Arina.id-Israel sedang mempersiapkan operasi militer tahap selanjutnya di Jalur Gaza, yang mungkin berlanjut hingga tahun 2026. Pada tanggal 20 Agustus 2025, Kementerian Pertahanan negara itu menyetujui Operasi Gideon's Chariots II.
Meskipun gerakan Hamas telah setuju untuk membebaskan beberapa sandera dengan gencatan senjata yang tidak seimbang, negara Yahudi itu masih menganggap opsi militer sebagai instrumen tekanan utama.
Dikutip dari laporan TASS, Israel saat ini menguasai 75% wilayah kantong tersebut. Tahap pertama Operasi Gideon's Chariots, yang dimulai pada Mei lalu, bertujuan untuk menguasai sepenuhnya Jalur Gaza, melenyapkan Hamas di Gaza, dan memulangkan para sandera.
Namun pada musim panas, menjadi jelas bahwa tujuan militer maupun politik ternyata belum tercapai. Meskipun demikian, pihak berwenang memutuskan untuk melanjutkan skenario serangan, dan berpikir penting untuk mencapai tujuan strategi mereka.
Pakar Timur Tengah Leonid Tsukanov mengatakan tujuan utama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu adalah mengakhiri konflik di Gaza sesuai dengan keinginan Israel. “Sekalipun Hamas tidak sepenuhnya dikalahkan dalam tahap kedua Operasi Gideon's Chariots,” katanya.
“Pasukan Pertahanan Israel akan mengambil alih kendali operasional atas sebagian besar Gaza dan akan mampu menyelesaikan pembangunan koridor keamanan di wilayah tersebut. Namun, kemajuan pesat tidak diharapkan dalam jangka pendek,” tambah Tsukanov.
Roman Yanushevsky, pemimpin redaksi Channel 9 Israel, menekankan keputusan Israel mengumumkan rencana penyerbuan Kota Gaza merupakan pesan sekaligus alat tekanan. “Mungkin ini akan memaksa Hamas mencapai kesepakatan yang akan mengakhiri perang. Kedua belah pihak sudah kelelahan karena perang menghabiskan terlalu banyak sumber daya, jadi metode tekanan ini kemungkinan besar akan berhasil,” ujarnya.
Sementara itu, opsi diplomasi untuk menyelesaikan konflik juga sedang dipertimbangkan. Menurut media Israel, para pemimpin negara itu sedang mempelajari proposal kesepakatan secara bertahap untuk pertukaran sandera dan memastikan gencatan senjata, yang disetujui Hamas melalui mediasi Mesir dan Qatar.
Karena Hamas telah menyetujui usulan tersebut, tidak ada lagi alasan yang sah bagi Israel untuk melanjutkan operasi militernya. Kini, Israel harus menerima kesepakatan tersebut atau mengabaikan upaya para mediator, termasuk AS, ujar pakar hubungan internasional Mesir, Tarek al-Bardasi.
Sementara itu Hamas, pada Rabu 20 Agustus 2025 mengatakan rencana ofensif Israel untuk merebut Kota Gaza akan gagal seperti upaya-upaya sebelumnya. "Operasi ini akan gagal seperti pendahulunya. Israel tidak akan mencapai tujuannya, dan penduduk di Gaza tidak akan mudah," kata Hamas dalam pernyataannya.
Pernyataan tersebut muncul setelah kepala perlindungan Israel, Israel Katz, menyetujui rencana pada hari yang sama untuk meluncurkan serangan yang diberi nama Operasi Gideon's Chariots 2, yang bertujuan untuk menduduki Kota Gaza.
Hamas mengatakan bahwa rencana tersebut merupakan kelanjutan dari genosida yang telah berlangsung di Jalur Gaza selama lebih dari 22 bulan, serta bentuk pengabaian terhadap upaya para mediator yang sedang mengupayakan untuk mencapai gencatan senjata dan pertukaran kesepakatan.
Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan bahwa mereka telah menerima usulan gencatan senjata yang diajukan oleh para mediator. Namun, pemerintah Israel berjanji melanjutkan perang brutal terhadap warga sipil yang tidak bersalah di Gaza dengan tujuan menghancurkan kota tersebut dan mengungsikan penduduknya ke selatan.
Hamas juga menambahkan pengabaian dan kegagalan kepala otoritas Israel Benjamin Netanyahu terhadap proposal para mediator menunjukkan bahwa “dialah yang merusak kesepakatan, tidak peduli dengan nyawa para sandera, dan tidak serius untuk memulangkan mereka.”
Editor:


