Jakarta, Arina.id—Bank-bank sentral dunia masih ramai-ramai menambah cadangan emas di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, total pembelian emas bersih yang dilaporkan bank sentral global mencapai 170 ton.
Dikutip dari Kitco News, Jumat (9/10/2026), Senior Research Lead Asia Pasifik World Gold Council (WGC) Marissa Salim mengatakan, pembelian emas bank sentral pada Agustus 2026 mencapai 39 ton. China, Uzbekistan, dan Polandia menjadi negara yang kembali menambah cadangan emas dalam jumlah besar.
“Bank-bank sentral global tetap konsisten dalam mengakumulasi emas pada bulan Agustus ini, dengan total pembelian bersih yang dilaporkan mencapai 39 ton,” tulis Salim dalam laporan terbaru WGC.
Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong pembelian tersebut. Meski demikian, WGC menilai masih diperlukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui faktor utama yang membuat bank sentral terus menambah emas.
Polandia menjadi pembeli terbesar sepanjang tahun berjalan dengan total 98 ton hingga Agustus 2026. Pada bulan tersebut, Bank Nasional Polandia membeli 8 ton emas sehingga total cadangannya mencapai 648 ton.
Jumlah itu mendekati target kepemilikan emas Polandia sebesar 700 ton.
“Polandia masih memuncaki daftar pembelian emas sepanjang tahun berjalan dengan total pembelian 98 ton sejauh ini, namun kami melihat China mulai mengejar ketertinggalan,” tulis Salim.
China berada di posisi kedua dengan pembelian 80 ton sepanjang tahun berjalan. Pada Agustus saja, People’s Bank of China (PBOC) menambah 20 ton emas, melanjutkan tren pembelian selama 22 bulan berturut-turut.
Cadangan emas China kini mencapai sekitar 2.387 ton atau 9 persen dari total cadangan asetnya.
Uzbekistan juga membeli 8 ton emas pada Agustus. Total pembeliannya sepanjang tahun ini mendekati 50 ton, dengan kepemilikan emas mencapai 439 ton atau sekitar 90 persen dari cadangan aset negara tersebut.
Sementara itu, Kazakhstan menambah 7 ton emas pada Agustus. Total pembeliannya sepanjang tahun berjalan mendekati 36 ton, dengan kepemilikan emas mencapai 377 ton.
Bank Sentral Ceko turut membeli 2 ton emas pada Agustus dan telah melakukan pembelian setiap bulan selama 42 bulan berturut-turut. Sepanjang 2026, pembeliannya mencapai 14 ton sehingga total cadangannya menjadi sekitar 86 ton.
Turki juga kembali membeli emas setelah mencatat penjualan bersih selama tiga bulan berturut-turut. Adapun Bolivia dan Ghana masing-masing membeli sekitar 1 ton emas pada Agustus.
Selain menambah jumlah cadangan, sejumlah bank sentral juga memindahkan emas fisik ke lokasi penyimpanan lain.
Bank sentral Belanda, De Nederlandsche Bank (DNB), misalnya, mengumumkan pemindahan 86 ton emas dari New York dan Ottawa ke London pada 2 September. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan likuiditas dan memudahkan transaksi emas.
Bank Sentral Prancis juga melakukan langkah serupa pada 2025 untuk memperbarui kemampuan perdagangan cadangan emasnya.
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa bank sentral tidak hanya memperhatikan jumlah emas yang dimiliki, tetapi juga lokasi penyimpanan dan kemudahan mengaksesnya ketika dibutuhkan.
Secara keseluruhan, bank sentral global telah melaporkan pembelian bersih 170 ton emas sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Meski ketidakpastian ekonomi dan geopolitik ikut menjadi pendorong, WGC menyatakan analisis lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan faktor utama di balik tren tersebut.
Editor:


