Arina.id - Keamanan anak-anak diruang digital sekarang menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Ini karena akses-akses informasi yang gampang sekali melalui berbagai platform digital, termasuk di dalamnya game-game online.
Oleh sebab itu, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan perlindungan anak di ruang digital menjadi prioritas pemerintah. Apalagi angka 60 persen dari 220 juta pengguna internet di Indonesia merupakan generasi muda, bukanlah angka yang kecil.
"Jadi kalau kita menjaga 60 persen ini, maka keseluruhan ekosistem digitalnya akan baik. Kita yakin 60 persen ini bisa kita arahkan untuk menggunakan internet yang wajar karena yang penting dari internet aman ini adalah anak-anak muda.," katanya, dikutip dari Antara, Jumat 21 November 2025.
Pemerintah, katanya, terus menjalin kolaborasi dengan pelaku industri game untuk menciptakan ekosistem game tanah air yang ramah anak. "Karena kalau kepercayaan publik hilang maka industri game-nya juga akan terpukul," ujarnya.
Menurut dia, pembenahan isi atau konten di internet harus dilakukan bersama, baik di media sosial, game, maupun platform digital lain. Jika tidak, orang tua akan semakin tidak percaya dan memilih menjauhkan anak dari internet, padahal teknologi tetap perlu dikenalkan kepada mereka secara aman.
"Kita ingin anak-anak memahami teknologi tapi saat bersamaan aman," tuturnya.
Meutya menjelaskan berbagai negara kini mengambil langkah tegas untuk melindungi anak di ranah digital. Misalnya Australia yang sudah membatasi akses media sosial bagi anak hingga berusia 16 tahun.
Indonesia sendiri telah menetapkan aturan terkait penundaan akses media sosial berdasarkan profil risiko melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP Tunas.
Aturan tersebut mengatur anak berusia 13 tahun hanya bisa mengakses platform dengan risiko rendah, sementara platform berisiko tinggi baru bisa diakses sejak usia 18 tahun.
"PP Tunas secara implisit juga menegaskan bahwa orang tua harus melakukan pendampingan karena kita tidak mau anak-anak hilang sama sekali dengan kemajuan teknologi," tutur Meutya.
Editor:


