Wawancara dengan Ihda Filzafatin yang Lolos Beasiswa BIB Kemenag Sekali Coba

Wawancara dengan Ihda Filzafatin yang Lolos Beasiswa BIB Kemenag Sekali Coba

Jakarta, Arina.id — Dibutuhkan tekad dan keberanian yang kuat untuk menggapai impian. Jalan memang tak selalu lurus tapi dengan usaha maksimal, selalu ada keajaiban pada proses yang dilalui. Ihda Filzafatin ialah satu dari sedikit orang yang berhasil membuktikan bisa meraih cita-cita melanjutkan sekolah melalui beasiswa, peluang yang diidamkan jutaan orang lewat usaha dan kerja keras.

Dalam wawancara bersama Arina.id pada Jumat (28/3/2025), Ihda berbagi kisah inspiratifnya tentang proses seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dari Kementerian Agama tahun 2022. Menariknya, ia berhasil lolos dalam satu kali percobaan—prestasi yang tidak hanya membanggakan dirinya tetapi juga menjadi motivasi bagi banyak anak muda di Indonesia.

Berikut wawancara selengkapnya

Hal apa yang paling penting untuk dipersiapkan sebelum mendaftar BIB?
Menurut saya yang paling utama berkas karena ini langkah paling awal. Pemberkasan mesti sesuai dengan persyaratan yang ada, terutama TOEFL dan TOAFL, lalu bukti-bukti prestasi. Kesiapan mental yang kuat juga sangat dibutuhkan selama proses, utamanya ketika menghadapi hasil akhir. Pada akhirnya, lolos atau tidak lolos sifatnya masih fifty-fifty jadi menyiapkan jiwa yang lapang sangat perlu untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Apa tantangan terberat yang dirasakan Ihda ketika mendaftar BIB?
Secara umum, tantangan paling berat menurut saya saat proses persiapan berkas karena ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi, membutuhkan tenaga dan uang yang tidak sedikit. Kebetulan saat itu saya terlambat mendapatkan informasi tentang beasiswa BIB dan posisi saya sedang di luar kota, jadi harus wira-wiri mengejar waktu untuk mempersiapkan berkasnya sesuai timeline.

Menurut Ihda, kriteria seperti apa yang sebenarnya dicari oleh pihak penyelenggara BIB?
Lebih mengarah ke siswa/santri/mahasiswa/dosen/tenaga pendidik/tenaga kerja yang ada di lingkup Kementerian Agama. Tidak diperuntukkan untuk umum, jadi lebih mengarah ke lingkup Kemenag. Misalnya, beasiswa S1 itu lebih mengarah untuk siswa lulusan Madrasah Aliyah (MA) dan Pesantren, kalau program S2 rata-rata dari kampus keagamaan negeri atau swasta. Untuk S3 juga biasanya dari tenaga pendidik di lingkungan Kemenag entah di MI/MTs/MA atau pengajar di PTKIN/swasta.

Pengetahuan soal wawasan moderasi beragama juga penting karena di tes skolastik ada soal-soal yang dikhususkan untuk membahas hal ini. Tak jarang saat wawancara, pertanyaan soal keagamaan juga bisa muncul. Jadi Kemenag memang mencari calon penerima yang punya pemahaman agama moderat, tidak ekstrem atau radikal.

Selain menjadi awardee (2022), Ihda aktif sebagai mentor yang mendampingi calon pendaftar beasiswa. Dari pengalaman Ihda, kesalahan apa yang paling sering dilakukan oleh pendaftar beasiswa BIB?
Selama menjadi mentor yang mendampingi para pendaftar, kesalahan paling banyak menurut saya soal mindset ingin cepat atau instan. Banyak pendaftar yang tidak mau ribet, jadi terkadang minta esai dari para awardee sebelumnya untuk disalin mentah-mentah bahkan ada yang langsung plagiat. Menurut saya pola seperti itu tidak tepat ya, karena malah akan menyulitkan diri sendiri.

Kurang literasi (membaca) juga masih menjadi masalah. Ketika tidak dekat dengan buku, biasanya akan terlihat jelas dari penggunaan bahasa, pola komunikasi, dan imajinasi ketika menjawab sebuah pertanyaan atau permasalahan yang berupaya dipecahkan.

Apakah mendaftar BIB harus bisa menguasai Bahasa Arab dan Al-Qur’an karena berkaitan dengan Kemenag?
Menurut saya kalau Bahasa Arab tidak wajib, tetapi untuk Al-Qur’an fardu ain karena berada di lingkup Kemenag mau tidak mau berhubungan dengan hal ini. Di dalam tes juga biasanya ada yang menyinggung perihal membaca kitab dan moderasi beragama yang sumbernya diramu dari Al-Qur’an.

Apakah ada tips khusus dari Ihda untuk para pendaftar agar bisa lolos beasiswa BIB?
Langkah pertama tentu dipersiapkan sebaik mungkin mulai dari administrasi sampai kesehatan mental maupun fisik. Kalau bisa, pemberkasan mulai dilakukan sejak jauh hari, jangan mepet deadline. Perbanyak belajar, berdoa, dan berbuat baik karena beasiswa tidak hanya melulu tentang kita pintar, tetapi juga dilihat dari usaha dan faktor keberuntungan.

Selain itu, punya mentor juga amat penting. Upayakan memiliki seseorang yang bisa diajak diskusi, jangan jalan sendiri. Biasanya kalau jalan sendiri, kadang kita merasa sudah benar tapi ternyata masih ada kurangnya. Terakhir, paling vital, tawakal pada Allah Swt apa pun hasil akhirnya.

Banyak informasi yang beredar menyebutkan beasiswa BIB sering terkendala saat proses pencairan, apakah benar?
Iya, beasiswa BIB sering terkendala pada pencairan. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk sampai di rekening awardee memang lebih lama jika dibanding beasiswa LPDP. Namun, tidak perlu khawatir, pembiayaan tetap masuk meski harus sabar.

Secara garis besar, apa yang membedakan antara Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB)?
Sebenarnya tidak begitu banyak perbedaan. LPDP langsung turun dari Kemenkeu, kalau BIB program kolaborasi antara Kementerian Keuangan dan Kementerian Agama. BIB lebih dikhususkan pada anak-anak yang lulusan sekolah, pesantren, atau universitas dalam naungan Kemenag. Bukan hanya dari Islam tapi agama lain juga. Intinya masih menjadi keluarga besar Kemenag.

Di mana bisa melihat informasi seputar beasiswa BIB?
Bisa terus update website Kemenag https://beasiswa.kemenag.go.id lalu beberapa akun Instagram seperti @puspenma.kemenag_official, @awardeebib_indonesia. Kalau ingin menuju ke kampus tujuan, saran saya juga follow akun awardee BIB di setiap kampus, misalnya @cakrawala_uinws, @awardeebib_uinsatu, @awardeebib_uinmataram, dan akun lainnya. Silakan update informasinya di akun-akun tersebut.

Biografi Singkat Ihda Filzafatin
Ihda Filzafatin menempuh pendidikan S1 dan S2 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Saat ini aktif menjadi dosen di Pusat Bahasa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan  menjadi content creator. Ia juga tergabung dalam tim penyusun kurikulum untuk pembelajaran keislaman juga Bahasa Arab tingkat kids dan teens.

Beberapa prestasi yang pernah diraih: Wisudawan terbaik non akademik Pascasarjana UIN Malang, Winner Miss Hijab Intelegensia Indonesia 2023, Winner Duta Baznas Persahabatan Jawa Timur 2023, Winner Miss Hijab Intelegensia Jawa Timur 2023, The 3rd winner of OASE PTKI/PTKIN Se Indonesia (Science Olympiad and Research at Islamic Religious Colleges throughout Indonesia), Wisudawan terbaik dan berprestasi MAM M02 Paciran, dan lain sebagainya. Ihda dapat ditemui di instagaram @ihdafilzafat.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo