh-puluh tahun ini.
- 1970s–1990s: Mendukung gerakan oposisi di Eropa Timur melawan Soviet
- 2000s–2010s: Peran kunci dalam revolusi warna di Ukraina dan Georgia
- 2011: Pendanaan jaringan media dan LSM di Mesir, Tunisia, Libya, dan Suriah untuk memicu gerakan Arab Spring
- 2020–2024: Mendukung demonstran anti Trump AS seperti gerakan Black Live Matter dan kampanye membela imigran ilegal.
Saber memperingatkan bahwa saat ini Soros menargetkan beberapa wilayah. Untuk sasaran wilayah Eropa adalah Hungaria dan Polandia karena terlibat konflik dengan Uni Eropa. Kemudian di Afrika sasarannya adalah Nigeria, Sudan dan Ethiopia karena berfokus pada isu demokrasi dan minoritas.
Sementara di kawasan Timur Tengah, targetnya adalah Negara Mesir, Arab Saudi dan Uni Arab, tujuannya agar masyarakat di sana bisa lebih terbuka dengan Barat. Kemudian kawasan Asia Tengah tujuannya untuk melemahkan pengaruh Rusia dan Cina dan kerja sama BRICS.
Terkait demonstrasi rusuh dalam beberapa hari ini, Presiden Prabowo Subianto sendiri sebelumnya tidak memungkiri kalau ada gejala-gejala melawan hukum dalam demonstrasi yang terjadi selama beberapa hari belakangan ini di Jakarta dan sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan ia menyebut tidakan tersebut mengarah pada perbuatan makar dan terorisme.
Oleh sebab itu presiden memerintahkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) agar menindak tegas bagi para demonstran yang melakukan perusakan fasilitas umum dan penjarahan. Perintah Prabowo ini merespons demonstrasi di Jakarta dan beberapa daerah lain yang diwarnai kerusukan dan pembakaran gedung-gedung pemerintah.
"Kepada pihak Kepolisian dan TNI, saya perintahkan untuk ambil tindakan yang setegas-tegasnya, terhadap perusakan fasilitas umum, penjarahan rumah individu, dan sentra-sentra ekonomi, sesuai hukum yang berlaku," katanya, Minggu 31 Agustus 2025. Prabowo melanjutkan:
"Kepada seluruh masyarakat, silakan sampaikan aspirasi murni secara damai. Kami pastikan akan didengar, akan dicatat, dan akan kita tindaklanjuti."
Editor:


